Kado Terindah


Jam tangan masih menunjukkan pukul sepuluh siang. Ruangan ini masih sama seperti tadi malam. Sisa gerimis di luar menyisakan dingin. Hanya sedikit. Ponsel beberapa kali berbunyi, sebuah ucapan ulang tahun hadir seperti tamu tanpa permisi. 26 Oktober, tak terasa sudah dua tahun lebih aku merantau. Tak terasa pohon usia sudah semakin menua, seperlima abad. Ingatanku melayang pada percakapan-percakapan ibu…

http://3.bp.blogspot.com/-QNkd0u4VMe0/Ty1FqNLrBoI/AAAAAAAAADw/3CFyrq51kMI/s320/13245357711313452004.jpg

)(*.*)(

Ibu sosok yang terlalu berarti dalam perjalanan ini. Sudah setengah abad dia mengenyam hidup dan kehidupan. Tipikal orang Jawa, beliau orang yang pasrah dan nerimo ing pandum. Wanita Jawa yang mengenalkan aku pada perjuangan dan kesabaran.

“Kita ini kan memang dari keluarga sederhana, ya sudahlah, ndak usah macem-macem” sering kalimat itu dilontarkan. Ketika aku mulai jenuh dengan kesederhanaan, ketika aku mulai merasa hidup itu tak adil, ketika aku mulai memandang teman-teman dan merasa bahwa keberuntungan tidak pada genggaman. Ibu yang selalu di belakang dan mendukung aku untuk tidak menyalahkan Tuhan.

Falsafah hidupnya tentang kesuksesan bahkan lebih sederhana lagi. Kesuksesan itu ibarat bola yang digelindingkan dari atas tangga berundak. Selalu ada peluang untuk bola itu berhenti di salah satu tangga. “Yo nek ora nang wong tuwo yo nang anak, ora nang anak yo nang putu”. Kalau saja kesuksesan itu tidak mampu digenggam oleh orang tuanya, maka kesuksesan itu akan jatuh kepada sang anak. Kalau sang anak belum mendapatkan kesuksesan itu, mungkin cucunyalah yang akan sukses.

Kadang aku berpikir, bahwa bagi ibu kesuksesan itu bukan sesuatu yang harus dicari melainkan dia akan datang sendiri. Namun, ibu juga bilang bahwa aku harus selalu berusaha keras supaya kelak aku sukses. Dualisme. Pragmatis. Atau mungkin ini yang disebut ibu sebagai wujud kepasrahan? Selalu berusaha namun tidak ngoyo. Tidak mati-matian dan terkesan membabi buta mencapai kesuksesan. Selalu berjuang, namun juga berserah terhadap hasil yang diberikan Tuhan.

Di lembar yang lain, ibu adalah sosok yang menyayangi anak-anaknya. Kadang aku merasa aneh. Dengan keadaan keluarga kami, ibu masih bersikukuh untuk tak mau berhutang. Bahkan dia lebih memilih mengatakan “Ealah le, wong tuwo, nek nduwe ki, nek ora nggo anak, nggo sopo maneh?”. Orang tua kalau memang memiliki uang, kalau tidak untuk anak, untuk siapa lagi? Beliau benar-benar ahli manajemen keuangan keluarga. Atau di lain waktu, beliau akan mengatakan
“Daripada hutang, lebih baik makan dengan garam”.

Setidaknya itu terjadi sampai aku SMA. Jauh sebelum aku benar-benar menjadi manusia dewasa. Jauh sebelum aku menjadi orang yang benar-benar tahu hidup dan kehidupan.

Nyaris sama dengan ibu, bapak juga seorang sosok yang begitu mengagungkan kesederhanaan dan sikap nerima. Aku tak tahu bagaimana keras beliau bekerja, yang aku tahu sebagai pekerja bangunan di Jakarta beliau bekerja sangat keras.

Pernah suatu ketika, di hari Minggu yang panas, dalam sebuah obrolan telepon, beliau bercerita. Tiap hari jalan kaki bolak-balik tempat kerja sepanjang tiga kilo lebih. “Supaya lebih ngirit aja” katanya. Di lain waktu, sering juga menumpang bus kampus Universitas Indonesia. Kalaupun naik bus kota, beliau akan menyimpan uang receh kembalian dan dikumpulkan. Dulu, setiap kali pulang kampung, aku selalu menagih segepok uang recehan lima ratus rupiahan. Betapa girangnya, mendapati tabungan penuh dalam waktu sekejap. Soal kerja, beliau selalu berpindah-pindah, di Bogor, Serang, Cikampek, Depok, ah beliau sudah sangat hapal Jakarta. Di obrolan telepon yang sama, aku bertanya, mengapa hari Minggu masih kerja juga. Mengapa memaksa puasa juga kalau pekerjaan berat?

