Belajar Survive dari Bunga Blustru


IMG_5075 - Copy

bunga blustru yang tengah mekar

Hari ini aku tak ingin terlalu banyak curhat tentang kegiatan yang hanya-hanya itu saja, aku bosan mengoceh tentang aku sedang melakukan ini atau hari ini aku begini dan begitu. Padahal aku mulai memahami bahwa menjalani hari itu bukan sekedar apa hari ini yang dilakukan, namun bagaimana memaknai apa yang hari ini dilakukan dan didapatkan. Mungkin dalam ilmu linguistic kita akan dihadapkan pada ilmu semiotic, ya setidaknya semacam itu, dalam hidup pun kita wajib untuk mempelajari semiotic hidup dan kehidupan.

Baiklah, tadi pagi aku melihat beberapa bunga blustru berwarna kuning mekar dengan indah. Kalian tahu blustru? Blustru adalah sejenis sayuran mungkin satu spesies dengan gambas, hanya saja memiliki kulit dengan tekstur halus. Kalau masalah fisik, sayuran ini lebih mirip dengan pare ular, berbintik-bintik gitu. Oke, tapi saya tidak akan membahas masalah macam apa ini tanaman, melainkan habit atau kebiasaan dari bunga blustru yang menurut hemat saya pikirku aneh.

Kalian tahu, bahwa bunga blustru yang mekar pagi ini adalah bunga blustru yang sama dengan bunga blustru yang mekar kemarin pagi dan sama juga dengan bunga blustru yang layu kemarin siang hingga sore. Secara mudah, aku akan menjelaskan bahwa bunga blustru itu akan mekar ketika pagi hari dan melayukan diri ketika siang hari di panas terik.

Lalu apa gunanya aku berbicara berbusa-busa mengenai hal ini? Mungkin bagi kalian ini hanya fenomena alam atau tanaman yang klasik dan tak menarik untuk dibahas. Namun bagiku, karakteristik bunga ini perlu dicontoh oleh orang yang mempunyai kelebihan juga kelemahan. Mengapa aku katakan demikian?

Manusia hendaknya mampu menempatkan diri, manusia hendaknya memiliki strategi dalam hidup ini. Bunga blusru bertahan hidup dengan jalan melayukan bunganya di panas terik siang. Bagiku ini bermakna, bahwa seseorang ada kalanya menunjukkan kelemahannya atau menjadi terlihat lemah. Tak selamanya seserang itu harus terlihat kuat, karena selalu terlihat kuat bisa jadi akan mematikan diri dan kehidupannya. Seseorang ada kalanya merendah dan bepikir untuk seolah-olah tak memiliki daya. Ini adalah strategi hidup. Bayangkan jika seseorang selalu merasa kuat, padahal dia tengah berhadapan pada satu kekuatan yang jauh lebih besar darinya? Maka apa? Arogansi itu mungkin akan membuatnya mati.kadang kita perlu mengalah pada seseorang, mengalah pada takdir, namun yang pasti manusia memiliki waktunya sendiri untuk menunjukkan kekuatan. Manusia memiliki momentnya sendiri untuk menunjukkan segala bentuk eksistensi-nya.

Sekali lagi catatan ini mungkin tak penting, yang penting adalah seseorang harus memiliki strategi untuk mempertahankan hidupnya, tak peduli bagaimana itu dilakukan. Tak selamanya menunjukkan kekuatan itu menguntungkan, ada kalanya kita justru perlu untuk lemah pada situasi dan kondisi yang tepat, karena siapa tahu, kelemahan itu adalah kekuatan kita yang terpendam.

sekali lagi jangan lupa untuk join bersama kami, supaya cepat kaya🙂
http://www.pedeaja.com/index.php

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s