Dimensi Mistis dan Eksistensi Religiusitas Kejawen dalam Cerpen Rumah


Mistis dan eksistensi religiusitas/kepercayaan dalam suatu daerah, merupakan topik menarik untuk diaktualisasikan ke dalam sebuah karya sastra. Pengangkatan eksistensi ini, berkaitan dengan tingkat efektivitas penyampaian pesan kepada masyarakat. Artinya, bagaimana materi mitos tersebut mengkonstruksi satu paradigma sugestif.

Roland Barthes (154: 2004) mengungkapkan bahwa wicara mistis dibangun oleh materi yang telah dibuat sedemikian rupa agar cocok untuk komunikasi: itu semua karena semua materi mitos (apakah berbentuk gambar atau tulisan) mengisyaratkan sebuah kesadaran akan pemaknaan, sehingga orang bisa berpikir tentang materi-materi tersebut tatkala ia mengabaikan substansinya.

Dalam beberapa dekade, mistik Jawa mengalami degradasi. Hal ini dapat kita lihat, dari awal kemunculan dan perkembangan agama Islam. Akan tetapi, nyatanya konsep Kejawen belakangan malah menjadi trend tersendiri. Gejala menyeruaknya kepercayaan ini, belakangan banyak juga diulas dalam bentuk tulisan.

Kuntowijoyo (39: 2006) menemukan fakta menarik bahwa di samping adanya erosi nilai-nilai budaya tradisional, ada pula gejala retradisionalisasi. Kita sudah menyinggung kebangkitan aliran kepercayaan sebagai formalisasi dari etika dan mistik Jawa. Selain itu ada minat untuk memakai lambang-lambang tradisional di kalangan masyarakat,  terutama dalam upacara-upacara, seperti upacara adat penjemputan pejabat, pamiwahan pengantin, pemakaian lambang-lambang seperti pemiaraan klangenan (burung atau kukila dan kuda atau turangga), jimat-jimat, dan pusaka-pusaka dan pembentukan lembaga-lembaga kekeluargaan (trah, keluarga besar).

Lebih lanjut, Kuntowijoyo (48: 2006) menambahkan bahwa sistem pengetahuan dalam masyarakat Jawa tradisional merupakan pertemuan yang unik antara kategori sosial secara vertikal dan kategori kultural secara horisontal. Di sini ditemukan garis vertikal istana desa dan gatris horisontal sistem pengetahuan Islam dan kejawen. Karena itu kandungan pendidikan humaniora dapat bersifat lintas tipe, sekalipun masih banyak alasan yang mendukung validitas tipologi.

Cerpen Rumah, karya Ahimsa Marga, yang dimuat oleh Kompas 23 September 2012, pun sedikit banyak menyinggung keberadaan mistis Jawa. Tokoh Mey, digambarkan sebagai sosok kecil yang tak pernah memiliki tetangga. Saya asumsikan bahwa tetangga yang dia maksud bukanlah tetangga sebenarnya, melainkan sosok halus. Hingga suatu ketika, dia melihat bunga kacapiring. Kacapiring atau dalam bahasa ilmiahnya bernama Gardenia augusta merupakan perdu hias, bunganya wangi, putih dengan daun bunga yang bersusun-susun. Bunga ini melambangkan cinta yang terpendam. Suasana mistis semakin terbangun ketika dia bermimpi bertemu dengan bidadari, mencium aroma kembang setaman, dan mendengar suara Gending Asmarandana. Gending Asmarandana dalam falsafah Jawa melambangkan suasana sedang dimabuk asmara. Saya mengartikan asmara, sebagai pertemuan antara aspek badaniah dan rohaniah.

Itulah awal pertama dia bersinggungan dengan ‘tetangganya’ tersebut. Berkenaan dengan tidur dan mimpi, dalam budaya Jawa dikenal istilah ‘ngelindur’, melakukan sesuatu di kala tidur atas perintah alam bawah sadarnya. Fase inilah yang membuat kenyataan dan halusinasi serasa tanpa sekat. Bagi seorang anak indigo fase semacam ini mengindikasikan dia mulai menyadari hakekat dirinya. Dalam kaitannya dengan cerpen ini, dia mulai menyadari keberadaan ‘sesuatu’ yang lain. “Mimpiku macam-macam, kadang mimpi itu melompat jadi kenyataan. Kadang kenyataan melompat jadi mimpi. Keduanya sering bertukar tempat, sampai aku tak bisa membedakannya.”

Mata batinnya yang mulai terbuka atau dalam bahasa kebatinan dinamakan cakra ajna, membuat dia menyadari kenyataan lain. Bahwa dia tidak sendirian, sehingga kewaspadaannya meningkat. Tidak hanya itu, kejadian traumatis yang membuatnya tak lagi tidur, merupakan fase-fase awal dia menyadari hakekat kebatinan kejawen yang selalu bersinggungan dengan mistis dan segala bentuk falsafahnya. Saat tahap itu terlalui, maka cakra ajna yang terbuka, menggiring dia pada pertemuan dengan berbagai makhluk yang sebelumnya tak pernah dia temui. Semacam binatang-binatang.

