Perjalanan 30 April 2013


Segala bentuk cerita hari ini diawali dengan sebuah kuliah umum tentang pembelajaran mikro. Cukup disayangkan kuliah penting dengan publikasi yang minim. H-1 banyak teman yang berbisik-bisik tetangga, mengaku tak mengetahui agenda terselubung apa yang akan dilaksanakan di pagi 30 April. Ya semua serba mendadak, semua dalam keadaan kalang kabut. Sedang aku? Aku bersama kelompok, anggaplah seseorang yang berada pada tempat yang diuntungkan, penanggungjawab kegiatan ini atas izin Tuhan, secara kebetulan adalah DPL kelompok kami. Segala bentuk informasi yang simpang siur seperti benang kusut bisa diurai jauh-jauh hari sebelum kelompok lain hanya bisa terbengong berbisik-bisik tetangga. Jam tujuh tiga puluh menit, dengan tergesa karena mata yang memerah seperti mata sapi, lantaran semalaman tak tidur, aku berjingkat-jingkat menyemprotkan parfum yang isinya sudah sangat memprihatinkan. Sedang MP3, persetan dengan barang malang itu, kutinggalkan tergeletak begitu saja, setelah sebelumnya aku disibukkan dnegan kalung bulan bintang yang kata teman-teman cukup blink-blink. Aku tak ingin terlampau menjadi pusat operhatian, dengan kalung yang menyala memancarkan sinar menyilaukan, serta kemeja putih, celana hitam, dan juga sepatu pantofel ang aduhai. Aku benci segala bentuk keformalan. Tak ada teat dalam kamus manusia Indonesia. Tujuh tiga puluh menit. Betapa jalang semua itu berlalu. Waktu bergerak dengan cukup liar, semenit dua menit, tiga menit. Aku seperti orang bodh yang mulai menghitung waktu. Aku juga seperti orang bodoh yang menghitung anggotaku berulang kali, kurang dua, kurang satu, ah kemana mereka. Jam karet jam karet semakin dulur-ulur semakin kenyal, semakin panjang. Ahh… tetot… kami memulai pada pukul delapan pagi, setelah acara kocok mengocok dilakukan. Haish, tak elok bagi yang dikocok-kocok, keluar satu nama tak siap, keluar nama kedua tak ada personil, hilang sudah kesabaran, hingga satu hal perlu digarisbawahi di sini, harus ada reformasi besar-besaan. Kelompok kami memulai, dengan ya aku katakana saja sukses, sukses sebagai pembuka, sukses pula bagi-bagi makanan di belakang. Massa seperti para demonstan bayaran, perut mereka saling mengerucuk. Ativitas memang keji dan kejam, kami digiring pukul setengah delapan, dan dibiarkan kelaparan kehausan sampai jam dua belas lebih. Haha… alhasil kuliah hari ini adalah kuliah mengomel. Aku juga ngantuk berat, berkali-kali ini kepala terantuk-antuk kursi di depan saya. Seharusnya aku digelari sebuah dipan atau kasur empuk sehingga aku bisa melepas lelah. Ta ada air mineral, tak ada snack. Sekali lagi, kejam.. haha celetuk salah satu mahasiswa saah pun menarik, katanya bahkan seorang pelajar pun ada istirahat pertama di jam Sembilan kurang atau lebih sedikit😀 Agenda di atas memang terlalu absurd untuk dibicarakan, namun hal absurd kedua sebenarnya terjadi sepulang dari itu. Perutku yang sudah tak bisa tahan-tahan lagi akan lapar, kemudian mengantarku ke sebuah tukang burjo langganan dengan tempat yang sempit memanjang. Di sana kudapati dua orang mahasiswa mungkin, yang jelas anak teknik, tengah berbincang-bincang dengan asyiknya, layaknya dua orang homo. *eeh… Mereka memiliki panggilan yang cukup aneh untuk orang normal sepertiku, ya setidaknya aku mengaku normal. Mereka saling memangggil pak, bayangkan. Untuk lebih menggambarkan kejadian yang riil, maka coba aku ilustrasikan pada percakapan ini. M1: pak kenapa kamu kuliah di elektro? M2: ya sebenarnya sih bukan gitu M1: bukan gitu gimana pak? M2: ya masalahnya gini pak, aku dulu tuh maunya di informatika M1: blab la blab la bla…. (dan mereka pun terus saja berbincang) Aku seperti manusia asing dari planet astral yang tak tahu apa yang mereka perbincangkan. Mereka mulai membincangkan bagaimana kalau lelaki satu itu dapat istri orang Kalimantan, dan mereka tertawa terkikik tak jelas, lantas, yang satu menimpali lagi, santai saja karena dia anak gubernur. Lelaki yang diolok-olok dengan anak gubernur itu menjawab dengan sangat cerdas, hah apaan jadi gubernur kan cumin sekali jabatan aja paling lama dua kali periode, setelah itu udah gak ada kebanggaan lagi, dan mereka kembali terikik bersama. Aku sendiri semakin sesak, semakin mencaci maki keberadaanku. Tempat macam apa ini yang sedang aku kuncingi pak? Hari ini memang hari paling sibuk sedunia. Aku sudah katakan kalau jam satu aku akan bergegas ke perpustakaan pusat kampus, aku