Celoteh dalam Rangkaian Cerita Rendra


WS Rendra terkenal dengan gaya-gayanya yang vokal dan kritis terhadap berbagai fenomena sosial. Penyair dengan julukan Burung Merak ini lahir di Solo, 7 November 1935. Kecintaannya terhadap teater dan juga sastra dia perlihatkan dengan mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Pada tahun 1985, dia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok.

Sejak menggeluti dunia sastra, sudah banyak karya besar dia hasilkan, salah satunya antologi puisi Blues untuk Bonnie. Antologi ini diterbitkan pertama kali di Cirebon pada tahun 1971. Pada perkembangannya, sajak-sajak karya W.S. Rendra yang tergabung dalam antologi puisi Blues untuk Bonnie diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Buku setebal 36 halaman ini, berisi 13 puisi yang mayoritas merupakan puisi panjang. Kalau kita menilik kekaryaan W.S. Rendra, maka kita akan tahu bahwa antologi ini hanya salah satu dari beberapa antologi puisi yang menjadi karya fenomenalnya.

Blues untuk Bonnie, memuat puisi-puisi dengan judul berikut: Kupanggil Namamu, Kepada MG, Nyanyian Duniawi, Nyanyian Suto untuk Fatima, Nyanyian Fatima untuk Suto, Blues untuk Bonnie, Rick dari Corona, Kesaksian tahun 1967, Pemandangan Senjakala, Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Pesan Pencopet Pada Pacarnya, Nyanyian Angsa, dan Khotbah.

Kalau kita melihat judul di atas, paling tidak kita sudah memiliki gambaran terhadap isi yang akan disampaikan WS Rendra. Sebuah adegan percintaan, kekonyolan hidup, religiusitas, dunia perselangkangan, pemberontakan sosial, beberapa setting tempat di luar negeri, kegalauan jiwa, dan beragam lontaran-lontaran pedas Rendra terhadap para penguasa Orde Baru.

Blues untuk Bonnie, terasa cukup menggelitik, ketika dituturkan dengan celoteh khas ala W.S. Rendra. Sebagai sosok besar, W. S. Rendra dalam penciptaannya mungkin sekali terinspirasi oleh penyair-penyair dunia yang menjadi kawan seperjuangan, mengingat dia pernah mendapatkan beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967). Membaca Blues untuk Bonnie, mau tak mau memaksa kita untuk berpendapat, bahwa Rendra tengah bercerita. Bahasa yang dia gunakan mengalir seperti orang berbincang. Ada plot yang mencoba dibangun, seperti dalam puisi Blues untuk Bonnie, Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Nyanyian Angsa, dll.

Gaya puisinya berbentuk narasi deskriptif dengan bahasa lugas. Sajak-sajak yang dihasilan oleh Rendra pada bukunya kali ini dapat dikategorikan sebagai epik. Saya pikir Rendra sudah jengah dengan kaidah estetika yang rumit, hingga akhirnya dia lebih memilih berkelana bebas dengan bahasa-bahasa yang lebih populer namun menggelitik. Kebebasan ini sekaligus menyiratkan kemerdekaan jiwa Rendra dalam mnegaktualisasikan diri melalui kata. Meski demikian, orisinalitas dan kejujuran dalam puisi tersebut, menjadi kekuatan estetika baru.

Lihat saja, bagaimana dia menyinggung realitas sosial dibumbui dengan unsur seks, yang kemudian melahirkan puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Kepada M.G, Pesan Pencopet. Puisi Kepada MG misalnya, memberikan visualisasi tentang persetubuhan. Ketidakmengertian seorang lelaki terhadap perempuan, Duka yang tidur dengan berahi/ telah beranak dan berbiak/ Ranjang basah oleh keringatmu/ dan sungguh aku katakan: engkau belut bagiku/ Adapun maknanya: meski kukenal segala liku tubuhmu/ sukmamu luput dalam genggaman./ di puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya, menghadirkan celetuk-celetuk berbau seksual yang samar. Sarapku sudah gemetar/menanti lidahmu/ njilati tubuhku. Bagaimana kata njilati mengandung kesan cabul yang nyentrik. Njilati sebenarnya perpaduan antara bahasa Jawa dan Indonesia, ketidakwajaran dari modifikasi kata menjilati, menimbulkan kesan yang kuat. Akan tetapi secara umum, puisi ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan perempuan yang sedemikian cerdik. Mereka rela menjadi gundik, kemudian tetap mencintai pencopet, sebagai pacarnya. Semua itu karena materi.

