Makna Ramadhan di Hari Ketiga


Kalau kubilang hari ini keji, maka betapa jahatnya aku terhadap Tuhan. Memang benar, bahwasannya Alhamdulillah semalam aku sahur dengan segayung air. Lantas apa? Tak ada. Hari ini terlalu banyak hal bisa kupelajari, intelejensi seseorang kupikir akan membuat selera dan gaya humor seseorang berbeda, nyatanya itu tak kujumpai di tempat ini. Senang bertemu dengan anak-anak yang bersikap terbuka, meski kadang membuat kepala menggeleng juga.
Namun dari segala bentuk hal teraneh yang terjadi hari ini, kami seluruh tim KKN PPL 2013 berkumpul. Ika, mahasiswi UMP menjadi trending topic di antara mahasiswa KKN PPL UNY. Tak tahu bagian dari dirinya yang mana yang membuat cowok-cowok itu tertarik, aku bahkan belum mengenalnya secara jauh. Yang jadi bulan-bulanan ini adalah Fahmi, anak Fisika asli asal Magelang yang terlibat gossip dengan si Ika. Namun anggap saja, Ika ini uga disukai oleh, anggap saja Anggun (dia cowok). Yeps, cinta segitiga yang masih buram dan abu-abu. Aku tak bisa menebak dengan past, apakah ini hanya acting dengan beberapa scenario selama KKN atau yang lainnya. Entahlah, aku masih juga heran, mereka berebut kesempatan untuk mau berjabat tangan dengan Ika. Sampai sejauh ini, aku belum mendapatkan something extraordinary dari dirinya. Entahlah, mungkin standar ku yang terlalu tinggi, atau kriteriaku yang sangat jauh berbeda dengan cowok kebanyakan. I’am normal? I don’t know. Aku suka dengan Maudy Ayunda dan Laura Basuki. Mungkin juga mencintainya -_- #khayalan liar, abaikan.
Tetap dengan berbagai benak pertanyaan di kepala, aku masih juga menerka-nerka, apa yang mereka lihat? Apa yang mereka pandang? Entahlah, yang aku tahu, aku tak ikut latah jatuh cinta. Hari terus bergulir dan begitulah serupa asa yang terembus, seperti kabut kemudian menghilang. Sore ini sebagai aksi balas dendam dari harga ayam kriuk ku yang setinggi langit, lebih dari dua puluh ribu, hari ini kubayar lunas dengan makan gratis di Masjid Agung. Ada satu hal yang menarik terjadi di sini, di hadapanku ada dua orang anak hitam kurus, entahlah bukan semacam orang Indonesia, mungkin keturunan India. Kalau dilihat dari wajah mereka berdua, sepertinya kakak adik (ini hanya anggapanku saja, abaikan kalau tak penting). Kupandangi dia, si kecil mungkin entahlah umurnya antara 6 dan 7 tahun kakak beradik itu. Si kakak mendapatkan telor dadar yan lebih besar, sedangkan adiknya mendapatkan yang lebih kecil. Aku amati terus keduanya. Sang kakak dengan tersenyum, mengganti telur miliknya dan diberikan kepada sang adik, mereka bertukar telur. Anak seusia tujuh tahun itu? Luar biasa. Kupandangi diri ini dengan malu, betapa anak sekecil itu sudah tahu bagaimana bersikap dewasa, mengayomi, mengalah, dan rela berkorban. Aku tersenyum mendapati mereka berdua dengan lahap menghabiskan nasi dibungkus kertas minyak dan Koran itu.
Akan tetapi, bukan sekedar itu saja aku memaknai puasa. Kali ini aku tarawih di masjid sekolah. Disampaikan oleh ustadnya bahwa segala bentuk ibadah kita di bulan puasa ini sesungguhnya merupakan wujud syukur terhadap Tuhan. Yes….. dan sesuatu yang menarik terjadi. Seusai salat arawih, belau melambaikan uang sebesar lima puuh ribu rupiah, uang tersebut dialokasikan untuk membeli makanan, bagi mereka yang mengikuti tadarus Al’Quran. Dalam hati aku tertawa, bahkan untuk membuat ibadah menjadi lebih menarik, seseorang harus membelinya dengan materi 
Boarding House, 10:55 PM 12 Juli 2013,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s