Kaleidoskop Penghujung Tahun


IMG_1529 - CopyAkhirnya aku mau ngisi blog juga dan lagi. Yah itu pun sebenarnya atas permintaan seorang teman yang katanya ingin membaca pemikiran-pemikiran liarku. Sambil mendengarkan lagu Radio dari The Radio yang mendayu-dayu, membuat aku ingin serasa menangis histeris dan meringis. Ehm.. pada kesempatan ini aku ingin mengawalinya dengan sebuah kaleidoskop percintaan.

2012 aku menorehkan sejarah baru, sekaligus mengkhianati prinsip serta tembok idealisme yang selama ini aku jaga dengan sekuat tenaga. Bagaimana tidak, tembok itu runtuh hanya dalam hitungan detik. Seseorang datang, seseorang singgah. Entah pertemuan pertama membuat segalanya berubah, kata cinta, sayang, janji-janji masa depan, ketulusan. Yang aku tahu semuanya indah. Baru kali ini aku merasakan jatuh cinta yang sungguh, baru kali ini aku bersedia untuk menyandang status pacaran. Yah baru sekali itu dan itu yang pertama.

Bukan aku tak pernah bertemu orang yang lebih baik dari dia. Tidak, cinta siapa yang bisa mengendalikan? Cinta itu punya kuasanya sendiri, aku menggambarkan bahwa cinta itu seperti orang ngelindur, yang tahu kemana harus pergi tanpa menabrak. Dia memilih karena dorongan alam bawah sadarnya. Jadi kalau aku terlalu idealis, itu omong kosong, bahkan idealisku runtuh.

Semua terlewati begitu saja. Aku yang sebelumnya tak memiliki semangat untuk mencintai, sungguh kali ini aku harus bertekuk. Seseorang yang dengan perjumpaan cukup konyol, yang awalnya menganggap aku dingin, sehingga dia harus merasa buru-buru untuk pamit pulang. Ah… aku masih ingat semua kejadian itu. Malamnya, aku berterus terang dengan cara yang berbelit-belit, menanyakan kelanjutan hubungan ini. Sesuatu yang mencerahkan terdengar, ketika aku menangkap ketertarikan dari dirinya.

15 September 2012, dengan cara dan bahasa yang sederhana kami jadian. Entahlah, mulai dari itu semuanya berubah. Terlalu banyak kenangan yang bisa kurekam, terlalu banyak hal-hal yang masih kusimpan, terlalu banyak, sampai aku kesulitan dimana mau meletakkan. Bahkan sampai sekarang pun sms yang dia berikan masih tersimpan rapi di dalam inbox hape ku.

Yes, singkat cerita, semua hancur gitu aja, tanpa sebab, tanpa alasan yang jelas. Jujur dua bulan lebih, masih seumur jagung, semua mimpi-mimpi harus dikubur, semua harapan, cita-cita, rencana masa depan. Entahlah,,, semua menguap. Jelas pukulan telak. Orang, yang kusebut sebagai cinta pertama, membuatku gila. Tak bisa melakukan apa-apa selama berminggu-minggu, melakukan segala bentuk kegilaan, menghabiskan banyak uang untuk pelarian, nyaris mencoba minuman beralkohol, pengen nyemplung ke sungai, pengen nelen obat tidur sebanyak-banyaknya, pengen manjat tower SUTET. Haha sekarang aku mengenangnya menjadi bagian dari hidup yang cukup indah. Paling tidak, aku berterima kasih kepadanya, karena jasanya aku bisa merasakan sesuatu. Meski kalau ingat, kadang sampai sekarang nyesek juga sih J

Yah aku stress, udah gila, tanpa harapan, gak bisa ngapa-ngapain, yang akhirnya berujung pada menyalahkan dia. Namun, semua itu berubah dalam satu detik. Aku merasa begitu lega, ikhlas, dan juga pasrah kalau memang kehilangan dia. Intropeksi aja, mungkin aku yang tak cukup baik untuk dia, mungkin aku terlalu idealis, mungkin aku terlalu songng, mungkin aku terlalu kekanak-kanakan dalam hubungan, mungkin aku yang terlalu banyak menuntut, atau mungkin cinta memang belum berpihak. Kau tahu apa yang membuat aku bisa memaklumi semua keputusan itu dengan singkat? Yapz kekuatan cinta. Semua berawal dari status. Dia posting status, kalau dia sakit. Aku gak mau menambah rasa sakit itu. Aku gak mau lebih melukai orang yang sangat sangat aku sayangi dan cintai. Ya hanya itu. Terlalu picisan mungkin. Aku berusaha untuk sabar menerima semua itu. Aku katakan kalau emang mau putus lebih baik dia ketemu langsung dan mengatakan secara jujur. Alhasil tanggal 17 Desember kami putus. Kami putus baik-baik. Dengan saling menerima, kami masih menjalani hubungan layaknya saudara. Bagiku tak apa kehilangan status. Kehilangan dia untuk beberapa saat bagiku sudah cukup menyiksa. Ehm.. namun dari sini aku belajar untuk paham, bahwa cinta memang tidak bisa dipaksa. Hati bisa berbicara tanpa harus diajari. Namun sampai saat ini, jujur dialah yang terbaik. Dia lah orang yang mampu membuatku tersenyum dan menangis.

Sekalipun nanti dia meninggalkanku, dia tetaplah ada dalam hati, masih tersimpan dalam satu ruang. Aku tersenyum setiap kali mengingat pertengkaran kita, membuatku merasa tolol, songong dan bodoh. Kami selaluberebut untuk menjadi orang yang salah, berebut untuk meminta maaf. Ah.. malam-malam yang kami lewati, pertengkaran-pertengkaran, ucapan sayang, kenangan. Aku merindukannya, kendati dia bilang tak akan pergi. Kadang, aku berniat melupakan, namun selalu saja gagal. Bayangannya selalu ada, menembus ruang dan waktu. Kendati dia memintaku untuk mencari sosok lain yang lebih baik, namun aku selalu saja tak mampu.

2013, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya. Sedang aku sendiri, entah mungkin akan terus berjalan. Sendirian.. cinta mengajarkanku untuk mematahkan sayap-sayap, namun cinta pula yang mengajarkanku untuk sembuh. Cinta mengajarkanku untuk membakar kemarahan, namun cnta juga yang membuat aku mengenal kata maaf. Dia mungkin tak akan kembali, dia mungkin akan melupa, namun cara dia menatap, cara dia tersenyum, cara dia mengucapkan sayang yang khas, cara dia mengacak-acak rambutku, pengorbanan dia untuk menemuiku, cara dia memeluk. Semua akan selalu terkenang.

One response to “Kaleidoskop Penghujung Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s