Perjodohan itu Primitif


Selalu saja harus ada yang diperprimitifkan di dalam setiap perbincangan. Salah satunya soal perjodohan. Tentu saja ini bukan jamannya lagi Siti Nurbaya, memang benar bahwasannya orang tua menginginkan yang terbaik bagi masa depan anaknya, namun bukan berarti orang tua melakukan intervensi bebas terhadap yang namanya jodoh. Kalau intervensi sudah dilakukan, kemudian anak ngambek melakukan embargo hayoo??? Ckckck ini ngomongin jodoh apa ekonomi makro sih?

Nah jelas, tadi saya sudah sempat menyinggung seputar pertanyaan konyol di kala lebaran. Salah satu dari pertanyaan tersebut yaitu mengenai perjodohan. Kalau tadi saya membahasnya sekilas, maka sekarang saya akan mencoba untuk ngulek-ngulek secara panjang lebar mengenai hal tersebut. Saya memang bukan pakar percintaan dan rumah tangga, akan tetapi ijinkan saya memberikan gambaran perasaan sedikit saja. Anggap saja ini satu curhat colongan di lebaran ketiga. Bagaimana? Siap?

Sore ini kami banyak membincang seputar jodoh secara kebetulan. Kami? Oh maafkan, bukan kami, melainkan pikiranku yang sibuk sendiri bergulat mengenai jodoh. Sebelum berbicara jodoh, saya akan membincang satu aspek yang mungkin berkaitan dengan jodoh yaitu kesuksesan. Selama ini orang dimanapun berada, saya berani bertaruh, delapan puuh persen ke atas memandang kesuksesan sebagai kesuksesan materi. Siapa yang memiliki banyak uang, memiliki karier yang cemerlang, mobilnya blink-blink, bisa beli ini itu yang terasa cucok, pokoknya itulah yang disebut sukses. Sayangnya atau bahkan apesnya saya bukan golongan dari delapan puluh persen ke atas tersebut. Kalau saja bukan tuntutan ini itu, desakan dari kanan kiri atas bawah, maka saya mungkin akan menafikkan harta. Toh orang yang bukan berharta bukan berarti tidak sukses kan? Maksudku sukses itu kan hanya diri sendiri yang tahu?

Oke lanjut, saya bahkan lebih memilih pekerjaan yang membuat saya nyaman. Catatan di sini nyaman belum tentu ringan. Setiap pekerjaan pasti memiliki konsekuesi tersendiri, namun memiliki pekerjaan yang mampu menerima saya dan saya terima, sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Yang sulit adalah menerima penilaian orang terhadap porsi kesuksesan itu sendiri. Kadangkala, kita sangat nyaman dan begitu menikmati pekerjaan kita, hanya saja orang yang melihat bahwasannya pekerjaan kita adalah bukan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, maka mereka akan menghakimi bahwa kita malang. Lebih malang daripada itu, orang akan membanding-bandingkan kita dengan kesuksesan yang diraih oleh orang lain.

Nah masuk pada tahap berikutnya, yaitu pada tahap ngomong-ngomong jodoh itu tadi. Kalau orang udah sukses maka kriteria jodoh semakin ribet. Jangankan kita sukses, orang kita tidak sukses saja, kadang orang tua menghendaki kriteria calon menantu yang sangat sangat ribet. Ada yang pernah ngalamin? Moga-moga ini hanya cerita khayalan saja. Nah, misalkan anaknya tidak sukses sudah dicela sana sini, eh mau nyari jodoh saja juga pasti dicela sana-sini juga. Apes itu jadi anak orang gak demokratis. Beneran deh… (oke bedakan demokratis yang bertanggung jawab dengan demokratisnya liberal) saya bahkan tidak tahu dua hal tersebut makanan apa.

Orang tua itu menghendaki menantu yang sangat perfek. Baik hatinya, baik akhlaknya, baik wajahnya. Namun, di dunia ini, atau di Indonesia ini ada berapa banyak sih yang seperti itu? benar kata sepupuku bahwa wanita cantik itu dapat dibeli dengan seratus ribu atau bahkan lima puluh ribu satu malam. Namun, akhlak dan hati siapa yang tahu? Bukankah belakangan di dunia yang fana ini banyak sekali orang memakai topeng, bermain sandiwara, dan juga yah maksudku tidak menjadi diri sendiri.

Kalau saya sodorkan yang wajahnya cantik, tapi perilaku slengekan, nanti kena protes. Saya sodorkan calon yang akhlaknya bagus punya sopan santun tinggi, tapi wajahnya di bawah standar, nanti protes juga. Kenapa sih orang tua itu maunya yang serba wah, tidak intropeksi diri. Ibarat kata nih, kalau ama sesama temen gitu, paling bilangnya, “pilihan situ oke?”.  Semuanya terpenuhi, namun tidak bisa kawin dengan keluarga, nanti jadi bahan pergunjingan juga. Alamak.. kalau yang diterima adalah wanita yang benar sempurna, melanjang saja seumur hidup. Repot sendiri kan?

Saya sendiri tak terlalu ribet untuk urusan cewek. Bagi saya asalkan dia smart, solehah, dan bisa menerima kelebihan dan kekurangan saya, itu saja sudah cukup. Saya jujur suka cewek yang pintar dan sedikit ramai, wanita seperti ini mampu mencerahkan dunia. Hehe… saya juga suka wanita yang solehah tapi nggak fanatik, meskipun saya sendiri bukanlah sosok yang sholeh, yang tiap hari keluar masuk masjid untuk berjamaah. Saya juga suka wanita yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan saya beserta keluarga saya. Mungkin itulah persyaratan paling penting. Namun, justru persyaratan terakhir inilah yang paling sulit terealisasikan. Menerima kelebihan tentu sesuatu yang mudah dilakukan, namun bagaimana dengan menerima kekurangan pasangan? Menikah dengan seorang memang mudah, namun bagaimana mengawinkan dua keluarga yang berbeda? Inilah tantangan terbesar.

Sekiranya kita tetap dengan pendirian untuk bersama dengan pasangan yang kita pilih, namun tidak sesuai dengan kriteria orang tua, maka yang terjadi adalah pembandingan? Pasti akan terdengar seloroh, eh kalau milih istri itu seperti dia cantik, kalau milih pacar itu kaya dia sholeh, sopan, kalau milih pacar itu seperti temanmu SMA, terhormat, dan berbagai atribut lain yang pasti akan membebani sebuah hubungan.

Jadi sedikit peringatan untuk para orang tua, lebih baik untuk bersikap demokratis saja. orang yang akan menikah tentu bukanlah anak kecil lagi, mereka sudah menjelma menjadi makhluk dewasa yang tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri? Sebenarnya siapa sih yang akan mengarungi bahtera rumah tangga?? Ini hanya renungan kecil tentang jodoh, perjodohan, dan mungkin juga pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s