Salah itu Ketika Berbeda


Lagi-lagi saya memberikan judul yang lumayan kontroversial bagi kalangan pembaca. Hehe.. tidak usah terlalu terburu nafsu untuk ngamuk dan kalap. Ingat ini masih masa-masa lebaran lho. Kalau kalian berbeda ya itulah hak kalian, saya tidak akan menggugat atau pun mengiringkan kalian ke pegadilan kemudian mendakwa kalian salah. Saya bukanlah orang yang terkungkung dalam pola pikir primitif. Bahkan saya cenderung menganut prinsip yang sedikit bebas, meskipun kebebasan itu sendiri tetap dibatasi oleh tanggung jawab.

Saya memberikan judul sebagaimana di atas bukan karena saya menganggap demikian. Saya hanya berusaha untuk memberikan kesimpulan yang entah benar entah salah. Saya bicara hanya karena melihat kenyataan. Itu saja, cukup. Kalau kita menilik pada realitas, berapa banyak sih sikap berbeda yang kemudian dipersalahkan? Dari hal yang wajar untuk disalahkan sampai hal yang sebenarnya bersifat sangat personal dan asasi. Saya tidak akan lebih jauh mengulik tentang hak asasi, karena itu bukan kapasitas saya.

Mungkin benar saya menggugat. Namun, gugatan yang saya lakukan sebenarnya sama ketika masyarakat modern menggugat tradisi. Saya percaya bahwa awalnya ketika menggugat pola pikir tradisional, masyarakat modern menghadapi tantangan yang sangat berat. Begitu pun dengan apa yang akan saya sampaikan ini. Masyarakat secara lahiriah memang sudah maju, terdidik, dan juga bisa dikatakan modern. Namun, secara pola pikir, jujur saja dengan sangat ekstrim saya mengatakan bahwa mereka sama saja primitif, tidak mengenal istilah kebabasan, demokrasi, asasi, serta perbedaan.

Silahkan Anda sekalian menganggap saya sesat, suatu masalah akan memiliki wujud yang berbeda ketika kita melihatnya dengan persepsi dan sudut yang berbeda. Bahkan ironisnya, orang yang berbeda tersebut tidak jarang dianggap sesat juga. Sebenarnya definisi sesat itu apa sih? Jangan-jangan benar, bahwa sesat itu disematkan kepada kita hanya karena kita tidak mengikuti pola pikir masyarakat umum, karena kita berbeda. Saya berbicara semacam ini bukan karena saya merasa benar. Tidak sama sekali. Bahwasannya kebenaran itu sendiri absurd, benar menurut siapa? Benar menurut saya belum tentu benar menurut orang lian.

Saya mungkin tidak mewikili pandangan kolektif teman-teman yang sepaham, namun saya juga tidak mengungkapkan semua ini karena kepentingan personal. Tidak sama sekali. Saya bahkan tidak memiliki kepentingan apapun menuliskan ini. Baiklah kita akan kembali kepada topik pembahasan, tentang kesalahan kolektif yang dianggap mampu mengalahkan kebenaran personal. Saya berbicara panjang lebar, tanpa menyodorkan realitas itu rasanya sangat tidak adil. Maka kita bisa menguliknya dari contoh-contoh ringan.

Orang akan menganggap salah cowok yang gak bisa main sepak bola. Orang akan menganggap salah seorang cewek yang tidak bisa masak. Orang akan menganggap salah mereka yang mandul. Orang akan menganggap salah seorang siswa yang menentang praktik percontekan dalam ujian. Orang menganggap salah seseorang yang memiliki pandangan, bahwa sukses itu tidak harus secara materi. Orang menganggap salah seorang yang lebih memilih pekerjaan swasta daripada jadi pegawai negeri. Orang akan menganggap salah seorang cowok cakep yang memiliki cewek (maaf) jelek. Orang akan menganggap salah komunitas punk dan komunitas menyimpang lainnya. Yang jelas orang selalu akan menganggap salah, seseorang yang tidak mengikuti arus, orang yang terlalu idealis, orang yang berbeda, orang yang tidak seperti kebanyakan orang, orang yang mampu keluar dari pola pikir masyarakat banyak, orang yang mampu berpikir out of the box. Intinya orang-orang semacam itu dengan sangat miris dianggap sebagai sesuatu yang salah, sesuatu yang seakan dosa dan bahkan lebih parah lagi mereka dianggap orang yang sesat, hanya karena tidak mengikuti sesuatu yang dianggap benar oleh sebagian besar orang. Mereka dianggap sesat dan salah hanya karena meyakini kebenaran yang dimilikinya sendiri.

