Kepada Seorang H


Ya Allah, Ya Tuhanku, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba tahu ini salah, namun hamba bersyukur karena telah dipertemukan dengan Didit. Aku kangen dia ya Allah.
Tersenyum, itulah yang bisa aku lakukan ketika membaca pesan pendek menjelang Maghrib 4 November 2012. Dulu, jauh-jauh dulu sebelum aku menjadi manusia sekarang ini.
Ya Allah, bertemu dengannya merupakan anugerah. Aku ini orang yang lemah, banyak yang memandang aku dengan sebelah mata, namun semenjak kehadirannya, dia yang sudi mencintaiku apa adanya, mengubah kesunyian hati aku, yang selama ini haus akan melodi yang hangat dan seindah dirinya.
Hati semakin tergetar, ketika sebuah pesan lagi masuk. Udah ngomong ama Allah semenjak pertama kita bertemu  meski tak bisa memilikinya, ijinkan hamba tuk sekedar memberikan rasa sayang ini (ini dulu doaku sebelum menjadi pacar kamu)
Habis bertengkar kemarin, aku jadi begitu kangen ama kamu, gak pengen jauh-jauh dari kamu.
SEMAKIN GAK INGIN KEHILANGAN KAMU
Dulu, terlalu dulu, ketika kebersamaan di antara kami masih sangat lekat, ketika rasa sayang adalah sesuatu yang indah, ketika cinta adalah saling memiliki. Entah mungkin aku yang tak bisa kembali liar, mungkin aku yang tak bisa kembali jalang. Setiap membuka inbox, setiap kali membaca pesan masuk, yang terasakan hanya sakit. Entahlah, namun aku selalu menginginkan rasa sakit itu hadir. Bertengkar, bertengkar, berebut untuk meminta maaf, berebut untuk mengakui kesalahan, sama-sama terdiam, sama-sama merenung. Aku rindu saat-saat itu. Entah mengapa moment-moment semacam ini semakin menjauh saja. atau aku yang terlalu berharap untuk kembali?
Orang bilang aku tak bisa melanjutkan hidup. Tidak juga. Aku tahu bagaimana aku harus menyusuri kehidupan sekarang atau mungkin nanti. Harapan yang terus tumbuh, disertai keinginan yang kuat untuk merelakan kepergian. Kita masih bisa terus bersama dan membangun komunikasi yang baik kok, itu janjinya, yang sampai saat ini masih ku pegang. Namun belakangan, yang kurasakan justru sebaliknya, menjauh dan semakin menjauh. Kadang aku merindukan sebuah pertemuan, sekedar untuk melepas rindu dan sudah. Beri saja aku waktu semalam untuk sekedar melengkapi rasa sakit ini.
Memberikan rasa sayang, tak ingin kehilangan, ingin terus bersama. Kadang menyesal juga mendengar semua kata itu terucapkan. Kalau saja waktu bisa berputar, aku lebih memilih untuk mencari celah agar Tuhan tak mempertemukan kami. Gamo, aku takut dengan makhluk bernama cinta. Aku takut merasakan sakit. Aku bahkan tak ingin jatuh cinta. Kadang aku berharap, hati ini mati rasa, tak bisa lagi merasakan. Tapi itu tak mungkin.
Semakin gak ingin kehilangan kamu. Entah mengapa terlalu sakit membaca sederet kalimat yang cuman sepenggal itu. Bukan karena dia yang mengucapkan, bukan karena dia di kemudian hari meninggalkan aku. Bukan. Aku hanya merasa sakit karena pada akhirnya aku pergi tanpa rasa kehilangan itu. Tidak. Aku bahkan masih bertahan di sini. Rindu setiap pagi, siang, dan malam mengucapkan sayang. H kalau saja kau membaca. Aku tahu kau akan membenci segala celoteh ini. Mungkin kau akan semakin berjuang keras untuk menghindar, sebagaimana yang kau lakukan saat ini pelan-pelan. Semoga Tuhan mendengarkan doaku. Kita paling tidak dipertemukan dalam satu waktu, sebelum salah satu di antara kita benar-benar pergi dan kita menyesal.
Ah… aku benci pada diriku sendiri yang terus mengingat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s