Eksistensi Paranormalisme sebagai Sampul Kritik Sosial dalam Cerpen Kurma Kiai Karnawi


Lepas dari dunia mistis, dunia paranormal pun tak pelak ikut dikulik dalam karya sastra. Mistis dan paranormal sebenarnya memiliki keterikatan meskipun dua hal tersebut pada dasarnya berbeda. Mistis lebih mengacu kepada keadaan, sedangkan paranormal mengacu pada subyek atau pelaku. Namun tak dapat ditampik, bahwasannya, paranormal, berhubungan dengan mists, atau hal-hal yang di luar logika.

Awalnya perbincangan dan praktik-praktik berkaitan dengan paranormal pun hanya terbatas dilakukan oleh orang-orang tertentu. Bahkan orang-orang yang disebut sebagai paranormal, masih digambarkan sebagai orang yang tinggal di tempat angker, berpakaian layaknya dukun, dan untuk menemuinya cukup susah. Akan tetapi di era globalisasi yang seharusnya menafikkan hal-hal di luar logika, praktik perparanormalan justru semakin merebak. Untuk menemui paranormal tidak harus keluar masuk hutan di desa terpencil, cukup dengan medatangi tempat praktiknya di ruko maupun di hotel-hotel berbintang. Penampilan mereka pun tidak melulu serba hitam, misterius, dan juga memakai kalung dari empon-empon atau berbentuk tengkorak. Mereka sudah lebih modis, memakai jas atau bahkan untuk paranormal wanita memakai kerudung atau jilbab. Mereka banyak memasang iklan secara modern, baik di media cetak, elektronik, atau bahkan internet. Orang-orang yang berhubungan dengan paranormal pun sekarang lebih luas, dari kalangan masyarakat biasa sampai dengan pejabat dan kalangan artis.

         Alfathri Adlin (XXIII: 2007) menyatakan bahwa awalnya paranormalisme hanyalah muncul sebagai bagian dari perbincangan sehari-hari. Kemudian muncul media cetak yang secara khusus menyoroti dunia paranormalisme ini. Belakangan paranormalisme pun mermbes ke berbagai sinetron (dengan kualitas yang semakin lama semakin memprihatinkan), baik itu sinetron anak-anak, remaja maupun dewasa. Praktik paranormalisme ini juga banyak dilakoni oleh para politikus untuk kelanggengan jabatannya.

Masyarakat Indonesia, menganggap bahwa spiritualisme dan agama adalah sama. Maka pemaknaan keduanya menemui titik rancu. Agama dan spiritualisme sangat berbeda. Spiritualisme diartikan sebagai aliran filsafat yang mengutamakan kerohanian, sedangkan agama adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan. Memang, spiritualisme dan agama memiliki hubungan yang cukup dekat, sehingga masyarakat seringkali menafikkan perbedaan tersebut.

Lebih lanjut Alfathri Adlin (XVII: 2007) mengatakan bahwa bangsa Timur berbeda dengan masyarakat Barat yang telah sekian abad hidup dalam atmosfer sekulerisme, bangsa Timur (khususnya Indonesia) dalam sejarahnya tidak mengalami sekulerisme seperti yang terjadi di Barat. Sentimen terhadap agama masih tinggi, sehingga pengertian spiritualitas pun masih terikat erat dengan agama.

Dalam cerpen Kurma Kiai Karnawi karangan Agus Noor yang diterbitkan Kompas, wajar penulis mengangkat tokoh Kiai, sebagai salah satu representasi religiusisme. Mengapa harus Kiai? Kalau kita tahu, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Maka tak heran Kiai sebagai tokoh Islam, sekaligus tokoh yang dipandang memiliki kelebihan dalam masyarakat, diangkat sebagai figur yang berkharisma dan mampu menyelesaikan masalah. Menghadirkan tokoh yang dekat dengan masyarakat semakin memungkinkan, pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca tercerna dengan baik.

Sepintas kita mampu melihat bahwa pokok permasalahan dalam cerpen ini adalah santet. Pengarang sepertinya hendak membuai pembaca dengan gambaran-gambaran tragis dan mengenaskan. Pengarang ingin menggiring pembaca untuk memiliki persepsi bahwa pokok utama cerita adalah kehebatan Kiai Karnawi dalam menyembuhkan santet dan hal-hal yang di luar nalar. Terlebih, porsi penceritaan paling banyak memang berkaitan dengan santet. Hal ini dimulai dari cerita orang yang terlihat gosong terkena teluh, kemudian setelah memakan kurma dari Kiai Karnawi langsung mendapatkan semacam sengatan listrik. Tidak sampai di situ, orang tersebut juga mengeluarkan berbagai macam benda dari dalam tubuhnya, yang membuat semua orang di situ terbelalak, tak percaya.

