Revitalisasi Mental Dulu, Baru Wajib Militer


Belakangan saya dengar selentingan, DPR tengah menggodok Rancangan Undang-Undang berkaitan dengan bela negara atau komponen cadangan negara gitu lah. Dari kabar burung yang beredar, kalau sampai undang-undang tersebut disahkan, kemudian Kementerian Hukum dan HAM (atau Kementerian Pertahanan? Intinya salah satu dari kementerian ini, saya lupa) resmi memberlakukannya, maka akan diberlakukan wajib militer bagi para pemuda yang berusia di atas 17 tahun. Tak ada reaksi lain kecuali tertawa geli. Negara ini makin hari makin lucu saja. Memang benar, bahwa dari pihak kementerian sendiri sudah menampik hal tersebut dan mengatakan kalau itu opsional. Namun, kalau sampai itu benar-benar terealisasikan saya yakin akan muncul banyak perdebatan dan masalah. Saya memang tidak tahu apa-apa mengenai militer, pendapat saya ini pun boleh dikatakan pendapat raba-raba.

Belum juga undang-undang disahkan, polemik di forum-forum diskusi sudah ramai. Jelas, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Bagi mereka yang pro, penyelenggaran wajib militer menjadi hal yang vital dilakukan, mengingat ancaman dari luar semakin besar. Namun, pihak yang kontra pun memiliki segudang alasan untuk mementahkan pendapat tersebut. Saya di sini tidak akan memihak pada kubu pro ataupun kontra (hanya saja saya cenderung berada di pihak yang kontra. Hehe…)

Saya setuju saja wajib militer diberlakukan di Indonesia untuk memperkuat komponen cadangan negara, mengingat beberapa negara, seperti Korea, dll. Juga melakukan hal yang sama. Akan tetapi, saya kira ada yang lebih penting untuk dibenahi daripada sekedar latihan teknis berperang. Jangan sampai pemberlakuan wajib militer ini justru menjadi blunder dan bumerang bagi pemerintah. Ibarat peribahasa seperti pagar makan tanaman.

Kita lihat saja fakta di masyarakat. Tidak diberlakukan wajib militer saja, praktik militerisme sudah berkembang di lingkungan akademik, sosial, dan pemerintahan. Tingginya angka kriminalitas, sering bentroknya aparat dengan rakyat, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap peraturan akan menghambat kemungkinan terjadinya wajib militer. Alasan konyol dan simpel yang mungkin saya ajukan adalah, tidak diajari wajib militer saja orang sudah jago untuk tawuran, melakukan kriminalitas, dan perang, apalagi kalau mereka nanti diajari teknik dan segala macam. Mereka pasti akan semakin jago. Ingat PETA? Jangan sampai Indonesia berposisi sebagai Jepang. Apakah pemerintah bisa menjamin, bahwa wajib militer tidak akan memberikan celah untuk melakukan pemberontakan dan menghimpun kekuatan rakyat untuk balik menyerang pemerintah? Jelas ini mengancam kedaulatan.

Kenapa saya mengajukan alasan sering bentroknya aparat dengan rakyat? Saya khawatir keberadaan wajib militer justru akan melegitimasi aparat melakukan kekerasan terhadap rakyat. Kalau rakyat memiliki kekuatan yang sudah seimbang dengan aparat? Mau jadi apa? Selama ini aparat kita belum bisa menghadapi situasi secara baik, saya jadi ingat kasus penggusuran makam Koja, tindakan sewenang-wenang aparat dalam kasus penggusuran lahan warga untuk perkebunan, tindakan sewenang-wenang aparat dalam menggusur pedagang kaki lima. Itu semua menimbulkan kekhawatiran, bahwa dengan mental yang buruk aparat akan semakin sewenang-wenang. Mereka berpikir memiliki kekuasaan. Bentrok akan semakin sering terjadi. Naasnya, aparat selama ini lebih suka mengamankan kepentingan pemodal.

Kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap peraturan juga menjadi masalah tersendiri. Jangan dikira di Indonesia tidak ada mafia. Kalau selama ini saja, ketika banyak orang masih belum bisa menggunakan senjata api, peredaran senjata api ilegal sudah banyak. Bagaimana kalau semua orang banyak yang pinter makainya? Dar der dor. Tentu senjata api yang beredar di kalangan masyarakat akan semakin banyak dan menjadi teror tersendiri. Saya sedang tidak ingin beromong kosong, kita harus jujur bahwa masyarakat kita bukanlah masyarakat yang mudah untuk ditertibkan. Dengan demikian kriminalitas mungkin bisa menyamai Las Vegas

Namun dengan menafikkan semua fakta konyol itu, ada alasan lain yang lebih urgent. Kenapa kita tidak memikirkan perbaikan mental dulu, baru melakukan wajib militer? Sekarang jawab dengan jujur, mana yang lebih penting dan mendesak dilakukan? Selama ini problematika di Indonesia, tidak lain adalah kesadaran hukum masyarakat Indonesia yang rendah, korupsi yang merajarela, ancaman disintegrasi, kapitalisme, serangan dalam bentuk produk dan budaya, bukan lagi agresi fisik. Semua itu datangnya dari intern. Apakah wajib militer difungsikan untuk memerangi bangsa sendiri. Dengan apa? Bedil? Revolver? Senapan? Meriam? Tidak. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan pembenahan mental.

Kalau kita mengkondisikan setiap orang dengan mental yang kuat, sadar akan hukum, jujur dan bersih, tidak mudah tergantung, pantang menyerah, adil, gotong royong, persatuan, menghargai perbedaan, dan segala bentuk kearifan bangsa kita jaman dulu, maka kita sudah memenangkan peperangan. Komponen cadangan negara hanya dikerahkan ketika negara mengalami kondisi darurat. Kemungkinan itu sangat kecil, meskipun ada. Selama ini perang (khususnya di kawasan ASEAN), merupakan jalan primitif. Sebab Indonesia (saat ini sebagai Ketua ASEAN) lebih mengedepankan negosiasi diplomasi. Tanpa wajib militer sekalipun, ketika perang benar terjadi, saya yakin segenap masyarakat Indonesia akan berjuang dengan cara mereka masing-masing. Ingat bagaimana reaksi masyarakat ketika beberapa kali kita tersandung masalah dengan Malaysia?

Kita juga harus mengingat perjuangan kemerdekaan dulu. Bagaimana rakyat Indonesia yang notabene hanya berbekal bambu runcing, tombak, dan keris, mampu menaklukan penjajah yang bersenjatakan jauh lebih canggih? Semua itu karena mental mereka tangguh, mental mereka baik. Bukan karena mereka memiliki kemampuan berperang, namun karena mereka memiliki spirit dan persatuan. Ini yang harus ditekankan kepada generasi muda.

Kalau ada yang menyatakan bahwa militer sebagai salah satu jalan untuk membentuk mental, saya rasa itu kurang tepat. Semoga pendapat saya ini salah. Sejauh yang saya tahu militer lebih menekankan pada penggemblengan fisik dan kedisiplinan. Saya kurang memahami bagaimana penggemblengan mental dalam militer dilakukan. Sepengetahuan saya, kalau memang penggemblengan mental di militer dinilai berhasil, maka oknum-oknum bisa dikikis habis. Nyatanya masih saya dapati, banyak anggota militer yang melanggar paraturan (seperti mabuk-mabukan, main judi, dll). Bahkan fanatisme yang sering mereka dengungkan pun, sering memicu konflik dan bentrok antar korps (eh bener gak sih, saya bermaksud menggambarkan bentrok yang terjadi antara kepolisian dan tentara). Arogansi mereka terhadap rakyat kecil pun seringkali kentara. Maka saya sempat bertanya, apakah mental versi saya berbeda dengan mental versi militer? Ya kita tidak dapat menutup mata, kalau keberadaan mereka selama ini sudah banyak membantu dan cepat tanggap. Saya hanya berpikir bahwa penggemblengan mental tidak harus dilakukan dnegan cara-cara militer.

Sebagai penutup, saya tak akan mempersoalkan wajib miiter. Bagi saya apapun alasannya pembenahan mental yang HUMANIS lebih penting untuk segera dilakukan. Sebagai pengingat, yang kita perangi di jaman sekarang sudah berbeda. Semoga saja kebijakan yang diambil tepat dan tidak menjadi bumerang, entah bagi pemerintah, masyarakat, ataupun negara. Silahkan berkomentar. Saya sekedar menuliskan apa yang saya ketahui, kalau saya salah saya mohon maaf, jangan bisanya marah-marah, namun silahkan diluruskan .

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s