Kebebasan bagi saya selama tidak melanggar norma dan tidak merugikan orang lain, hukumnya sah saja. Misalnya, komunitas punk, selama dia tidak melanggar ketertiban umum, selama dia bertindak wajar dan tidak merugikan kenapa harus dicela? Toh dari beberapa penelusuran yang saya lakukan, mereka justru memiliki banyak kegiatan positif dibandingkan orang yang merasa dirinya benar. Masyarakat menilai salah hanya karena penampilannya yang nyeleneh. Berapa banyak slogan yang menyatakan jangan lihat sesuatu dari luarnya saja. Namun, harus diakui dengan ksatria bahwa sebagian besar masyarakat kita adalah masyarakat yang senang menilai dari luar. Maka tak heran bahwa mereka juga menjadi sasaran empuk para pelaku pencitraan.

Contoh lain, seorang cowok tidak bisa bermain sepak bola atau mungkin tidak senang dengan olahraga satu itu. Memang benar bahwa hal ini aneh, namun bukan berarti itu salah. Apakah merugikan ketika seorang cowok gak bisa main bola? Hukum mana yang mengatakan bahwa cowok harus bisa main sepak bola? Adakah pihak yang merasa didzolimi atau dikhianati? Kenyataan yang ada, seorang cowok lumrahnya bisa dan suka main bola. Itu saja.

Contoh lain (lagi). Ini adalah realitas menyedihkan dunia pendidikan kita. Ingat kasus yang menyeret salah satu murid? Dia bercerita tentang skenario kecurangan ujian yang dilakukan salah satu sekolah dasar? Masyarakat justru mengucilkan dan membencinya. Dia melakukan tindakan yang benar, namun kenapa disalahkan? Ini tak lain karena adanya kepentingan. Orang banyak merasa perlu untuk melindungi kepentingan mereka. Saya jadi curiga, bahwa orang yang sering menyalahkan orang lain, justru karena dia merasa kepentingannya terancam?

Contoh di masyarakat pedesaan. Bahwa mereka lebih bangga memiliki anak sebagai pegawai negeri dibandingkan anaknya menjadi wiraswasta. Kalau sang anak memiliki kesempatan yang sama untuk menjalankan dua hal tersebut dan dia memilih yang terakhir, maka dia akan dipersalahkan bahkan dianggap bodoh. Apakah kalau dia memilih menjadi seorang wiraswasta itu merugikan orang lain? Bertentangan dengan undang-undang? Apakah dia tidak suka jadi pegawai negeri itu salah? Sama sekali tidak. Dia hanya mencoba untuk bertentangan dengan arus masyarakat. Itu saja.

Sebenarnya masih banyak contoh lain yang sekiranya dapat saya ulas, namun tentu akan berlebihan. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, saya bukanlah orang yang liberal. Kebebasan yang saya tawarkan adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Kalau sekiranya ada yang tersinggung dengan postingan saya, maka akan saya sarankan untuk dia membaca ulang postingan ini. Bukankah saling menghormati itu indah. Berbeda bukan berarti saling mengancam, namun perbedaan personal yang berlandaskan pada sikap demokratis, tampaknya lebih indah untuk dikedepankan. Ini hanya sekedar uneg-uneg, boleh setuju boleh juga tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s