Lebih Memahami dengan Putus


Loe gue end..

Putus cinta kadang memang menyakitkan. Saya menuliskan ini bukan karena saya sedang putus cintya, namun saya terinspirasi oleh salah satu perbincangan dengan seorang teman sebut saja Upil di salah satu situs jejaring sosial sebut saja namanya Bunga. Dia memiliki kisah yang menurut saya unik, menjalani sebuah hubungan dalam kurun waktu sekitar dua bulan dengan teman sekelas. Kemudian dalam sebuah liburan semester dan kebetulan jatuh pada libur lebaran juga, kedua hubungan ini mengalami satu kegoyahan. Meskipun, saya tidak terlalu mengerti benar bagaimana kegoyahan ini bisa terjadi. Dia menyebutkan bahwa retaknya hubungan terjadi karena rindu yang tidak terlampiaskan.

Eng ing eng, dari sini saya mencium ketidakberesan dan anomali percintaan. Bagaimana mungkin saudara-saudara orang yang rindu itu kan pasti cenderung galau dan lebih romantis. Namun, nyatanya perasaan rindu yang mungkin terlalu berlebihan juga bisa membuat hubungan menjadi retak. Well, sampai di sini saya tidak ingin meneruskan, ya spekulasi saya mungkin mereka memang belum terbiasa menjalani hubungan jarak jauh, yang sebenarnya tidak terlalu jauh, karena masih sesama Pulau Jawa.

Nah berkaca dari permasalahan ini, dia bilang yasudahlah jodoh di tangan tuhan. Saya mungkin akan sedikit mentranskrip salah satu percakapan sebuah film, ini film aktris ceweknya demenan gue banget, Laura Basuky. Film konyol ini sebut saja 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta. Adapun transkripan percakapan tersebut adalah sebagai berikut:

Ayangku : Sid, malam ini kan kita janji buat ambil keputusan, kamu udah tahu jawabannya belum?

Kribo : Kamu?

Ayangku : Jujur ampe sekarang aku juga belum tahu Sid

Kribo : Kita emang tidak pernah punya jawaban yang pasti, karena kita semua berbeda pendapat dan keyakinan

Ayangku : Jadi

Kribo : Kita harus berani ambil keputusan waaupun kita gak punya jwaban yang pasti atau kita akhiri. Dua-duanya memang gak ada yang jelas buat kita

Ayangku : Sid, kamu ingat gak kamu pernah bi;lang., jodoh itu Tuhan yang atur, kita gak akan pernah tahu sampai kita hidup dengan seseorang itu

Kribo : Kita lihat aja nanti.

Ayangku : Sekarag aku setuju Sid dengan kalimat, lihat aja nanti.

Saya belakangan juga juga mencintai kalimat “lihat aja nanti”. Bukan satu wujud pasrahnya yang ingin saya tekankan, melainkan hidup itu sdah ada yang mengatur, termasuk tokoh. Sutradara terbaik itu adalah Tuhan. Kita tak akan tahu sedetik, dua detik, atau mungkin beberapa waktu yang akan datang. Mungkin Tuhan memutuskan hubungan kita, karena Dia tahu orang itu bukan yang terbaik untuk kita. Lebih dari itu, meskipun saat ini hubungan terasa sangat indah, namun kita tidak akan pernah tahu, bahwa manusia mengalami kejenuhan, mungkin Tuhan akan mencegah itu sebelum terjadi sesuatu yang lebih menyakitkan.

Mengapa saya megambil judul lebih memahami dnegan putus. Apa yang harus dipahami? Bahwa menjalani hubungan bukan sesuatu yang simple, ada pertmbangan kenyamanan itu sendiri, psikologis, lingkungan, dan kedewasaan. Sejauh mana orang yang sudah berani menjalin hubungan mempunyai kedewasaan? Justru itulah, ketika orang belum dewasa maka mereka juga belum ccok untuk menjalin hubungan. Kecuali hubungan main-main.

Dari sisi psikologis kebanyakan orang hanya siap pada pertemuan namun tidak siap akan perpisahan. Orang yang sangat siap dan justru bersenang hati dnegan perpisahan, saya curiga mereka sudah jengah pengalaman pribadi. Sebab, orang yang kehilangan, adalah orang yang merasa memiliki. Kepemilikan atas seseorang atau cinta inilah yang kadang membuat orang merasa berat untuk berpisah.

Kalau pada akhirnya harus berisah? Ehm.. teori memang lebih mudah dari praktik, begitu pun dnegan apa yang akan saya katakan. Ya sabar aja, ambil sisi positifnya, bahwa dengan berpisah orang akan berpikir bahwa menjalani hubungan pacaran yang simple aja rumit dan kadang menyesakkan, apalagi membina hubungan rumah tangga dnegan masalah yang lebih kompleks. Dengan mengetahui kerumitan inilah, maka seseorang akan berpikir masak-masak untuk menjalin hubungan yang serius.

Selain itu dengan pacaran kita bisa lebih menyelami perasaan dan sifat orang lain.. eh ada nggak sih, orang yang pacaran tapi egois? Ya memang ada, namun saya rasa dengan adanya seorang yang disebut pacar, egoisme sendiri akan terbagi. Kalaupun kemudian putus, ya anggap saja selama ini kita sedang belajar untuk memahami karakter salah satu bahan penelitian kita kesannya jahat namun cocok untuk membuang rasa kesal karena putus.

Dengan putus, seseorang akan memiliki semangat untuk mencari sesuatu yang lebih baik. Dia pasti akan mengubah kriteria. Kalau tadinya cakep itu berada pada kriteria teratas, mungkin saat ini akan bergeser, digantikan dnegan perhatian. Semua ini terkadi secara alamiah, berkaitan dengan sikap yang lebih selektif. Kecuali kalau memang mau terjebak dalam kesalahan yang sama.

Orang yang kehilangan biasanya memiliki kesadaran, perpisahan akan menggiring kita kepada sikap yang lebih bijak. Ini yang saya katakan bahwa putus mampu membuat kita lebih memahami kehidupan. Intinya, satu kesadaran akan muncul, bahwa hidup itu gak gampang, memahami orang lain itu gak gampang, menyatukan perseps itu sulit, roda kadang di atas atau di bawah. Dari hal ini akan timbul kesadaran dan perilaku hati-hati. Baik dalam mencari pacar baru maupun melihat kehidupan dari kaca mata umum. Hal kecil di dunia ini bisa memberikan perubahan yang besar, tergantung dari kaca mata mana kita melhatnya.

 

2 responses to “Lebih Memahami dengan Putus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s