“Yo jenenge wae kanggo anak, le” namanya juga untuk anak, begitu katanya. Ah… hatiku luruh saat itu juga, bagai daun-daun kering yang melayang di tiup angin. Anak selalu menjadi alasan untuk bapak terus bekerja lebih giat dan lebih keras. Ingin sekuat hati, aku tak berkaca-kaca tiap kali dia pamit hendak ke Jakarta. Ingin sekuat hati, aku tak memerahkan mata, tiap kali dia menyapaku dengan ramah di telepon selepas mengucapkan salam. “Lagi opo le?Sedang apa kamu?

Berbeda dengan ibu, bapak cenderung pendiam. Dia tak pernah bercerita atau mengeluh, seberat apapun masalah yang beliau hadapi. Komunikasi kami sebatas pada penggunaan teknologi, kerap sekali dia bertanya, bagaimana mengoperasikan ponsel, mengapa MP3 di ponsel tidak bisa urut, bagaimana menyalakan komputer. Selain obrolan semacam itu, hanyalah bentuk komunikasi formalitas, semacam aku sedang apa, bagaimana kuliahku, apa kegiatanku, bagaimana kabar?

“Ya itulah bapakmu, le. Harus ada gong nya baru ngomong” dengan ibu aku lebih terbuka. Begitu pun ibu. Seperti tidak ada tempat curhat yang lebih aman, dibandingkan aku. Kami berdua seperti sepasang teman sejak kecil. Ngobrol ngalor ngidul, memperbincangkan kehidupan, memperbincangkan nasib kami, sesekali memperbincangkan kegelisahan. Mengulik kehidupan adik semata wayangku yang tengah duduk di bangku kelas delapan SMP, membedah segala permasalahanku di kota istimewa ini, mendiskusikan usaha bersama, membahas saudara-saudara kami yang sedang nge trend terserang darah tinggi, atau hal-hal kecil semacam hari ini masak apa, tentang bagaimana hasil panen, atau yang lebih kecil lagi seperti beliau bertemu si A yang anaknya kuliah di Jogja, lantas menanyakan kepadaku apakah aku kenal. Jogja itu luas, Bu. Universitas di Jogja juga puluhan, jangankan dengan orang-orang yang tak aku tahu wujudnya, dengan adik kelas yang kuliah di Jogja saja aku kadang tak tahu.

Seperti siang ini…

Telepon pertama, dari ibu, sedikit terlambat kuangkat. Aku buru-buru memencet tombol dan mengucapkan salam. Satu pertanyaan standar meluncur langsung, sedang apa? Kujawab dengan malas, aku tengah bangun tidur, semalam aku harus menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk minta ampun. “Owalah, le, kamu itu di Jogja, apa ndak pernah makan?” ini bentuk respon setiap kali melihat tulangku yang terlihat semua kalau pulang kampung, selalu kujawab kalau makanku di sini banyak “Makanya, kalau tidur jangan malam-malam” begitulah ibu, selalu mengkambinghitamkan begadang atas kekurusanku.

Le, tadi ibu telepon bulikmu di Bandung, katanya tensinya naik jadi seratus delapan puluh. Lha mau gimana lagi, katanya si Linda itu untuk biaya kuliah sangat mahal, apalagi si Rio adiknya, itu kan sudah kelas sembilan, sebentar lagi lulus masuk SMA. Tahu sendiri biaya pendidikan di Bandung, apalagi swasta itu kan mahal.”

Di sini aku hanya manggut-manggut, tiap kali ibu cerita baru saja telepon bulik. Aku sudah dapat memprediksi apa yang mereka berdua bicarakan “Ibu itu kalau habis telepon bulik, gampang ditebak. Paling juga curhat soal anak dan kebutuhan” celetukku berkomentar. Ibu hanya tertawa. Beliau sudah mahfum dengan segala bentuk tingkah polah anak sulungnya. Seorang anak keras kepala yang nyablak. Beliau juga sudah tahu dengan kebiasaanku mbangkong di akhir pekan. Hanya itulah waktu istirahatku, sementara hari-hari yang lain adalah hari yang menyita segalanya.

