Dhedhemit Cinta


Orang sibuk membicarakan cinta, bagiku cinta itu semacam persetan yang tak punya hati. Dia bukan malaikat putih dengan sayapnya yang bercahaya. Cinta adalah ketidakpercayaan, yang menjelma menjadi racun. Bisa yang membuatmu menggelepar dan mati dalam beberapa detik. Orang sibuk berdiskusi tentang hubungan. Hubungan adalah semacam kegilaan yang membuat rasamu diremuk redam dan juga kemarahan yang sedih.

Aku bahkan curiga dengan diriku sendiri, bahwasannya aku bukanlah seorang manusia yang normal. Kupikir aku adalah potongan daging yang disatukan membentuk satu wujud, tanpa hati, tanpa jiwa, dan juga perngharapan. Orang bilang, manusia hidup tanpa harapan artinya dia mati. Aku memang sudah mati sejak kemarin. Kuburku tak jauh dari sebidang persawahan yang merekah bongkah karena kemarau. Itulah bidang cinta. Nisanku sudah diberi nama, Tuan Kesendirian. Menyedihkan bukan? Namun aku tak perlu ada simpati atau pelayatan atas keberkabungan ini, tidak, tidak perlu. Kecuali kau adalah pelayat yang kucintai dan mencintaiku. Namun betapa absurdnya pelayat yang demikian. Mungkin dia tidak akan memakai gaun, kaca mata, dan topi hitam.

Kau cukup mengirimkan bunga, bunga tujuh rupa, atau tambahkan dua sehingga genap sembilan. Jangan lupa bakar kemenyan, dan kuburkan aku dua meter di bawah tanah. Aku tak akan menggugat. Bukankah sudah seharusnya cinta dipendam tak terlalu dalam, tak juga terlalu dangkal. Kalau suatu ketika dia bersuara, maka dia sudah menjadi dhedhemit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s