Akan tetapi, hal yang menurut saya lebih hebat adalah, bagaimana cara Kiai Karnawi mampu meredam konflik antara aparat dengan masyarakat, lantas menangkap peluru yang hendak menyasar ke arahnya, serta mengeliatnya peluru dari kepala seorang bocah yang tertembak. Dari sini kita dapat mengetahui sejauh mana kehebatan seorang Kiai Karnawi. Semua itu lagi-lagi berkat kurma ajwah, yang diklaim sebagai pemberian Nabi Khidir. Lantas kejadian lain adalah seorang wanita hamil yang sudah 19 bulan tidak juga melahirkan anak yang dikandungnya. Akan tetapi, berkat kurma ajwah orang tersebut mampu melahirkan.

Untuk memperkuat eksistensi kiai sebagai seorang yang teepilih, maka penulis melalui tokoh lain dalam hal ini Umar Rais menceritakan bahwa Kiai Karnawi sering Jumatan di Masjid Nabawi dan shalat witir di Madinah. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin? Dalam ilmu spiritual, seseorang yang mendalami ilmu kebatinan memiliki kemampuan untuk meraga sukma. Meraga sukma adalah ilmu yang memungkinkan ruh pemilik jasad mengembara, sementara raganya tetap berada di tempat.

Secara semiotik, kita mampu memberikan pemaknaan terhadap kurma, Kiai Karnawi, kiblat, santet, dll. Secara bodoh, kita dapat mengasumsikan bahwa kurma merupakan simbol dari ajaran untuk mencapai suatu hakikat ketuhanan. Hal ini ada kaitannya dengan kiblat. Kiblat dapat diartikan sebagai arah, setiap ajaran pasti memiliki arah dan tujuan yang hendak dicapai. Siapa atau apakah dia? Tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.

“Bisakah kisanak tunjukan, yang mana pohon kurma ajwah yang ditanam kanjeng Nabi, 14 abad yang lalu,” ujar Nabi Khidir.

“Sebelumnya, maafkan sahaya yang daif ini, Sinuhun,” Kiai Karnawi bicara sopan, “bisakan Sinuhun memberi tahu terlebih dahulu, di manakah arah kiblat….”

Lalu Nabi Khidir menunjuk satu arah. Tepat, di arah yang ditunjuk itu terlihat satu pohon kurma.

“Terima kasih, Sinuhun. Itulah gerangan pohon kurma ajwah yang Sinuhun maksud..”

Selain itu, masih berkaitan dengan kurma, kalau kita memaknai kurma sebagai ajaran menuju Tuhan, maka hal ini relevan dengan kutipan berikut “Hanafi melihat sebutir kurma tersaji di piring seng yang sudah tampak kuno. Bergiliran, ratusan orang yang hadir mengambil kurma itu dan memakannya—atau ada yang mengantunginya untuk dibawa pulang—tapi di piring itu: tetap saja masih ada sebutir kurma….”. Artinya, ajaran ketuhanan diamalkan oleh berapa banyak orang pun tidak akan pernah habis.

Lantas siapa Kiai Karnawi? Kiai Karnawi dapat kita asumsikan sebagai utusan Tuhan yang memiliki banyak kelebihan, sehingga dia mendapatkan tempat dan posisi di dalam pranata masyarakat. Dia adalah perantara yang memiliki ilmu tinggi. Maka, tak heran jika kita bisa mengasumsikan santet sebagai cobaan hidup atau permasalahan yang dialami oleh manusia dalam menjalani hidup.

Di belakang kita akan mengenal sosok Umar Rais dan Hanafi secara lebih jauh, dua sosok bertolak belakang, yang ingin menggapai harapan dengan jalan yang berbeda. Strata sosial mereka agaknya menjadi menarik diperbincangkan ketika kita mencoba melongok pola pikir yang terdapat dalam diri masing-masing. Hanafi mewakili golongan rendah yang berpikir lurus dan main aman, namun berani bertindak. Sedangkan Umar Rais, merepresentasikan kebanyakan golongan atas masyarakat negeri ini, yang memiliki ambisi untuk dekat dengan kekuasaan, tentu dengan berbagai dalih. Hanya saja penulis kemudian menempatkan Umar Rais, pada kondisi yang bisa menyesuaikan diri dan penuh pertimbangan.

