Pagi Galau Karena Baju Koko


Lebaran bagiku selalu menjadi hal yang konyol, kemacetan panjang yang luar biasa, banyaknya kecelakaan lalu lintas yang menelan ratusan korban jiwa dan itu nyawa, berdesakan di kendaraan, dan berbagai hal menarik lainnya. Inilah realitas yang terjadi di negara bernama Indonesia. Aku kadang melihatnya merasa konyol sendiri. Bagaimana tidak, nyatanya ucapan Umar Kayam yang terkenal, yaitu mangan ora mangan asal kumpul terbukti telak. Aku sebagai saksi hidup. Tak hanya itu, lebaran juga selalu memiliki cerita.

Seperti pagi ini, dengan bangganya aku memakai baju batik baru yang sudah dua hari aku pakai. Sehari sebelumnya aku memakainya untuk buka bersama bersama dengan teman SMP, dan hari ini sebenarnya aku hendak memakainya untuk berbuka bersama dengan teman kelas SMA, nyatanya hal itu gagal total. Sebagai akibatnya, aku tetap memakai baju itu sampai dini hari, demi menyiapkan masakan untuk besok pagi. Aku tidak tidur saudara-saudara, ngedeprok di depan perapian untuk masak dengan mamakai baju batik klimis dan celana pendek tiga perempat yang dijual obralan. Aku tengah memasak air untuk mandi. Akhir-akhir ini suhu udara memang bisa membuat orang beku.

Tak han                ya itu, aku juga tengah asyik menyiapkan baju koko yang hendak aku pakai untuk sholat Idul Fitri di masjid dekat pasar. Tidak banyak pilihan, aku akhirnya menjatuhkan pilihan pada baju koko berwarna pink agak kemerah hatian. Asal tahu saja sejarah baju koko itu, itu adalah baju koko pemberian nenek dari Wonogiri. Diberikan ketika aku tengah melakukan khitan sewaktu kenaikan kelas 1 ke kelas 2 SMP. Kalau aku tidak salah menghitung itu artinya tujuh tahun yang lalu, sekarang aku sudah kuliah menginjak semester 5. Bayangkan, betapa aku menjadi manusia yang tidak berkembang J haha membeli baju baru kala lebaran memang bukan tradisi keluarga kami, aku cukup puas, dan tidak bermaksud mengungkit soal ketidak pemilikanku atas baju koko baru. Kalau aku boleh berpendapat, aku bahkan tidak punya baju koko selain itu, maklum aku bukan orang yang fanatik dan mengharuskan diri memakai baju koko setiap hari. Ketika sholat Jumat, ketika tarawih, bahkan orang tidak akan pernah bisa membedakan apakah aku mau nongkrong atau akan pergi ke masjid J konyol  sekali..

Sudahlah, yang jelas aku harus mengurus dapur lagi, ini ketika menulis pun aku benar-benar harus menyempatkan diri, karena bagiku inilah tradisi yang tidak bisa didobrak masyarakat, dan jujur saja hal ini menarik, maka jelas aku menyempat-sempatkan diri untuk menulisnya,. Terima kasih atas pagi yang galau dikarenakan baju koko.. hahaha….

One response to “Pagi Galau Karena Baju Koko

  1. Pingback: Pagi Galau Karena Baju Koko « preteers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s