Mudik itu Tradisi


Saya tidak tahu pasti, kapan mudik ketika lebaran menjadi budaya di negeri Indonesia tercinta. Mungkin, rutinitas yang terasa wajib bagi para perantau ini, terinspirasi oleh satu pepatah yang dipopulerkan oleh Umar Kayam, saya tak tahu secara pasti apa pepatah yang populer itu, namun yang pasti punya makna kira-kira begini “mangan ora mangan sing penting kumpul”. Itu adalah falsafah Jawa yang dalam bahasa Indonesia kira-kira “makan tidak makan yang penting berkumpul”.

Lihat saja mudik menjadi sebagian hal yang cukup penting menjelang akhir bulan Ramadhan bagi para masyarakat perantauan. Mereka bahkan sangat tidak peduli, harus antri tiket berbulan-bulan sebelumnya. Kalau dulu, mereka juga tak peduli bahwa mereka akan berdesak-desakan di sela angkutan transportasi.

Mudik sepertinya menjadi rutinitas yang cukup penting, bahkan melebihi apapun. Kepuasaan bisa berkumpul dengan keluarga setelah shalat Idul Fitri nampaknya begitu mereka agungkan. Orang yang tidak pulang ketika lebaran datang bahkan tidak jarang di cap sebagai orang yang lupa akan kampung halaman. Pemandangan dan pemikiran seperti ini saya kira hanya berlaku bagi orang Indonesia. Mohon diralat apabila salah J. Memang, dapat kita akui bahwasannya kesakralan mudik sedikit demi sedikit meluntur lantaran perkembangan teknologi, namun kita tidak dapat menyangkal bahwa kesakralan mudik masih melingkupi jiwa penganut fanatiknya.

Agama Islam mengatakan bahwa lebaran adalah hari kemenangan. Maka tak heran keadaan ini mendapatkan pemaknaan yang berbeda di kalangan masyarakat, salah satunya adalah di desa saya, sebuah desa kecil di Kabupaten Purworejo. Perayaan ini diwujudkan dengan menyediakan makanan yang banyak untuk para tamu, lantas untuk mereka yang sudah bekerja maka mereka akan memberikan pesangon bagi anak kecil. Memang hal ini menjadi sesuatu yang standar, namun tetap saja merupakan fenomena yang menarik. Bagaimana tidak, mereka rela menyediakan makanan untuk menyuguh tamu, tak peduli apakah mereka memiliki uang atau tidak, di setiap rumah dapat dipastikan minimal ada tiga jenis makanan yang berbeda. Tidak jarang mereka juga berhutang untuk keperluan lebaran. Tidak hanya soal menyuguhkan makanan, untuk memberi uang kepada anak kecil pun tak jarang mereka melakukan hal yang sama.

Well, menafikkan semua itu, maka kita juga tidak dapat menafikkan satu hal. Mereka memiliki ikatan yang kuat antar sesama masyarakat. Kerukunan dan keakraban menjadi pondasi yang cukup kuat untuk membangun persaudaraan. Mungkin, ini pulalah yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudik mungkin akan membawa konsekuensi-konsekuensi tersendiri, namun hal yang paling penting tentu esensi dari mudik itu sendiri. Nilai-nilai luhur yang terkandung dari mudik mengingatkan kita bahwasanya kita masih memiliki keluarga dan saudara. Mudik mampu mendekatkan keluarga untuk berkumpul di satu moment yang sama.

One response to “Mudik itu Tradisi

  1. Pingback: Mudik itu Tradisi « preteers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s