Tamu Itu Bernama Kesepian


Malam ini seorang tamu tanpa wujud bertandang ke terasku. Sebenarnya bukan sekali ini dia datang, bahkan sudah sangat sering. Tamu itu bernama kesedihan atau semacam kesepian, atau kegelisahan, kegundahan, galau. Entahlah, tamu tersebut sangat abstrak untuk dilukiskan. Pernah aku mengusirnya dengan dentaman dari headset, namun gagal. Dia malah jauh menerobos masuk, sedang aku gagal mencegah.

Dia asing, bahkan aku tak mengenalnya. Datang dari antah berantah manapun, aku tak pernah tanyakan, sebab dia selalu terdiam sambil tertunduk. Sekali aku menggertak dengan cinta, namun suatu ketika pembalasan dendam menyeruak. Cintaku terbirit bagai di kejar anjing. Aku sendiri tak punya senjata apapun, jauh merasa kesepian dibandingkan sebelumnya. Untuk itulah, aku tak berani melawan, kubiarkan dia menjadi tamu yang setia, tamu yang tetap, tanpa mampu kugugat. Sekali dua aku tak lagi menghardik, karena sepertinya dalam hatiku dia berjodoh.

Tuan, begitu aku menamakan diriku. Tuan yang lemah dan reyot, seperti gubuk yang dimilikinya. Betapa kenelangsaan makin menggerogoti, lebih cepat dari rayap menikam. Dia menjadi satu sosok yang mengunyah dengan lahap seperti virus, datang menyergap seperti sekawanan intel, atau juga mencekik diam-diam bagai sesosok hantu.

Pernah aku bertanya pada sosok sahabat yang tegak berdiri dengan dua kakinya, disinari matahari pada wajahnya. Dia tersenyum, katakan bahwa kesepian adalah makhluk yang membahayakan. Bahkan di antara ketegarannya yang kentara, dia menderita kehampaan kronis. Aku mencoba menelusur darimana datangnya kehampaan, kususuri gang-gang kecil, lorong-lorong gelap, serta labirin pemukiman yang tak bersahabat. Rumah itu nampak megah namun angkuh, nampak indah namun maut, nampak menjanjikan namun beringas. Bangunan itu kusebut cinta.

Orang bilang cinta melahirkan kompleksitas. Kusapa dia, nihil, tak menjawab. Kudengar suara-suara memanggil, berbisik, namun hatiku tak mau bicara. Dia membisu dan merana. Tuan sekalian atau juga nyonya, sudah pernah kukatakan bahwasannya cinta hanya hati yang bicara. Kesedihan adalah dimana cinta semacam bayangan yang berkelebat indah namun tak terenggut. Bukan Tuan, aku sedang tidak ingin meneteskan air mata. Karena hatiku sendiri sudah mulai menetes sejak akan pergi tadi.

Maka sejak kala itu, kuputuskan untuk berbalik pulang ke gubuk reyotku. Di sebuah gubuk kesendirian, tempat yang memungkinkan aku untuk beristirahat dengan tenang. Tak peduli berapa banyak hujan dan badai kadang menerpa beranda, tak peduli seberapa sering sosok kesedihan itu berkunjung. Nyatanya, jauh sampai malam ini aku tetap tak dapatkan identitasnya yang nyata. Dia menjelma menjadi teroris baru, teroris yang sudah meledakkan nuklir di depan rumah. Dia membuatku sekarat tanpa penyakit, dia membuatku terkapar. Aku, mungkin mati malam ini…

Tuan, saya bicara pada Anda, kalau suatu ketika cinta datang dengan nur putihnya, maka katakanlah aku pergi tinggal nama. Biar dia mencariku di seonggok kalbu….

2 responses to “Tamu Itu Bernama Kesepian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s