Ulang Tahun Seperlima Abad


Detik makin berulir, tak terasa umur sudah menua. Kalau dulu membincang umur adalah hal yang tabu, maka sekarang kukatakan kepada dunia bahwa tua bukan sesuatu yang memalukan. Inilah saya yang sudah berumur seperlima abad. Masih terngiang masa kecil, masih lekat masa-masa sekolah, dan tampaknya baru kemarin saya masuk ke sebuah tempat bernama universitas.

Betapa waktu berlari begitu cepat tak tersadari. Kalau dulu, kala saya masih kecil dan unyu-unyu setiap kali ulang tahun, saya mungkin akan merajuk kepada ibu. Kuminta beliau untuk membuatkan nasi kuning, dengan irisan telor dadar, kering tempe dan kacang, mie, yah sekedar untuk dimakan bersama satu keluarga. Mengingat itu rasanya ada yang menghujam jantung, jleb. Mamaaaa … *ala2 Sandy. Patut diketahui, kalau Sandy itu temenku sekelas yang kocak, dia anak Sumbawa. Haha..

Dulu setiap kali ulang tahun tiba, maka yang pertama kali saya lontarkan adalah hadiah untukku tahun ini apa? Mungkin baju baru? Mungkin buku-buku tulis? Mungkin entahlah… Meskipun terkadang tak jarang saya tak mendapatkan apapun sama sekali. Ngambek? Terasa cukup wajar untuk ukuran anak kecil, yang sedih gara-gara tak dapat kado. ah betapa saya baru menyadari, bahwa semua itu betapa naif dan konyolnya. Sekarang saya menyadari bahwa kasih sayang orang tua, kasih sayang orang-orang terdekat yang selalu mendukungku adalah hadiah terindah dalam kehidupan. Hiks… *jadi sedih bawang merah.

Yah sudah lupakan soal kesedihan yang begitu labil. Bagiku tak ada yang terindah selain itu. Aku tak mengharapkan hadian apapun itu dari siapapun itu. Karena hadiah terinda adalah doa. Karena harapan terindah bisa kurangkai sendiri. Bukan hadiah lagi yang kuharapkan sekarang. Aku hanya ingi di usia ku yang sudah berumur dua puluh tahun, aku menjadi manusia yang lebih baik, sholeh dan bijak. Sangat sederhana, dan tak lupa aku ingin menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tua. Mamaaaaa *mulai lagi deh.

Menunggu pagi, suara takbir masih terdengar sayup-sayup, besok adalah Idul Adha dan korban, pengorbanan terbesarku, bukan lagi soal perasaan *itu namanya galau mas. Melainkan, melalui kerja nyata. Bismilah, menyongsong umur 21 tahun dengan semangat tinggi penuh pencapaian. God I wish..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s