Tahun Baru?


fireworks di Karagmalang Photo by Adetya

fireworks di Karagmalang Photo by Adetya

Suara petasan berdenging-denging seperti sebuah perang di luar sana, sedang seseorang melalui sebuah sms membuatku sewot tengah malam ini. Saya sendiri? Sibuk menyesap segelas besar kopi krimer. Entahlah semua status facebook mendengungkan tahun baru. Imbauan seorang teman untuk melongok keluar pun tak meredakan suasana hati, justru membuatku tambah sewot. Apa esensi dari semua ini, ah dia bahkan sudah mengusik zona nyamanku yang terninabobokan untuk tetap terjaga di sebuah kamar kost yang terkunci.

Tahun baru? Semua status menyayangkan hujan di tahun baru. Apa yang salah dengan hujan di penghujung bulan Desember. Apakah mereka khawatir, bahwa hujan akan meredam suara-suara mercon dan kembang api? Ah suara-suara itu membuatku gelisah, sekaligus mengingat kenangan. Kan saya akhirnya tergoda untuk keluar. Yapz.. namun bukan untuk menikmati huru hara dan hingar bingar kawasan Karangmalang, melainkan untuk menuntaskan hasratku pada dunia fotografi. Nah sejenak saya berhenti…

Well, kembali ke topik, apa yang salah dengan hujan? Mengapa hujan di kambinghitamkan? Tahun baru? Ehm tak ada yang terlampau istimewa itu hanya satu hal yang bersifat periodik, tak lebih. Namun kenapa semua orang seakan sukacita menyambut tahun baru dengan terompet, kembang api, begadang, konser-konser? Ah betapa latah dan konyolnya. Dunia seperti dijejali oleh dogma-dogma yang menggembirakan tentang tahun baru.

Salah seorang teman di Jayapura mengatakan, bahwa untuk tahun baru, anggaran yang disediakan sebesar 3 M. Entah benar atau tidak. Namun dapat dibayangkan, bagaimana tahun baru membuat orang bahkan pemerintah begitu kalap menyambutnya. Berapa banyak uang yang dibakar dalam hitungan jam? Dengan anggaran sebesar itu tentu sudah banyak fasilitas umum yang terealisasi. Nyatanya perayaan tahun baru lebih penting dibandingkan penyediaan fasilitas-fasilitas publik tersebut. Apakah merayakan itu salah? Tentu saja tidak. Namun nyatanya, semua ini terasa berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya budaya kan susah untuk dihilangkan.

Belum lagi kemacetan yang ditimbulkan oleh perayaan semacam ini? Cih.. umpatan-umpatan para jomblowan jomblowati yang berdoa khusyuk minta hujan, umpatan para pasangan yang tak rela hujan turun, ancaman kejahatan. Benar-benar tahun baru dan sensasi baru. Ngomong-ngomong masalah kejahatan nih, salah seorang teman update status. Inilah updatean status tersebut “Tepat jam 00.00 sebuah mobil polisi dari POLSEK MLATI mampir depan rumah karena utara rumahku kemalingan saat ditinggal penghuninya untuk malam tahun baruan. tujuh kamar kost kecurian, laptop beserta lainnya ludes. tujuh kamar kost lho ini, menjadi pelajaran beharga agar tetap waspada, makasih ya pak polisi sudah membantu kami, tak lupa saya mengucapkan selamat tahun baru 2013. semoga bapak tetap setia mengemban tugas. sukses selalu Pak!.”

Nah lho pasti sesuasu banget kalau seperti itu. Tahun baru, kemalingan, ehm sangat berkesan. Memang kenapa sih tahun baru tanpa huru hara? Tahun baru tanpa kemeriahan? Apakah dengan kemeriahan menjadikan hidup kita lantas baik dan sukses? apakah dengan kesenangan sesaat tersebut kita jadi peduli dengan pencapaian-pencapaian?

Well, secara personal, tahun baru bermakna mengingat dan mengharap. Mengingat kesalahan setahun ini, mengingat pencapaian setahun ini, mengingat dan merenungkan pelajaran, perjalanan, kisah, yah apapun itu. Kalau mengharap? Jelas lah setiap orang punya harapan, setiap orang memiliki cita-cita dan asa. Setiap orang hidup pasti memiliki tujuan. Sebenarnya harapan ini tidak harus dilontarkan ketika tahun baru, hanya saja, memang tahun baru menjadi moment yang tepat untuk mengevaluasi diri selama satu tahun yang lalu dan merencanakan apa yang akan dilsayakan dan target selama setahun ke depan.

Well, intinya simple.. lebih bijak, menjadikan tahun baru sebagai titik tolak untuk lebih baik, untuk lebih bersemangat, untuk move on (khusus buat saya), untuk mengembangkan prestasi, meninggalkan hal-hal yang buruk. Ehm saya kira, saya sudah terlalu banyak ngoceh dan kata orang ngoceh itu gampang. EMANG

Udah aku mau ngrekap pencapaian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s