Dalam cerpen ini, juga banyak kritik sosial yang coba dikomunikasikan pengarang kepada pembaca. Pertama berkenaan dengan sosok pemimpin teladan. Seorang pemimpin hendaknya mau melayani masyarakat atau orang yang dipimpinnya. Ini terlihat dari cara Kiai Karnawi berbaur dengan berbagai golongan masyarakat. Seorang pemimpin hendaknya juga bijak serta netral. Ini terlihat dari upaya Kiai meredam konflik antara aparat dan masyarakat. Dewasa ini, kita seringkali mendengar pemberitaan terkait insiden serupa. Alih-alih membantu, pemimpin yang memiliki legalitas untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, justru mendukung para pemodal. Ini sekaligus menjadi sentilan keras terhadap para aparat yang seharusnya melindungi rakyat, justru seringkali melindungi orang-orang berduit. Tindakan represif aparat juga seringkali menimbulkan antipati dan kebencian luar biasa dari rakyat, terlebih korban yang jatuh kadang berasal dari golongan anak-anak.

Sebagai orang terpilih, dia masih tetap rendah hati, terbukti ketika dia menjawab Nabi Kidhir. Dia mengatakan bahwa dia orang yang daif, padahal semua orang sudah paham dengan kapasitas yang dimilikinya. Selain rendah hati dia juga orang yang sederhana, terbukti pada penggambaran rumah yang dilakukan oleh penulis. Penampilannya bahkan tidak seperti orang yang kharismatik, dengan guyonan khas Kiai menyebut bahwa dia adalah kiai jadul. Dia juga memiliki wibawa tanpa harus mengulik hadis dan ayat sana-sini.

Selama ini pimpinan justru lebih sering arogan, sehingga semua perintahnya harus dipatuhi tanpa mau memikirkan dampaknya terhadap orang lain. Selain itu budaya pemimpin sederhana tampaknya menjadi hal yang langka di negeri kita tercinta. Lebih sempit ketika kita membicarakan kiai atau ustadh atau siapalah itu yang disebut sebagai pemuka agama, maka kita akan menemukan bahwasannya mereka gemar dengan popularitas. Kita tidak tahu dengan latar belakang seseorang, tiba-tiba masuk televisi dipanggil ustadh, masuk infotainment, sering mengutip hadist dan ayat sana sini, padahal belum tentu mereka paham dengan apa yang mereka bicarakan. Kalau anak muda sekarang bilang, ustad-ustad semacam tersebut adalah banci kamera atau banci infotainment.

Penulis mencoba menguak realitas yang sedemikian dekat dengan masyarakat yaitu KKN. Hal ini tercermin dari keinginan Umar untuk terjun di politik. Menurut dia, menjadi pengusaha tidak cukup, tanpa ada dukungan politik atau mengenal kolega di pemerintahan. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan betapa bobroknya birokrasi negeri ini. Bahkan partai menurutnya memiliki jiwa enterpreneurship yang lebih  dibandingkan pengusaha itu sendiri. Maka, tak heran sekarang ini para pengusaha berbondong-bondong masuk ke dunia politik.

Cerpen ini juga ingin menyentil, bahwa orang-orang tanpa kepentingan cenderung merasa bebas dengan masyarakat. Hal ini terlihat dari perasaan Haafi, yang beranggapan kalau majikannya semenjak mengikuti parpol menjadi sering tegang dan bersikap berbeda. Perubahan ini pula yang membuatnya merasa tak nyaman. Memang, kalau kita melihat seorang pejabat yang memiliki kepentingan, disadari atau tidak, mau atau tidak, secara reflek akan membentuk semacam jarak, dengan orang-orang yang katakanlah tidak satu strata dengannya.

Terkadang, dalam hidup, apa yang baik buat kita, belum tentu baik menurut orang lain. Lihat saja Pak Umar boleh saja menganggap pencalonannya sebagai seorang Wali Kota adalah amanat dan demi kebaikan. Namun toh nyatanya dia juga main suap dengan membagi-bagikan amplop. Iniah potret buruk dari politik di Indonesia. politik uang. Namun dengan menafikkan semua itu, ada satu sosok yang tidak mau kalau Pak Umar mencalonkan diri sebagai seorang Walikota.

Di sini Pak Umar bersifat pragmatis atau oportunistis. Dia mengatakan bahwa pencalonannya sebagai walikota adalah amanah yang harus dijalankan. Dia tahu benar seperti apa dunia birokrasi di Indonesia. Menjadi walikota dengan masuk ke dalam politik, tidak membuat Pak Umar tergugah untuk membenahi carut marut kotornya birokrasi, melainkan, ingin mendapatkan relasi yang sekiranya dapat membantunya menang tender. Ini sudah bagian penyelewengan wewenang.

