Lebaran itu Formalitas


Mungkin judul yang saya buat terlalu provokatif. Mungkin hal ini akan menimbulkan kemarahan bagi mereka penganut fanatik lebaran. Namun, hal yang saya paparkan lebih berkaitan dengan fakta di masyarakat. Sebenarnya makna lebaran itu apa sih? Saya sampai sekarang juga masih mempertanyakan. Bukan berarti saya tidak memiliki makna sama sekali, namun dari yang saya pahami, saya mencoba mengkonstruksi makna lebaran itu sendiri.

                Bagi saya, lebaran itu hari kemenangan. Ah maaf itu bukan saya melainkan dari kotbah-kotbah yang saya dengarkan. Namun kemenangan dari apa? Kemenangan telah menaklukan nafsu? Saya berani bertaruh, apakah selama Ramadhan orang sudah benar-benar mampu menaklukan hawa nafsunya? Silahkan melakukan survei..! Bagi saya pribadi lebaran itu seharusnya menjadi moment penyucian. Maka dari itu, lebaran katanya ajang yang tepat untuk saling memaafkan

                Namun, benarkah manusia selama lebaran benar-benar saling memaafkan. Saya kira dari apa yang saya amati, lebaran hanyalah kegiatan seremonial, kegiatan formalitas. Silahkan hal ini digugat..! Kalau bagi saya pribadi, maaf itu ya suatu simbol perkataan yang meminta ampun untuk kesalahan yang sudah dilakukan disertai komitmen untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Berapa banyak orang yang berpikir semacam itu? Bukankah kebanyakan dari kita memohon maaf hanya di bibir saja?

                Kalian pikir saya tengah berolok-olok? Mungkin akan kurang fair apabila saya tidak paparkan bukti. Apakah beberapa dari kalian pernah menghadapi kondisi, ketika sehabis lebaran sudah selesai bermaaf-maafan, seseorang hanya karena masalah kecil lantas bertengkar? Ah mungkin ini fakta yang terlalu sulit untuk dijumpai. Namun, pernahkah di antara kita menjadi pelaku atau penonton, suatu kondisi dimana seseorang memperolok atau menggunjing orang yang lain.

                Contoh kecil, misalnya kita baru saja bersilahturahmi di rumah si A, selesai dari rumah si A, kita akan bertandang ke rumah si X. Nah di rumah si X inilah kita membicarakan si A. kalau si A begini dan begitu. Ini contoh yang lebih kecil kan? Saya rasa mohon maaf di hari lebaran bagi sebagian  masyarakat hanyalah tradisi. Mereka tidak benar-benar memahami makna dan esensi bermaafan. Maaf bukannya saya bermaksud untuk menyinggung SARA, namun masyarakat Jawa dengan segala falsafahnya sangat mengagungkan basa-basi. Basa-basi adalah bagian dari sopan santun. Saya khawatir bahwa meminta maaf pun dilakukan hanya karena basa-basi, momen yang secara umum mengharuskan manusia berperilaku semacam itu. Bukan hanya Jawa saya kira, sebagian besar masyarakat juga melakukan hal yang sama.

                Mohon maaf sekiranya ini menyinggung, namun silahkan kalau ingin komplain dengan apa yang saya sampaikan. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang saya yakini benar. Bahwa, kita sudah mulai harus menggeser persepsi, bahwa kata maaf memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang besar. Kita tidak dapat memandang kata maaf hanya sekadar basa-basi atau seremonial formalitas di Hari Raya Idul Fitri, melainkan satu hal yang harus kita yakini, dengan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Toh apalah gunanya menuliskan kata maaf di pasir pantai. Dia akan mudah tersapu ombak dan hilang tak bermakna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s