Penakluk Lebah, Antara Semiotik dan Mitos


Sastra sebagai gambaran masyarakat, menjadi sarana yang cukup efektif dalam menggiring opini dan menyisipkan kepentingan-kepentingan penulis. Kepentingan itu berupa saran, kritik, amanat, maupun rasa simpati. Terlepas dari bagaimana gaya dan kemampuan pengarang dalam meramu amanat, pesan moral menduduki tempat yang penting dalam sebuah karya sastra. Wiyatmi (110: 2009) mengatakan bahwa moral dalam sastra sebenarnya tampak pada amanat. Lewat amanat itulah segala pesan, termasuk moral disampaikan.

Lebih lanjut Fenanie dan Satoto (26: 2000) mengatakan bahwa seniman termasuk di dalamnya para sastrawan, memang tidak dapat diidentifikasi sebagai seorang pahlawan dalam arti fisik. Namun, tidak dapat diingkari, bahwa karya-karya yang mereka lahirkan pada umumnya merupakan satu bentuk kepedulian yang sangat mendalam terhadap berbagai macam kepincangan yang terjadi setiap kehidupan manusia sesuai dengan perubahan yang sedang dan akan terjadi.

Sekalipun sastra menjadi mimesis kehidupan riil, namun ada kalanya sastra menciptakan penyimpangan-penyimpangan. Absurdisme, hal-hal yang bersifat hiperbola, mistis, dll, merupakan penyimpangan yang umum dilakukan. Akan tetapi, penyimpangan semacam ini bukan sesuatu yang salah. Penulis adalah seseorang yang secara otonom mengkonstruksi pemikiran-pemikiran, sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat tercapai

“Karya sastra memang tidak hanya sekedar untuk dinikmati, melainkan perlu juga dimengerti, dihayati, dan ditafsirkan. Karena itu, karya-karya sastra yang bersifat inkonvensional pun belum tentu tidak bernilai. Bahkan penyimpangan-penyimpangan yang muncul justru dapat dinilai sebagai satu bentuk kreativitas pengarang. Bagaimanapun juga pembaruan dalam kreativitas sastra sangatlah penting artinya.” (Fenanie dan Satoto, 19: 2000)

Dalam cerpen “Penakluk Lebah” karya S. Prasetyo Utomo teori inkonvensional terbukti. Hal ini dapat kita lihat pada penggambaran sikap lebah yang secara naluriah bergerak dan membangun rumah di atas tempat tidur Kiai Sodik. Tidak hanya itu, lebah-lebah itu juga mengucurkan madu tepat di bibir Kiai Sodik. Secara nalar, kejadian semacam ini tidak logis. Bagaimana puluhan atau bahkan ratusan ekor lebar memiliki dorongan melakukan kegiatan semacam itu.

Adapun kejadian tersebut terekam dalam kutipan berikut. “Kerumunan lebah madu begitu cepat menjadi gerombolan besar. Nyai Sodik cemas. Ingin mengusir lebah-lebah itu dengan kobaran api. Tapi Kiai Sodik melarang perbuatan istrinya. Dibiarkannya lebah-lebah itu membuat sarang. Mula-mula sarang kecil. Tapi cepat sekali berkembang menjadi sarang yang bundar. Aneh. Nyai Sodik merasakan keajaiban ketika sarang lebah itu kuyub madu. Madu memenuhi tiap liang sarang lebah, hingga leleh, dan tetes, tepat ke celah bibir Kiai Sodik. Kiai mencecap madu lebah itu. Tiap tetes madu, yang tepat menimpa bibirnya, dihisapnya. Nyai Sodik menatapi tetes-tetes lebah itu lambat laun menyegarkan wajah kiai.”

Selain itu anomali sikap lebah madu terhadap pencari madu pun juga menunjukkan sesuatu yang tidak biasa. Lebah madu yang biasanya tunduk pada pembakaran klaras, saat itu justru terlihat menantang. Tidak sampai di situ, mereka juga melakukan penyerangan kepada pencari madu, yang berniat mengambil madu tanpa sepengetahuan Kiai Sodik.

“Tapi aneh. Lebah madu yang diusirnya dengan asap dan api daun kelapa kering itu sama sekali tak terbang jauh, malah terus berdengung di sekitar kepalanya.

