Agama Bukan Tameng Konflik


Pulang dari warnet jam sebelas malam. Iseng-iseng buka situs berita, eh ternyata nemu satu berita mengenai konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan aliran keagamaan. Lama saya tercenung, kemudian memuat status yang isinya mengutuk segala bentuk kekerasan, konflik, dan perpecahan yang mengatasnamakan agama. Agama kok dijadikan tameng. Sejak kapan agama melegitimasi kekerasan?

Saya ingin berbicara banyak, namun saya menjaga untuk tidak menyinggung SARA. Saya yakin, apabila itu dilakukan, maka konflik baru akan muncul, dan saya mungkin orang selanjutnya yang akan ditebas kepalanya oleh kelompok-kelompok fanatik Dari apa yang saya nyatakan, betapa agama menjadi hal yang horor dan mengerikan.

Kalau kita berbicara mengenai konflik antar agama. Ini sebenarnya sudah berlangsung sejak jaman dulu kala. Jauh sebelum saya lahir di dunia ini. Kalau kita mau mengulik sejarah maka kita akan menemukan adanya Perang Salib, antara Kristen dan Islam. Maaf kalau saya salah. Memang itu sama sekali tidak bersangkut paut. Akan tetapi, konflik yang terjadi akhir-akhir ini dan baru saja saya baca beritanya lebih mirip dengan konflik yang ada di Timur Tengah. Itu konflik yang menjadikan penganut golongan atau aliran keagamaan sebagai pelaku.

Saya tidak terlalu paham dengan agama, saya bukan orang yang pintar dalam mengkaji Al’Quran, maka saya tidak akan pernah berniat untuk memberikan kotbah. Saya nyaris tak peduli dengan konflik yang ada di luar sana. Akan tetapi, sebagai salah satu unsur dari bangsa saya pribadi akan menelisik permasalahan ini dari sudut pandang agama dan nasionalisme. Berhubung saya beragama Islam, maka saya mencoba mengkaji hal ini dari kaca mata agama Islam.

Dalam Al-Quran (lagi-lagi kalau tidak salah) bukankah telah disebutkan bahwasannya agamaku agamaku, agamamu agamamu. Di sini Islam sebagai agama, menekankan sikap demokratis. Bahkan ketika Islamisasi (ketika nabi hijrah ke Madinah), maka beliau pun menggunakan jalan yang damai. Mereka berusaha untuk terus menyebarkan Islam, namun mereka juga menghormati dengan baik pemeluk agama yang lain. Kendati, beliau tahu bahwa Islam satu-satunya agama yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia, namun beliau tidak pernah men cap sesat ajaran agama yang lain. Inilah bahwasannya yang ingin ditunjukkan, bahwa Islam itu cinta damai. Islam menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang indah. Maka, tak heran, kala itu pemeluk Islam dan penduduk asli mampu berdampingan dengan baik.

Ini sekaligus sebagai kritis pedas tentang Islam. Saya memang menghargai berbagai perbedaan yang ada. Namun, saya berpikir bahwa mengapa umat Islam sangat sulit untuk disatukan? Karena banyaknya aliran-aliran dan golongan menjadikan Islam sebagai agama yang paling banyak alirannya, dari yang jinak sampai yang radikal (tentang banyaknya aliran ini silahkan dikoreksi kalau memang salah). Pemimpin atau katakanlah para pemimpin aliran itu saya yakin saling menghormati, namun anehnya penganut fanatik mereka justru terkadang diserang virus merasa paling benar sendiri. Ini terkadang mau tak mau dapat menimbulkan perpecahan. Terlebih, sebagian besar dari mereka kadang tak segan-segan untuk menganggap salah penganut aliran yang lain.

