Dari Cerita, Bayang-Bayang, Hingga Titik Kesadaran Diri Membincang Setangkup Puisi Zaim Rofiqi


Membincang puisi selalu melahirkan hal-hal menarik. Kumpulan puisi karya Zaim Rofiqi yang dimuat di harian Kompas, tanggal 14 Oktober 2012 mengungkapkan banyak hal kepada pembaca. Puisi-puisi Rofiq sedikit banyak mengangkat isu religiusitas, meskipun kritik sosial juga mendapatkan porsi yang cukup besar.

Dalam puisi pertama, berjudul Seperti, pengarang berbicara mengenai hidup secara kronologis. Terdiri dari tujuh fragmen yang saling terpaut. Pertama dia membincang seluruh fragmen secara umum. Di sana dia menegaskan tentang posisinya sebagai orang yang hanya akan menceritakan soal isi. Buku kuno kita asumsikan sebagai hidup mausia, metafora ini saya yakin sudah banyak digunakan soal tiga fase kehidupan. Ketiga halaman tersebut kita jabarkan sebagai kelahiran, kehidupan, dan kematian. Berkaitan dengan posisi, pengarang sudah mewanti-wanti tentang hilangnya bagian pertama dan terakhir. Pengarang tidak menjelaskan secara detail bagaimana kelahiran dan kematian, ini mengindikasikan bahwa seseorang akan melupakan masa lalunya dan cenderung masa bodoh dengan apa yang terjadi di masa mendatang. Kebanyakan dari mereka hanya dibuai euforia keadaan sekarang. Ini sebuah kronologis, maka ketika pengarang berkomitmen semacam itu dia tak menyinggung soal kehidupan jaman dulu, dia melangkah kepada masa sesudahnya, ketika manusia sudah mulai mengenal dunia.

Mengenal dunia, mengenal kehidupan yang baru. Untuk menegaskan tentang keberadaan hidup yang berwarna maka dia menghadirkan metafora rumah sebagai suatu dunia. Terlihat dari kutipan “Seperti sebuah rumah megah, berempat jendela.” Empat jendela ini mewakili keberadaan dunia yang bermacam-macam. Dia gambarkan bahwa dunia itu kompleks dan bermacam-macam. Semua itu terkait dengan kehidupan. Jendela pertama, menceritakan bahwa dunia menghadirkan sesuatu yang tidak kita sukai, suatu perjalanan yang berat. Jendela kedua menampilkan dunia yang memiliki banyak pilihan bahkan tak terbatas. Pilihan-pilihan tersebut tak jarang menyesatkan dan juga membingungkan. Jendela ketiga, memberikan visualisasi tentang dunia yang siap menghadirkan masalah besar bahkan memaksa kita menghentikan langkah. Jendela keempat menuntut kita melihat bahwa dunia adalah tempat yang carut marut penuh kompleksitas. Hanya menyisakan satu jalan, mungkin jalan kebenaran yang dilewati sedikit sekali orang. Dan kita manusia, tinggal sangat lama di dunia semacam itu.

Fragmen berikutnya kita akan dibincang seputar kehidupan. Maka tak heran pengarang menghadirkan metafor perpustakaan, yang mana dalam kehidupan itu akan menghadirkan berbagai macam ekspresi. Semua gambaran perasaan tertumpah. Kejadian dan juga pengalaman entah itu menyedihkan atau pun menyenangkan, dan setiap orang akan mengalami fase itu, setidaknya menurut kaca mata pengarang. Disadari atau tidak, kita tertimbun dan tenggelam oleh berbagai macam ekspresi itu. Bahkan, kita menyatu di dalamnya. Namun demikian, kehidupan selalu menawarkan mimpi dan harapan.

Berkaitan dnegan mimpi, maka pengarang menghadirkan metafor balon karbit, sesuatu yang tidak kita genggam, namun juga tidak benar-benar kita lepaskan. Maka sebagai mimpi, pengarang mengatakan bahwa mungkin mimpi itu terlahir karena disadari atau mungkin hanya karena tiba-tiba mengalami satu kondisi tertentu sehingga mimpi tersebut kemudian muncul dan melintas. Mimpi mungkin hanya diketahui oleh seseorang, jadi mau seseorang yang memimpikannya masih hidup atau sudah mati, mimpi masih akan tetap ada, kendati mimpi itu tak ada yang mengetahuinya. Intinya mimpi masih bersemayam sebelum dia menjadi kenyataan atau dikubur oleh orang yang memimpikannya.

Menafikkan mimpi-mimpi, hidup juga menawarkan berbagai tekanan dan permasalahan besar. Pengarang menghadirkan metafor pertempuran untuk menggambarkan hal ini. Bahwa kehidupan itu adalah perjuangan untuk mengalahkan masalah-masalah hidup. Ketika kita berjuang menghadapi hidup pasti akan sangat banyak rintangan yang menghadang, akan tetapi sebagai manusia kita tidak boleh menyerah dan terus berusaha memenangkan hidup. Meskipun segala bentuk pengorbanan itu menjemukan, meskipun segala daya upaya sudah kita lakukan untuk menyelesaikan permasalahan dan kadang lelah, akan tetapi, permasalahan tidak akan pernah selesai, sehingga kita harus bangkit dan kembali melawan.

Sebagaimana yang dipersinggungkan di awal, bahwa pengarang tidak akan memberikan sentuhan akhir sampai batas kematian. Maka dia kemudian lepas tangan atas segala bentuk rangkaian cerita yang dia buat. Peristiwa-peristiwa, kejadian-kejadian, semua dia ceritakan silih berganti, namun seperti sebuah pentas wayang, bahwa kejadian-kejadian itu berlangsung secara alamiah, sehingga seringkali kita tidak menyadari bagaimana setiap peristiwa memiliki hubungan sebab akibat. Di atas semua itu, kadang kita melupakan, bahwa selalu ada campur tangan Tuhan, yang tidak terlihat. Dialah dalang dari Sang Maha Dalang.