berjanji dengan seseorang di depan koperasi mahasiswa. Sebuah tempat janjian yang absurd juga. Dan kami langsung bergegas ke tempat itu, tempat dimana aku tidak pernah menginjakkan kaki lagi di sana, sejak semester satu akhir. Kami yang sudah kepayahan dan lelah, harus mendaki tangga demi tangga menuju lantai tiga benar-benar sebuah perjuangan. Akan tetapi, peruangan sebenarnya bukan itu. Kami di sana harus berdiri bego di antara kumpulan skripsi tesis, dan disertasi. Kami harus menganalisis tesis dan memilahnya berdasarkan metode yang digunakan. Eksperimen, PTK, pengembangan, ekspose facto, korelasional, diskriptif kualitatif, analisis konten. Selain itu kami bertujuh kalau tidak slaah hitung, masih juga meributkan apakah survey masuk hitungan atau tidak, kami mendebat dan kami marah-marah sendiri. Sedang aku sendiri bergegas menuju rak, kucri semua judul yang menyuratkan frasa Bahasa Indonesia. Haha tak peduli apapun itu di dalamnya, kudapatkan enam yang tebal-tebal, sungguh mampus aku harus melahap semua itu. Payahnya, itu belum seberapa, kami harus mencari empat belas. Tak mengapa kalau hanya mencari judul saja, sedangkan kami harus meringkas judul, nama, tahun prodi, latar belakang masalah, rumusan masalah, metode penelitian, metode pegambulan data, serta teknik analisis data yang digunakan. Kami selalu menatap dengan melotot setiap kali mendapati hal yang harus kami tulis banyak-banyak. Tak jarang temanku, sebut saja Tj, nama sebearnya mengamuk-ngamuk gara-gara banyak ditanyai. Di meja kami segala macam tesis berserakan, terkapar, dan juga tercerai berai. Aku yakin kalau tesis-tesis itu bisa berbicara, maka dia akan meraung-raung merasa diperlakukan dengan keji dan kejam. Aku semakin ingin tertawa keras-keras ketika rombongan mahasiswa pasca sarjana lain universitas memasuki gedung untuk mencari refernsi. Aku yakin apa yang berada di dalam pikiran mereka. Mereka pasti sangat ingin membunuh kami, ketika semua tesis dalam rungan itu kami monopoli. Beberapa di antara mereka melirik dengan cemburu, dan pandangan ingin mencabil-cabik, kemudian mencincang-cincang dagng gempal kami untuk dijadikan sosis. Beberapa kali beberapa di antara mereka mendekati kami dengan kesal. Bayangkan saja puluhan tesis, yang seharusnya bisa mereka manfaatkan untuk mencri bahan referensi, ternyata sedang kami erami. Yang tak kuat gengsi, akhirnya mengalah dan memohon-mohon dengan sangat agar bisa meminjam tesis-tesis tersebut sebentar saja, apdahal usia mereka mungkin sama dengan usia-usia guru kami di SMA dulu. Haha betapa kami manusia-manusia tanpa dosa. Etah mengapa hari ini banyak sekali orang tertawa di atas penderitaan orang lain. Pukul lima, segala bentuk berlalu, aku berhasil merampungkan lima buah tesis, yang bikin tanganku ingin dilaundrykan, kemudian direbonding. Sampai di kost, lelah itu sudah seperti ingin menggulungku saja. Maka kuteparkan tubuh, sampai aku ak menyadari bahwa hari sudah malam. Setengah Sembilan aku ada janjian degan pemimpin umum Kreativa. Aku harus melakukan reportase untuk acara macapatan demi untuk mengawal prosesi deklarasi hari kelahiran fakultas. Usai itu, aku meang sudah benar-benar lelah sebenarnya, tapi aku tak mau disindir sebagai jurnalis yang tak professional, maka kupaksakan juga untuk menulis berita malam itu juga. Lepas itu sambil sms an dengan seorang anak Jawa Timur, aku merasa mendadak semakin galau, lagu-lagu Peterpan menjadi teman, lagu-lagu soundtrack Realita Cinta Rock and Roll mengalun mengejekku, aku butuh tisu, aku selalu merasa melankolia mengingat kenangan. Temanku memang jahanan dia membincang masa lalu, aku tak mau lagi berkirim pesan dengannya, aku gencatan senjata, mogok tak peduli lagi dengan sms nya yang bilang bahwa perkataanku irit. Bedebah, aku galau, bahkan sampai selarut ini aku masih makan dengan kering kacang dan juga teri. Aku sudah berkomitmen untuk menuliskan cerita, maka jadilah catatan ini menjadi catatan yang sangat tidak penting sebenarnya. Tapi aku percaya, bahwa suatu ketika, aku akan tersenyum mngkonsumsi kelabilanku sendiri. Aku mulai lelah mengetik, aku juga mulai mengantuk, tapi sehabis ini aku akan mengecek rumah blogku dulu, terlalu lama aku ak berkunjung. Aku harus memastikan bahwa rumah itu tidak reyot, aku harus membersihkan sarang laba-laba, dan mungkin juga gelandangan yang tiduran di emper.. mari.. selamat malam kawan-kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s