Sampai di sini, saya menganggap konflik masih baik-baik saja. Namun, satu hal yang membuat saya merasa amat sangat tertohok adalah karena saya berada di Indonesia. lho memangnya kenapa? Apakah saya tidak bangga menjadi bagian dari masyarakat Indonesia? Jelas, saya sangat bangga, meskipun negara ini kadang sedikit memalukan. Bagaimana saya tidak tertohok, selama ini Indonesia dikenal sebagai negara yang mampu menyatukan keberagaman. Lalu dimana itu Bhineka Tunggal Ika? Saya khawatir slogan itu hanya tinggal teronggok di musem. Memang ini sedikit pedas, bahkan mungkin dianggap kurang ajar. Justru karena saya tertohok, maka saya ingin mengajak semua masyarakat Indonesia untuk bersama-sama tertohok menyadari semakin jauhnya kita dari esensi Pancasila.

Kenapa kita tidak pernah berkaca pada pengalaman, pada sejarah? Indonesia bukan hanya kali ini mengalami konflik antar agama, antar suku, antar ras, dan antar golongan. Namun, apa yang menjadi keuntungan semua itu? Jawabannya tidak ada. Konflik dan perpecahan hanya akan meninggalkan kepedihan, trauma, kerugian, dan kesengsaraan. Tidak hanya bagi para pelaku yang terlibat dari konflik itu sendiri, melainkan juga sebagian besar masyarakat Indonesia yang tetap tergugah nuraninya. Saya heran, mengapa kita menjadi haus darah. Masyarakat kita masyarakat purba dan primitif. Saya curiga, bahwa konflik terjadi karena masyarakat kita bodoh. Butuh yang lebih keras? Kita terlalu goblok memahami keadaan. Ketika setiap negara berlomba-lomba untuk maju, kita justru masih tetap terkungkung dengan konflik intern. Bagi saya itulah penjajah negeri ini, penjajah bukan lagi mereka bangsa luar melainkan diri kita sendiri. Kadang saya bertanya, apakah karena kegoblokan itu kita mudah tersulut emosi, kita mudah yang namanya diadu bandot (baca kambing cowok yang udah jenggotan).

Kenapa kita tak mencoba untuk memahami perbedaan sebagai sebuah seni kehidupan. Perbedaan sebagai sesuatu yang sah. Apakah perbedaan selama ini mengancam nyawa? Tidak. Kalau saja kita mampu untuk berpikir lebih terbuka. Membiarkan keragaman, bukan menjadikan kelompok kita kandas. Justru, perbedaan akan menambah warna. Setiap golongan memiliki cara untuk mempertahankan eksistensinya. Ini bukan hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Namun eksistensi pun akan berjalan seperti sebuah roda, dia akan bergerak dan berubah sesuai dengan perkembangan, masyarakat sendirilah yang menentukan. Namun, satu hal yang perlu dicatat, mempertahankan eksistensi bukan berarti harus membabi buta, mencari kambing hitam, dan melakukan intimidasi terhadap golongan lain.

Di facebook saya sempat melakukan diskusi kecil dengan kakak angkatan saya beda jurusan. Fanatisme kebanyakan tumbuh dari mereka golongan tua yang begitu teguh mempertahankan apa yang menurut mereka benar. Maka, kitalah,generasi muda yang harusnya mau untuk merubah persepsi dan meninggalkan fanatisme. Bukan saatnya kita menonjolkan diri, namun kita adalah satu kerangka yaitu Indonesia. Kalau para pemudanya saja bersorak-sorai seolah menjadi pendukung terhadap konflik semacam ini, maka mereka juga lebih purba dan primitif dari golongan-golongan fanatik.

Semoga tulisan ini bersama dapat menjadi renungan. Menyikapi perbedaan dengan lebih arif dan bijaksana akan menjadikan hidup senantiasa indah. Sekali lagi jangan gunakan agama sebagai alat legitimasi untuk melakukan konflik, sebab agama itu mengajarkan cinta damai dan menghargai perbedaan. Bagi saya orang yang mengatasnamakan agama untuk membenarkan kekerasan adalah orang yang buta dan dibutakan. Kekerasan hanya digunakan oleh mereka yang mempunyai otot tanpa mempunyai otak, bangsa bar-bar yang tak punya pilihan lain selain mengokang senjata untuk menyelesaikan masalah. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Persatuan Indonesia. Saya bertanya sekarang, apakah dua sila tersebut hanyalah dianggap omong kosong? Saya tak habis pikir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s