Terbukanya mata ajna, membuat dia mampu melihat dunia dengan persepsi lain, hal ini dibuktikan ketika dia pulang ke rumah (dapat diartikan sebagai proses kembali menuju titik kesadarannya), dia mendapati sesuatu yang tetap, namun terasa berbeda. Maka tak heran, ibunya mengatakan “Rumah ini tak pernah berubah, May. Dari dulu seperti ini. Kau kebanyakan tidur, jadi tak melihat apa-apa.”

Artinya semua hal itu sudah ada, hanya saja May belum menyadarinya, karena mata ajna masih tertutup. Namun bangkitnya kesadaran ini adalah sesuatu yang patut disyukuri, terlihat dari ekspresi ibu May, yang tersenyum mendapati anaknya tidak lagi sebagai seorang penidur.

Hingga suatu siang dia bertemu dengan sosok asing yang sudah pernah ia temui. Dari pertemuan itu dia singgah. Namun itu bukanlah pertemuan lahiriah, melainkan pertemuan batin. Terlihat dari petikan “Aku tersentak. Perlahan mulai kulihat gambar bergerak dari banyak peristiwa yang telah lewat….” Ini bukan lagi fase halusinasi, melainkan dia benar-benar sudah mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Karena dalam dunia mistik Jawa halusinasi dan kemampuan spiritual adalah dua hal yang sangat berbeda.

Begitupun kegiatan pulang pergi, kunjung mengunjungi. Itu bukanlah aktivitas fisik, melainkan aktivitas batin. Maka tak heran, bahwa apa yang dia kunjungi tersebut merupakan bagian dari dirinya, maka terlontarlah pernyataan “Kau sedang menemui bagian terbaik dirimu.” Bagian terbaik dimaknai sebagai aspek rohaniah, mata batin yang suci.

Akan tetapi untuk sampai pada tahap ini, maka dibutuhkan beberapa proses yang sulit. Tak jarang seseorang yang mencoba memasuki dimensi lain, mendapatkan tantangan yang cukup berat. Intervensi dunia ghaib, terlihat dari kutipan “Tapi jalanan pergi dan pulang tak selalu mulus. Beberapa kali kakiku terantuk batu dan berdarah. Pernah sekali tubuhku dibanting angin yang tiba-tiba menerjang dari depan. Tak jarang aku terkilir oleh sebab tak jelas. Padahal kupikir aku cukup hati-hati.”

Aktivitas batiniah ini, yang kemudian mempertemukan May dengan ‘teman-temannya’. Hal ini terlihat dalam petikan “Kau punya dua saudara sejiwa yang jarang kau sapa, empat penjaga satu sukma-jiwa yang tak pernah kau ajak jalan bersama”.

Ini memakai konsep Sedulur Papat Kalima Pancer. Dalam kejawen, sudah jamak penyebutan ‘Kakang Kawah Adi Ari-Ari’. Dalam konsep ini juga dikenal lima warna, yang mewakili tiap unsur.  Lima warna ini berarti menghormat pada ‘keblat papat kalima pancer’. Penganut Kejawen percaya eksistensi dari sedulur papat kalima pancer yang selalu menyertai, membantu, dan melindungi seseorang selama hidup di dunia. Maka kepercayaan kejawen memberi penghormatan yang tinggi kepada mereka, yang antara lain.

v  Kakang kawah, saudara tua kawah. Dia keluar dari gua garba ibu sebelum seorang bayi lahir, tempatnya di timur, warnanya putih. Saudara ini dinamakan Wahman. Namun sebelum proses kelahiran sebenarnya ada yang dinamakan Watman, yaitu upaya pertama seorang ibu yang melahirkan bayi (proses mengejan). Dia sebagai pelindung fisik.

v  Adi ari-ari, dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah bayi, tempatnya di barat warnanya kuning. Seringkali disebut Ariman. Dia dinamakan sang pengantar.

v  Getih, atau darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan, warnanya merah. Ia diberi nama Rahman. Pembantu setia manusia dalam menemukan jati dirinya terhadap Tuhan.

v  Puser adalah pusar yang dipotong sesudah kelahiran, tempatnya di utara, warnanya hitam. Memiliki makna filosofi sebagai penghubung antara manusia dengan ‘ibu’ kehidupan, yaitu Tuhan.

v  Titik sentral dari semua itu jasmani bayi itu sendiri, yang dinamakan Kalima Pancer. Warnanya merah dengan titik putih di tengah. Memiliki filosofi penghormatan kepada orang tua atau leluhur. Dalam khasanah kejawen, dia mewakili Kiblat Pancer.