Selain membumbui sajaknya dengan seks dan kata-kata cabul, Rendra banyak menggunakan gaya-gaya sindiran, untuk merekam momen-moment ironis. Kita bisa melihat ini dalam puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues Untuk Bonnie, dan juga Rick dari Corona. Seperti dalam Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, kita dapat melihat betapa emosionalnya Rendra hendak memaparkan sebuah kontradiksi mengenai penghakiman. Dia ingin mengalahkan dengan telak, bahwa sebenarnya orang-orang yang menghakimi para pelacur itu memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan pelacur. Mereka bahkan melacurkan diri dengan kedok kedudukan, jabatan, dan berbagai kemunafikan lain.

Mengenai hal tersebut, kita bisa melongok pada petikan berikut Pelacur-pelacur Kota Jakarta/ berhentilah tersipu-sipu/ ketika kubaca di koran/ bagaimana badut-badut mengganyang kalian/ menuduh kalian sumber bencana Negara. Ini menunjukkan bagaimana para penguasa dan pemimpin hanyalah sekedar sekelompok orang yang besar mulut dan tak mampu berkaca. Untuk itulah, mengapa para pelacur pun yang notabene masyarakat kelas bawah terpinggirkan, patut untuk membunyikan genderang perang dan melawan. Dan wujud perlawanan itu digambarkan Renra melalui petikan berikut Saudari-saudariku/Bersatulah./ Ambillah galah./ Kibarkan kutang-ktangmu di ujungnya.

Sebagai kritik sosial, dalam puisi yang sama, Rendra juga menjelaskan, bagaimana para pemimpin itu saling berdiskusi untuk kepentingan di antara mereka sendiri, bukan kepentingan masyarakat golongan bawah. Maka dia menggunakan metafor dewa untuk menyimbolkan kedudukan mereka. Revolusi para pemimpin/ dalah revolusi dewa-dewa./ Mereka berjuang untuk surga/ dan tidak untuk bumi/

Rick dan Corona menceritakan bagaimana perselingkuhan dan mungkin juga praktik perselingkuhan berlangsung. Bagaimana antara Rick dan Betsy melakukan percakapan-percakapan konyol yang bebas. Kehidupan bebas itu melahirkan satu penyakit yaitu raja singa. Dalam puisi ini Rendra juga memainkan topografi terkait dengan dialog-dialog yang dimainkan oleh Rick dan Betsy.

Meskipun di sana-sini Rendra memasukan unsur seks, namun dia tak kehilangan sisi spiritualitas, sebagaimana dia berbicara dengan sudut pandang agamanya, melalui puisi Kotbah dan Nyanyian Angsa. Dalam dua puisi ini Renda seperti hendak menginsyafkan diri dan segala sesuatunya seperti hendak dia komunikasikan kepada Tuhan.

Nyanyian Angsa, menceritakan bagaimana Tuhan menunjukkan tewntang pelajaran hidup dan cobaan atas kesalahan dan dosa yang dilakukan hambaNya. Semua orang bahkan berusaha menghindar, orang-orang, dokter, bahkan pemuka agama yang seharusnya mampu memberi jalan yang lurus serta petunjuk menuju kebaikan. Seseorang yang dengan penyakit di tubuhnya, mencoba untu mencari pengampunan, melakukan perjalanan jauh, menelusuri aspal dan jalanan berdebu, hingga sampailah pada suatau tempat di pedesaan. Cukupmenarik, ketika Rendra menggambarkan bahwa malaikat pun mempunyai sikap antipati terhadap orang tersebut, dia selalu menatap dingin dan kejam. Dia selalu berusaha untuk menikamkan pedangnya.