“Lebah-lebah itu hinggap di tubuh lelaki pencari madu. Kali ini lebah-lebah itu merubung dan menyengat seluruh tubuhnya. Lebah-lebah itu memasuki rongga telinga dan hidung. Menyengat pelupuk mata, bibir dan memasuki celah bibirnya”.

Sifat inkovensional ini bukan hanya menjadi satu kreativitas bagi pengarang. Akan tetapi, penyimpangan semacam ini bahkan juga dia manfaatkan untuk menyampaikan amanat. Gaya pengarang yang bermain dengan semiotika dalam menyampaikan amanat, menuntut pembaca untuk lebih cerdas dan kritis dalam memahami dan mengartikan sistem tanda. Sastra tidak pernah bisa lepas dari semiotik. Justru karena keberadaan semiotik ini, maka sastra memiliki esensi dan estetika.

“Sebagai ilmu, semiotika berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia, baik tanda verbal maupun nonverbal. Sebagai pengetahuan praktis, pemahaman terhdap keberadaan tanda-tanda, khususnya yang dialami dalam kehidupan sehari-hari berfungsi untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui efektivitas dan efisiensi energi yang harus dikeluarkan.” (Nyoman, 105: 2011).

Inilah yang menggiring kita pada pertanyaan berkaitan dengan pemilihan tokoh, konflik, dan juga latar belakang sosial yang dihadirkan oleh pengarang. Ada berbagai persoalan tersirat, yang memaksa pembaca untuk berpikir. Cerpen ini menyuguhkan dua alternatif makna, yang pertama berkaitan dengan kritik pengarang terhadap politik santun seorang pemimpin, sedangkan yang kedua berkaitan dnegan eksistensi religiusitas universal yang mengusung tema kun fayakun.

Penakluk Lebah, dapat kita maknai sebagai seorang pemimpin yang mampu mengedepankan kepentingan umat. Kalau Kiai Sodik bisa kita anggap sebagai seorang pemimpin, maka lebah adalah rakyat jelata. Lantas siapa sosok pencari lebah? Kita dapat mengasumsikan bahwa dia adalah seorang bawahan pemimpin atau seorang tamak yang berambisi menjadi pemimpin. Sosok Kiai Sodik menjadi tokoh sentral dalam cerita ini. Dia menjadi seorang pemimpin yang tidak hanya mampu mengendalikan namun juga arif. Keyakinan akan kebijaksanaan itu terlihat dalam petikan berikut “Tenanglah, lebah-lebah itu tak kan menyengat!”

Ketika dia menjamin demikian, maka dia sudah tahu betul bahwa kawanan lebah tersebut tidak akan mengganggu kalau tidak lebih dulu diusik. Hal ini terbukti. Kenapa kita membuat asumsi bahwasannya lebah adalah rakyat kecil? Rakyat kecil adalah manusia-manusia yang berkoloni dan bekerja bahu membahu untuk mempertahankan hidup. Mereka memiliki kekuatan ketika merasa terusik, dalam cerita ini kekuatan digambarkan dnegan sengatan. Mereka memiliki kecenderungan mendukung pemimpin yang peduli sekaligus memahami keberadaan mereka. Hal ini digambarkan dengan ulah kawanan lebah ketika Kiai Sodik sakit.

Penggambaran Kiai Sodik yang bijaksana, juga terlihat ketika pencari madu  mengatakan bahwa madu yang akan diambil itu untuk menafkahi keluarganya. Maka, Kiai Sodik memberi solusi, agar dia menemui istrinya dan mendapat uang serta bahan makanan. Artinya, sebagai pemimpin, dia mampu memberikan solusi. Dia tahu bahwa pemberian tersebut tidak kurang dan tidak berlebihan, sesuai dnegan kapasitas dan kebutuhan.

Akan tetapi, pencari madu yang diibaratkan sebagai seorang calon pemimpin rakus, merasa tidak puas. Dia mencoba peruntungan di lain waktu, dengan jalan mencuri. Namun, nasib naas terjadi. Karena dia mengusik rakyat, maka rakyat marah dan memberikan perlawanan. Kalau semua kejadian tersebut dihubungkan, maka peta politik perebutan kursi gubernur Jakarta, terlihat relevan. Mungkin asumsi ini terlalu jauh, namun secara semiologi keadaan politik di Jakarta mampu dijadikan salah satu contoh.

