Puasa Hari Kedua


Ini hari aku melajukan kaki dari kemarin-kemarin hari. Rumah-kost Purworejo-rumah-bermalam di Jogja-paginya KRS bertemu dengan Pembimbing Akademik-lantas siangnya harus kembali ke Purworejo untuk mengurus KKN PPL yang keji itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua ketika aku masih bertengger seperti binatang kelaparan di dekat Bundaran Masjid Kampus UGM. Sedang di Pasar Gamping jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat. Tak apa sudahlah, memang ini pengorbanan, lantas apa? Bukan itu, ini hari aku tengah puasa dan harus bertumpuk-tumpuk di keramaian bus dengan jumlah penumpang yang semacam dipaksakan dengan sepaksa-paksanya. Keji.
Hujan masih mengguyur kota yang kecil ini, Purworejo. Dan semakin terlihat kecil dengan hujan yang membikin basah apapun itu. Lagi-lagi aku seperti kucing tersiram air, mengkerut, tak kuasa mengibaskan bulu-bulu. Haha saya tak suka drama. Namun sebenarnya dramanya belum sampai pada titik ini. Pukul lima kurang tak kutemui sesiapa di kost. Aku sendiri, aku jadi teringat dengan Home Alone, mungkin nanti aka nada seseorang datang hendak menculikku dan merampok rumah. Haha fantasiku terlalu liar bukan. Baiklah.
Namun bukan itu juga kemalangannya, maka kuputuskan untuk hendak salat Ashar yang memang sudah terlalu lewat itu. Tak apa, terlambat asal dilakukan. Selepas itu, sesuatu terjadi, kalau Raditya Dika yang menceritakan tentu jauh lebih berlebihan, ya ada seseorang mengetuk pintu dari luar, kutengok tak ada sesiapa, tak ada makhluknya, tak ada wujudnya. Sekali lagi keji. Ini sekali aku pertama dalam malam menginap di bangunan lantai dua yang cukup sepi tak ada riuh. Hanya sesekali kudengar seseorang mengguyur motor, mungkin karena becek terciprat kekotoran pada hujan tadi. Jadi apa? Kulihat status beberapa orang teman yang dengan senang hati dan suka cita mengabarkan bahwa adzan telah berkumandang dan waktu berbuka telah tiba. Aiiihh senangnya, dengan semangat 45 aku mulai berjingkat-jingkat menghindari tempat becek, menuju toko pak kost. Berharap bisa membeli air mineral atau apalah itu, semacam roti sebagai menu awal berbuka puasa. Dan eng ing eng, kalau ini fiksi tentu sudah sampai pada klimaks, toko Bapak terkunci, ternyata tak sampai malam saudara-saudara. Tapi anehnya aku tak kecewa sama sekali, aku bahkan dengan tenang kembali ke kamar yang terletak di belakang. Sangat elegan. Alih-alih menikmati berbuka puasa, aku malah membuka laptop dan mulai membuka Ms Word. Aku catatkan semua ini dengan bibir cengar-cengir.. tiba-tiba aku langsung kenyang.
Boarding House, 5:54 PM 11 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s