Mereka berlima dilahirkan oleh ibu yang disebut Mar dan Marti, berbentuk udara. Mar adalah udara yang dihasilkan ketika proses kelahiran dan Marti adalah udara yang dihasilkan sebagai wujud kelegaan karena selamat dalam melahirkan. Secara mistik kedudukan Mar Marti sebagai ratu yang mempunyai posisi tertinggi. Memiliki warna putih dan kuning. Dalam cerpen dia sebenarnya terlihat dalam petikan “Suatu hari, entah kenapa, aku kangen pulang. Aku berpamitan. Ibu pemilik rumah memelukku. Dengan lembut ia berpesan, “Kau boleh kembali kapan saja. Ini rumahmu juga. Ibu mencintaimu….”” Begitu pun yang disebut dengan ibu sepuh.

Berkaitan dengan semua itu, saya ingat kebudayaan Jawa yang sanagt menghormati, segala wujud yang menyertai proses kelahiran. Misalnya ari-ari, mereka akan menguburkannya di dalam rumah, kemudian memberinya bunga dan tak jarang diberi lampu kecil sebagai penanda. Supaya tidak terinjak-injak, mereka akan membuat pagar kecil. Begitu pun dengan pusar, tali pusar yang putus akan mereka balut dengan kain mori dan disimpan.

Dari cerpen ini, saya beranggapan bahwa ibu May adalah penganut kejawen yang kuat. Terbukti dengan dibuatnya sesajen untuk May. Hal ini, melontarkan ingatan saya pada kebiasaan nenek yang membuat sesaji berupa jenang merah dan putih pada takir (sebuah wadah yang dibuat menggunakan daun pisang), air bunga, kopi, teh, dan kembang setaman. Semua itu ditaruh di tampah, kemudian diletakkan di bawah kolong tempat tidur setiap kali sampai pada weton cucu-cucunya.

Menyoal rumah, penulis menitikberatkan rumah sebagai tempat berlindung dan merasakan kenyamanan. Pemaknaan rumah dalam cerpen ini adalah hakekat kehidupan seorang May. May juga menegaskan, bahwa meskipun rumahnya selalu terbuka namun tak ada yang bermain, mungkin karena dia juga tak pernah bermain. Dalam kejawen, untuk dapat berkomunikasi dengan Sedulur Papat Kalima Pancer adalah dengan sering-sering menyapa, melalui berbagai amalan.

Lantas sebagai epilog, dia menyuguhkan pernyataan semacam ini “Di ruang yang paling lapang di dalam rumahku, aku merasakan semua di dalam semua.” Artinya May menyadari di ruang yang paling lapang (jiwa) di dalam rumahku (di dalam kehidupannya) adalah memahami semua yang melingkupi hidupnya. Baik yang kasat mata atau tidak. Antara Mei dan saudara-saudara kasat matanya adalah satu, mereka saling terikat.

Apa yang terurai dalam falsafah kejawen hanyalah simbol. Ketika Islam masuk, maka paradigma sedulur papat kalimo pancer ini sedikit bergeser. Sesungguhnya sedulur papat adalah manifestasi dari malaikat Jibril, Izrafil, Mikail, dan Izrail. Sedangkan kalima pancer adalah manifestasi dari ‘aku’ yang sejati. Perjalanan May dalam menemukan teman-temannya adalah perwujudan seorang manusia yang menemukan kesejatian. Terlebih dalam cerpen tersebut sempat disinggung, mengenai Mahkota Cahaya (hakikat menuju Tuhan) yang masih terbenam di dalam kotoran yang menumpuk dari enam binatang. Binatang-binatang tersebut merupakan manifestasi dari nafsu manusia.

Terlepas dari semua itu, cerpen ini juga sempat mencuatkan satu satire sosial yang cukup menohok. Terlihat pada bagian ini “Hobiku yang tak terpuji itu tak jauh dari cerita tentang seorang anak laki-laki yang sulit dibangunkan untuk sekolah. Ia tak mau sekolah, karena, “Bosan. Teman-teman di sekolah suka malak. Aku mau tidur saja.”

Sang ayah menghardik, “Tapi kau harus bangun. Ke sekolah itu tugas. Umurmu sudah lebih 40 tahun, dan kau kepala sekolahnya!” [1]”. Ini menunjukkan bagaimana tanggung jawab kadang terabaikan, hanya karena satu permasalahan.

Secara umum, makna dari cepen ini sangat mendalam. Hanya saja, perlu waktu untuk memilah mana kenyataan, mana mimpi. Batas kedua hal tersebut sangat-sangat tipis, bahkan kadang tidak mampu dibedakan. Alur, sebagai satu kesatuan, sangat sulit dipahami.

 

Daftar Pustaka

Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat Edisi Paripurna. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Roland Barthes. 1983. Mythologies. Nurhadi dan A. Sihabul Millah. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

 

 

 

Mythologies. Hill and Wang, New York, 1983. Roland Barthes

Penerjemah. Nurhadi, A. Sihabul Millah. 2004. Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s