Hingga satu peristwa terjadi, ketika wanita sudah berada di penghujung harapan, ketika wanita sudah sampai pada titik lemahnya. Seorang lelaki datang, dari penggambaran fisik, sekilas lelaki itu adalah Yesus. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya/ Di lambung kiri/ Di dua teapak tangan/ Di dua tapak kaki. Hal ini pula yang menjadi penyebab malaikat terdiam, setelah sebelumnya berapi-api untuk memberikan siksaan kepada si pelacur.

Bagi saya, dari sekian banyak puisi yang hadir dalam Antologi Puisi Blues untuk Bonnie, puisi Kupanggil Namamu lah yang meninggalkan kesan mendalam. Ada kesenduan sekaligus pengorbanan besar terpampang di sana. Sambil menyeberangi sepi, kupanggil namamu, wanitaku. Apakah kau tak mendengarku? Ketenangan sekaligus romantisme yang berdebur. Sia-sia kucari pancaran sinar matamu/ Ingin kuingat lagi bau tubuhmu/ yang kini sudah kulupa/ Sia-sia./ Tak ada yang bisa kujangkau./ Sempurnalah kesepianku./ Kita dapat melirik sedikit aroma sentimentil dan lautan melankolia dalam kata-kata tersebut. Meski diselimuti ketenangan nyatanya, puisi ini juga menyimpan gejolak dan amarah. /Angin pemberontakan/ menyerang langit dan bumi./ Dan dua belas ekor serigala/ muncul dari masa silam/ merobek-robek hatiku yang celaka./Entah, mungkin saya terbawa euforia penampilan apik Reza Rahardian dalam membacakan puisi ini di film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.

Kalau saya boleh mereview secara singkat, puisi-puisi dalam antologi ini tidak terlalu jauh membincang kehidupan sekitar. Kupanggili Namamu adalah seruan tentang kegalauan hati dan kerinduan terhadap seorang kekasih, Kepada MG menceritakan seputar hilangnya identitas seorang lelaki yang hanya mampu menjamah tubuh wanita tanpa dapat menyentuh palung terdalam dari perasaannya, Nyanyian Duniawi membincang bagaimana persetubuhan antara adam dan hawa terjadi, sedangkan Nyanyian Suto untuk Fatma lebih menggambarkan sikap kasmaran seorang lelaki terhadap kekasihnya. Penggambaran 23 matahari merupakan metafora dari umur Fatma. Peredaran bumi mengelilingi matahari atau disebut dengan revolusi adalah waktu yang menunjukkan jarak satu tahun atau 365 hari. Sajak kasmaran ini mendapatkan balasan melalui sebuah sajak berjudul Nyanyian Fatma untuk Suto. Sebagaimana disinggung di awal puisi Rendra adalah puisi kritik, contohnya pada puisi Kesaksian Tahun 1967, Pemandangan Senjakala yang menceritakan pertumpahan darah, Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, serta Pesan Pencopet Pada Pacarnya yang nyelekit berkaitan dengan pembalasan kecurangan yang dilakukan oleh para penguasa. Lantas, ada juga pembicaraan yang menyinggung seputar dampak dari seks bebas sebagaimana yang dituliskan Rendra pada sajak Rick dari Corona serta Nyanyian Angsa. Lantas aroma rasisme masyarakat kulit hitam juga sempat disinggung Rendra dalam sajak Blues untuk Bonnie.

Secara umum, antologi Blues untuk Bonnie ini menghadirkan berbagai tuturan renyah yang sebenarnya sangat dekat dengan masyarakat. Rendra mampu meramunya dengan cukup apik. Dia termasuk salah satu sastrawan yang frontal dan tak pernah lelah untuk membuat kuping penguasa panas memerah. Kalau musisi, mungkin kita dapat menyejajarkan dengan Iwan Fals. Sikap frontal ini pula yang mungkin menggiring Rendra pada tahun 1977 dicekal pemerintah Orde Baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s