Le, tadi Mamak Harti juga bilang katanya tensi dia naik. Mbah putrimu itu juga, kebanyakan mikir. Ya orang tua, kalau anaknya jauh dari orang tua, anaknya ndak pulang-pulang, pasti kepikiran.” Kalimat ibu, seperti bukan ditujukkan untuk mengomentari keadaan nenek, melainkan ditujukkan kepadaku yang tengah jauh darinya “Ya aku ini juga sudah bilang, mbok sudah ndak usah dipikir nemen-nemen, saling memaklumi. Seperti kita, seperti bulikmu itu kan lagi sama-sama repot” aku sudah tak bisa menghitung lagi, berapa kali ibu curhat soal ini, berapa kali aku mendapatkan dongengan yang sama.

Tiba-tiba suara ibu berubah pelan dan hati-hati “Le, Mas Rosyid, kemarin bilang katanya, Bapakmu, sudah seminggu sakit, mangkanya ndak kerja. Ya kamu yang sabar saja, kalau uang kiriman telat” aku menelan ludah “Itu kalau Mas Rosyid gak ngomong, ibu juga gak tahu. Lha wong, kamu kan sudah tahu sendiri, wataknya Bapakmu itu, kalau ada apa-apa diam. Kamu prihatin di sana ya, semua pendapatan dari bapakmu itu ya hanya masuk ke kamu. Ibu itu, ndak kebagian. Untung ada sesuatu yang dijual, jadi bisa buat adikmu. Ya sejak kena kolestrol beberapa waktu lalu, tensi Bapakmu kan sering naik. Kemarin juga sampai seratus delapan puluh”

“Ya makanya Bapak jangan mikir berat-berat, Bu” komentarku.

“Aku juga sudah bilang ke Bapakmu” ibu selalu saja percaya dengan perkataanku.

“Tapi namanya orang hidup, mau pengennya ndak mikir, tetap saja kepikiran, apalagi kepala keluarga” aku menyanggah pendapatku sendiri, sembari tertawa miris. Ibu hanya mengiyakan di seberang sana. Hidup itu memang ironis, pikirku. Bagaimana tidak, kita sangat ingin menganggap segala sesuatunya itu bukan beban, tapi beban sendiri yang minta digendong kemana-mana.

“Tahu kalau darah tinggi bapak naik, lebih baik, ibu tak sering-sering menyinggung masalah pengeluaran. Ya saya tahu, kalau ibu menerima berapapun uang yang diberikan Bapak. Tapi kalau ibu masih sering menyinggung soal pengeluaran, saya khawatir bapak malah kepikiran. Bagaimanapun juga bapak ini kepala keluarga, apalagi ego sebagai seorang lelaki, beliau pasti merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi apa yang dibutuhkan keluarganya” ahh… bagaimana mungkin aku bisa berbicara sebanyak itu, dengan pengalaman hidupku yang masih seuprit? Bagaimana mungkin aku menasehati orang tuaku sendiri, aku bahkan merasa tak yakin sudah menyatakan semua itu.

Akan tetapi tanggapan ibuku cukup mengejutkan, diam-diam beliau mengiyakan semua yang kukatakan. Lelaki adalah manusia dengan ego tinggi, kendati bapak tak menunjukkan semua itu. Sebagai sesama lelaki, aku mampu merasakan apa yang bapak rasakan. Sebagai seorang yang sudah bekerja keras, namun tetap tak dapat memenuhi semua keinginan keluarganya, adalah hal yang menyedihkan. Terlebih mengetahui bahwa uang yang dihasilkan, lebih banyak dimakan oleh si sulung.

Kutegaskan pada ibu, aku tak terlampau memikirkan uang, uang dari kampus semoga saja aku bisa mengelolanya. Lebih baik bapak, tak usah terlampau memikirkanku di sini. Aku sudah dewasa, aku sudah dapat menentukan, mana yang terbaik untukku. Telepon ditutup, suara ibu yang bergetar masih terngiang. Ada yang mengamuk dalam dadaku. Semacam kebencian atas ketidakberdayaan, semacam kekuatan yang menyuruhku utnuk memberontak.

)(*.*)(

Semester lima ini, pengeluaranku gila-gilaan. Pemasukan macet total, kecuali dari kampus. Setiap hari ada saja urunan yang aku tak tahu juntrungnya. Iuran organisasi, iuran kelas, kebutuhan hidup yang tak lihat-lihat, datang di saat yang tidak tepat, keperluan bulanan, keperluan kuliah, ah… segala bentuk pengeluaran macam apa ini.