Lantas menginjak puisi yang kedua saya merasakan semacam dejavu. Seorang karya yang dihadirkan pengarang memang bukan satu bentuk karya orisinil. Setiap pengarang, siapapun dia, pasti melahirkan karya yang terinspirasi oleh karya yang sudah dibuat sebelumnya, baik itu dari karangannya atau mungkin dari karangan orang lain. Puisi berjudul Kucing ini, mengingatkan saya pada cerpen Djenar Mahesa Ayu yang berjudul Staccato dalam kumpulan cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu. Secara penulisan, hampir saya katakan bahwa ini sama. Menulis dnegan mengandalkan sebuah proses yang dituliskan, bertahap, atah-patah, dan cenderung menimbulkan kebosanan.

Kalau kita menilik isi, maka sebenarnya pengarang sedang bercerita tentang gaya hidup masyarakat kekinian. Seolah-olah, pengarang mengesankan bahwa yang menjadi titik fokus adalah kucing, akan tetapi sebenarnya antara kucing dengan dua pemuda memiliki kedudukan yang sama. Kucing bermata biru kita dapat melihatnya sebagai orang-orang barat yang cukup mengagungkan budaya hedonis. Namun kucing sendiri sebenarnya dalam dunia perselangkangan memiliki makna pelacur laki-laki. Maka, tak heran ketika kemudian dia digambarkan memakan kepala ayam. Ayam dalam dunia prostitusi dikenal sebagai para mahasiswa yang memiliki pekerjaan menjajakan keperawanan, kita menyebutnya ayam kampus. Maka sebenarnya apa yang dilakukan oleh kucing dan sepasang anak manusia itu sama. Mereka sama-sama sedang dimabuk hasrat seksual.

Keadaan dan situasi digambarkan selepas hujan. Kemudian tokoh aku memilih untuk berjalan pulang. Sebenarnya hujan sangat mendukung latar cerita, dengan lapu temaram dan suasana dingin, maka seseorang akan cenderung mencapai titik hasrat seksual tertinggi. Keinginan tokoh aku untuk pulang, sebenarnya memiliki dua kemungkinan alasan. Pertama, dia merasa terangsang melihat pemandangan yang semacan itu, sehingga sesuatu (mungkin bayangan istrinya) memanggilnya untuk segera pulang, sehingga mereka dapat melakukan apa yang dilakukan oleh sepasang muda-mudi tadi. Kedua, keinginan tokoh aku untuk pulang bisa juga didasari atas keprihatinan yang mendalam, tentang gaya hidup masyarakat sekarang yang menyingkapkan urat malu. Mungkin pula dia ingat anak istri.

Di puisi ketiga yang berjudul Hikayat Bayang-Bayang, kita seperti diingatkan dengan cerpen Rumah karangan Ahimsa, yang dimuat di harian Kompas beberapa minggu sebelumnya. Pemaknaan bayang-bayang sebenarnya cukup sulit, bukan sejarah, karena dia ada sejak dia lahir. Dia bisa dimaknai sebagai seorang yang sangat dekat namun tidak kita sadari, seorang yang memiliki kesetiaan cukup tinggi, namun tak kita pedulikan. Akan tetapi kita juga dapat memaknai bayang-bayang sebagai Tuhan, meskipun pemaknaan ini cenderung sangat ekstrim. Tuhan sudah ada sejak dia lahir, untuk orang-orang yang belum diberi pencerahan, maka dia akan menganggap bahwa Tuhan hanyalah sekedar bayang-bayang yang merepotkan, yang menguntiti kita dnegan berbagai aturan dan ayat-ayat.  Akan tetapi, kita tidak pernah menyadari keberadaannya, meskipun Dia bahkan lebih dekat dari urat leher. Dia adalah penerang, penuntun, petunjuk jalan, tempat berkeluh kesah, menumpahkan segala kesedihan, segalanya. Maka, untuk dapat memahami keberadaannya maka kita harus menjauhkan diri dari kenikmatan yang kadang menyilaukan. Maka untuk menyadari keberadanNya, seseorang kadang harus terjatuh dan seolah tanpa harapan, baru orang itu sadar bahwa Tuhan itu ada. Dengan demikian, kita dapat mengetahui hakekat Tuhan yang sebenarnya.

Puisi keempat Rofik yang berjudul Di Dalam Penjara cenderung lebih abstrak lagi. Puisi ini menyiratkan kesenyapan dan kesunyian atas kungkungan, menceritakan bahwa di dalam berbagai aturan dan jeruji pun seseorang masih memiliki senyapnya. Namun kemudian muncul waktu dengan metafora jam. Jam akan selalu berjalan, waktu akan selalu berputar dan berlari. Dia tak mengenal lelah, tak peduli apakah kau dalam keadaan tengah lapang atau dalam keadaan tak mampu bergerak. Dia tak peduli, apakah kau orang dengan jabatan tinggi, atau sekedar masyarakat kelas bawah. Waktu akan selalu berputar, tak akan merubah apapun, kecuali manusia yang merubahnya.

One response to “Dari Cerita, Bayang-Bayang, Hingga Titik Kesadaran Diri Membincang Setangkup Puisi Zaim Rofiqi

  1. This is a message to the webmaster. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. I discovered this page via Google but it was hard to find as you were not on the front page of search results. I have found a website which offers to dramatically increase your traffic to your website: http://voxseo.com/traffic/. I managed to get over 10,000 visitors per month using their services, you could also get lot more targeted visitors than you have now. Hope this helps🙂 Take care.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s