Jokowi yang notabene memulai perjuangan di kalangan akar rumput, lebih mudah memperoleh simpati. Dia bahkan mampu mematahkan hasil survei yang menyatakan bahwa Foke-Nara akan memenangi pemilu pada putaran pertama dnegan telak. Di sini mulai muncul pergerakan dan perlawananrakyat. Perlawanan itu bisa dilihat dari tidak mempannya money politic sampai isu-isu SARA yang dilontarkan. Artinya, dalam berpolitik dan memimpin seseorang harus membangun kultur yang beradab, adil, serta bijaksana.

Kalau kita mengasumsikan cerpen Penakluk Lebah  sebagai eksistensi religiusitas universal yang mengusung tema kun fayakun, maka akar permasalahan cerpen ini sangat sederhana, yaitu mempercayai bahwa kekuasaan Tuhan adalah segala-galanya. Bagaimana mungkin kawanan lebah yang sebenarnya memiliki pola hidup tersendiri memiliki insting yang terintegrasi dengan Kiai Sodik. Mengapa istilah kun fayakun dipilih? Karena ini mewakili salah satu ayat di dalam Al Quran. Dari sini, pembaca menjadi tahu, bahwa latar belakang religiusitas tokoh adalah agama Islam, terbukti dengan diceritakannya keadaan surau, beberapa anak yang tengah mengaji, serta penyebutan Kiai itu sendiri.

Pengarang ingin memberikan pesan, bahwasannya Tuhan dapat menjadikan apa yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Ini juga menegaskan, bahwasannya Tuhan tidak akn mengingkari apa yang menjadi firmanNya, bahwa kebaikan meskipun sekecil biji sawi selalu ada balasannya. Di sini diperlihatkan, dengan kecintaan Kiai Sodik terhadap lebah, maka Allah memberikan pertolongan juga dengan media lebah madu.

Sastra selain sebagai gudang dari amanat dan makna tersirat, juga berperan sebagai produsen mitos. Sebagaimana yang ditulis Ira Komang dalam artikelnya berjudul Menulis Sastra, Menciptakan Mitos di Jurnal Kreativa Vol. XII/Tahun IX/Agustus 2012, bahwa puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, menciptakan mitos baru, yang menyebabkan banyak orang menanti gerimis di bulan Juni.

Begitu pun dalam cerpen Penakluk Lebah, di sini tersisip satu mitos mengenai eksistensi Kiai. Dalam masyarakat Jawa khususnya, Kiai dianggap seseorang yang memiliki daya linuwih atau sering disebut wong pinter. Pengarang pun nampaknya jeli memasukan unsur tersebut, sehingga mengidentifikasikan Kiai sebagai manusia pilihan Gusti. Hal ini terlihat dalam petikan “”Akan datang seorang tamu. Seduhlah kopi kental dan suguhkan ketela goreng kesukaannya,” pinta Kiai Sodik.” Hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan lebih, karena bisa menerawang sesuatu yang belum terjadi, dalam hal ini kedatangan Gus Mus.

Selama ini Kiai memang diidentikkan dekat dengan Gusti sehingga diberikan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pada tataran ini sikap teguh dan keyakinan yang kadang tidak bisa diterima nalar, sering membuat orang tercengang. Akan tetapi, itulah konsep bahwa Allah akan menjaga orang-orang yang percaya dan mengimaninya berlaku.

Selain itu, boleh jadi cerpen ini juga digunakan untuk membendung arus pemikiran liberal Barat. Sastra menjadi semacam media perjuangan, dengan menghadirkan kearifan lokal, moral, dan juga religiusitas. Terlepas dari banyaknya unsur semantik pada tataran kedua dan juga keberadaan mitos, cerpen ini berhasil memberikan sumbangsih terhadap pemikiran sosial sekaligus rekonstruksi sikap dalam menghargai makluk ciptaan Tuhan.

 

 

 

 

Dr. Soediro Satoto, Drs. Zainuddin Fenanie M. Hum. Sastra: Ideologi, Politik, dan Kekuasaan. Muhammadiyah University Pers. Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s