Cerpen ini juga secara blak-blakan mengkritik habis para penguasa yang dengan dalih amanah menduduki kursi pemerintahan. Setelah terpilih mereka merampok uang rakyat baik untuk memperkaya diri sendiri atau memperkaya partai. Hanafi tidak berolok-olok, kala menyebutkan bahwa dia takut majikannya itu akan terseret ke kursi KPK. Selama ini, betapa banyak pejabat yang satu per satu terkuak belangnya. Satu tersangka akan menyeret tersangka yang lain. Kejadian ini mengingatkan saya pada tragedi apel Washington dan apel Malang. Tak lupa yang tengah jadi perbincangan adalah seputar Proyek Hambalang dan Wisma Atlet serta Kasus Simulasi SIM di Kepolisian.

Apabila kita tadi mengasumsikan kurma sebagai ajaran, kemudian Kiai Karnawi sebagai seorang yang terpilih atau seorang pemuka yang disegani, maka antara keduanya pun terdapat kritik sosial. Selama ini orang tidak mementingkan apa yang diajarkan, melainkan siapa yang mengajarkan. Ini terlihat, betapa percayanya Pak Umar terhadap kurma dari Kiai Karnawi, sehingga atas dasar sugesti yang sudah dia gunungkan sebelumnya, dia bahkan tak sadar bahwa kurma yang dia makan adalah kurma yang berasal dari pinggir jalan. Ini yang saya sebut sebagai ajaran Ketuhanan itu bersifat universal, kebenaran yang diajarkan pun kebenaran universal, artinya selama itu berpatokan pada dasar yang jelas maka diutarakan oleh orang golongan bawah atau atas pun sama saja. Namun, masyarakat kita memiliki kencenderungan menuhankan kedudukan. Bagaimana seseorang membungkuk-bungkuk kepada mereka yang kemiliki kedudukan, namun ada kalanya, mereka menafikkan keberadaan bawahan yang sebenarnya memiliki posisi yang sangat penting. Akan tetapi di sisi lain, ini juga menggambarkan kekuasaan Sang Maha. Sebaik apapun kita merencanakan skenario kehidupan, namun Tuhan tidak tidur. Dia memiliki rencana tersendiri yang tidak dapat diintervensi oleh siapapun.

Terkait dengan pemaknaan, peran paranormal di Indonesia menduduki tempat yang cukup penting. Ki Gendeng Pamungkas sebagai paranormal yang sudah sering menerima order santet mengakui bahwa hukum di Indonesia sedikit banyak mendapatkan campur tangan kekuatan lain. Dia mengenalkan santet putih, artinya santet yang berakibat tidak secara tragis, melainkan hanya menggiring pemikiran seseorang untuk tunduk terhadap kemauan kita. Misalnya, mempengaruhi putusan hakim dalam menjatuhkan vonis. Hal ini juga dibenarkan oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Hendarman Supandji yang dilansir dari Majalah Misteri. Beliau menyatakan bahwa praktik santet memang sudah merajalea di kalangan kejaksaan.

Inilah yang menjadi titik tolak cerpen Kurma Kiai Karnawi, paranormalisme dibenturkan dengan agama. Di sini, mungkin agak singkron, ketika paranormal yang difigurkan adalah sosok Kiai yang notabene sejalan dengan pemikiran Islam, sekaligus menjadi sosok yang memiliki tempat tersendiri dalam masyarakat. Padahal siapa yang menurunkan ajaran? Siapa yang menurunkan orang-orang terpilih tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah Tuhan Yang Maha Esa, atau karena saya seorang muslim, saya menyebutnya sebagai Allah.

Lebih lanjut, cerpen ini secara keseluruhan mampu menciptakan kengerian sekaligus kekonyolan. Dalam paragraf-paragraf awal, kita akan menjumpai penggambaran yang begitu kuat sehingga pembaca seperti terbawa dalam suasana kekalutan yang menjijikan. Pengarang memang memiliki wilayah otonomnya sendiri, akan tetapi dalam cerpen ini, tidak digambarkan secara jelas posisi Pak Umar. Sehingga pembaca masih kabur, apakah kemenangan itu bisa dikatakan kemenangan yang baik atau justru sebaliknya.

2 responses to “Eksistensi Paranormalisme sebagai Sampul Kritik Sosial dalam Cerpen Kurma Kiai Karnawi

  1. Paranormalisme sudah mengakar amat kuat dalam diri bangsa Indonesia terlepas apa pun agamanya. Tema-tema mistis akan selalu menarik untuk dibahas

    • memang benar apalagi dalam karya sastra yang memang memiliki sifat sangat terbuka terhadap berbagai hal, dia independen, bisa dilihat dari sudut pandang apapun, bahkan terhadap seuatu yang boleh dikata mustahil🙂 terima kasih apresiasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s