Realitas Vs Imajinasi dalam Hidupku


Saya adalah orang yang sangat sentimentil terhadap film dan musik. Entah mengapa keduanya bisa mempermainkan emosi saya sedemikian rupa. Kalau kata labil memang ada, maka saya yakin bahwa labil adalah kata sifat yang paling bisa menggambarkan keadaan ini. Ya.. bagaimana tidak, misal, ketika saya sedang bepergian memasang headset dan mendengarkan lagu lewat MP3. Haha perasaan ini begitu random, saya bisa saja jejingkrakan ketika mendengarkan Ya Sudahlah milik Bondan Fade to Black, namun bisa menjadi begitu murung ketika mendengarkan lagu Butiran Debu milik Rumors. Saya bisa saja cekakak cekikik dan ikut bernyanyi dengan riang dan jalang ketika mendengarkan lagu dangdut berjudul Cinta Engkau dan Dia, namun bisa mendadak terdiam hening ketika mendengarkan lagu Diari Depresiku milik Last Child. Memang ini cukup aneh, tapi nyata.
Semua yang saya tonton, smeua yang saya dengar, mungkin hanyalah hasil dan buah karya imajinasi tingkat tinggi seseorang. namun setiap kali menonton, setiap kali mendengar, jujur jiwa saya ikut terlibat dalam suasana itu. Kadang berbeda orang yang sentimen karena sekedar menonton, dengan orang yang emosional karena dirinya merasa benar-benar bagian dari hal tersebut. Keterlibatan itulah yang kadang menimbulkan reaksi-reaksi emosional. Saya kadang merasa tidak bisa untuk membedakan mana yang realitas dan mana yang fiis, saya mencampurkan keduanya. Saya berdiri di antara dua ting tersebut. Tak heran, kalau ada yang berkomentar bahwa kisah hidup saya itu seperti drama. Ya hidup memang hanyalah sebuah permainan teater yang nyata.
Keberadaan posisi saya yang sangat tidak jelas, kaang membuat saya butuh diyakinkan, bahwa saya berada di alam nyata, atau bahwa saya sedang berada dalam imajinasi saya sendiri. Bahkan ketika menulis, semuanya jauh mejadi lebih kabur. Menulis adalah media paling cocok untuk mencampuradukkan emosi. Bahkan syaa kadang merasa gamang apakah yang saya tulis ini rekaan atau saya menuliskan kisah hidup dan kenyataan saya. Kalau memang itu rekaan mengapa saya merasa begitu sangat dekat, namun kalau itu kenyataan bahkan saya tidak pernah sekalipun mengalaminya.
Nah semakin kabur dan membingungkan bukan? Sama. Saya bahkan sekarang tidak mengerti apakah yang saya tuliskan ini benar-benar kenyataan ataukah hanya ilusi daya tipu pikiran dan emosi? Sudah ah saya mau makan dulu.
25 Jan 2013 3:43 am.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s