Pernah suatu ketika terpikir untuk kerja part time, atau kerja apapun itu yang bisa menghasilkan pemasukan. Namun, bagaimana mungkin? Sedang untuk istirahat saja, waktuku sudah dimakan agenda lain. Lebih dari dua tahun di Jogja, aku baru menyadari betapa kegiatan itu begitu rakus. Bagaimana akan kerja, kalau tiap hari organisasi minta diperhatikan, koordinasi, konsolidasi. Bagaimana dengan malam? Jangan tanyakan seputar malam gelap, karena waktu itu telah pula diganyang latihan pementasan. Lantas akan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas, dan bangun dengan mata masih setengah terbuka. Itulah rutinitas.

Bagaimana dengan akhir pekan yang menyenangkan? Tampaknya, aku harus berterima kasih kepada masyarakat peradaban yang menciptakan akhir pekan. Aku juga harus berterima kasih kepada penemu hari Minggu. Mungkin, aku juga akan berterima kasih dengan birokrasi kampus yang memberlakukan lima hari aktif, sehingga menyisakan Sabtu yang agung. Akhir pekan adalah waktu yang terbaik untuk mengistirahatkan pikiran, tenaga, juga bahkan uang. Maka, ibu selalu mahfum, kalau si burung dara jantan yang kini telah dewasa ini tak pernah pulang kandang. Beliau juga mahfum, kalau aku mengatakan bahwa akan menginjakkan kaki, esok, akhir tahun. Beliau selalu mehfum, kendati semua itu baginya terlalu lama. Aku hanya tersenyum getir, menikmati kegetiran keputusanku, juga melahap kegetiran semua kehidupanku di kota ini.

)(*.*)(

Ini ulang tahunku, sudah seperlima abad ragaku pontang panting dengan nyawa di dalamnya. Sudah kubunuh sepi, gelap semalam. Sudah kubiarkan ceceran barang ini memenuhi kost. Aku sudah tak terlampau peduli. Hari ini, bukan hanya kata cukup yang bisa mewakili lelahku, namun sangat.  Ponsel berdering, tertera di sana, nama ibu. Segera kuangkat, dengan suara yang timbul tenggelam.

Ibu, ingin kukisahkan segalanya. Ibu, aku dalam kemelut. Terlalu sulit untuk ditanggung sendiri. Soal uang, ah betapa jahanamnya makhluk satu itu. Ya soal pengeluaranku yang lepas kontrol, soal pengeluaranku yang seperti tsunami tahun 2004 lalu.

Le, gimana kabar? Oh iya, bapakmu belum dapat ngirim uang” aku hanya mengangguk lemah di sini. “Nggak papa tho?” aku kembali mengangguk-angguk, meski yakin ibu tak akan melihatnya. Betapa aku seperti orang bodoh. Ah kalau saja aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri, tapi tidak mungkin di semester ini. Bencana. Ibu, mungkin kau akan terkejut, kalau aku paparkan segala bentuk pengeluaranku di semester yang rakus ini. Tapi aku ingat pesanku kepadamu, aku ingat bahwa jangan ibu ungkit soal pengeluaran kepada ayah, karena kondisi kesehatannya. Maka, itu pula yang tak akan pernah aku ceritakan. Anggap saja si sulung ini tak punya pengeluaran.

Le, selamat ulang tahun ya. Tetap eling kepada Gusti. Jangan lupa salat dan berbagi” benteng di mataku sudah ingin jebol. Baru kali ini ibu ingat ulang tahunku, tanpa kuingatkan. Kalau dulu waktu kecil aku akan merajuk meminta hadiah, maka kini aku sadar, bahwa orang-orang yang menyayangiku adalah kado terindah sepanjang masa yang Tuhan berikan kepadaku. Ibu, doamu kado terindah…,

Le, semoga kamu di sana sukses ya, orang tua hanya bisa mendoakan. Jangan lupa jaga kesehatan. Seharusnya mumpung lebaran haji, kita bisa berkumpul ya…” suara ibu menggantung. Kaca di mataku sudah retak. Dia luruh seperti mata air. Kujauhkan ponsel, menyurukkan muka ke bantal, kemudian terisak di sana. Ada sesuatu yang menghujam, ada sesuatu yang melesat seperti anak panah dan tajam menembus jantungku. Seluruh tubuh gemetar, masih kudengar suara ibu memanggil.

Le….

 

Karangmalang, 1:25 31Okt2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s