Resnsi Jentera Bianglala Ahmad Tohari


Jentera Bianglala

Sinopsis:

Tahun 1966 mungkin menjadi tahun yang tak akan terlupakan. Penjara sementara dipenuhi oleh manusia, kekejaman hukuman terhadap orang yang terduga simpatisan PKI terjadi. Militer menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat. Penjara yang penuh sangat tidak representatif, bahkan untuk tidur saja mereka tak bisa karena saling berdempetan.

Rasus sendiri resah, segala bentuk kekisruhan ini benar-benar menjadi tekanan tersendiri dalam hidupnya. Di pos penjagaan dia sering teringat neneknya yang telah renta, juga Srintil. Dukuh Paruk, ibu kandungnya, tak pernah lepas dari ingatan. Maka dengan tekad, dia meminta izin kepaa komandannya untuk cuti sekadar menengok Dukuh Paruk. Dua kali tekad itu tak terlaksana, karena sang komandan melarang. Namun akhirnya, dia diizinkan, setelah sebelumnya mendapatkan pukulan yang telak. Sampai di Dawuan dia mampir ke markas Sersan Pujo. Dari Sersan Pujo, dia tahu bahwa Dukuh Paruk sudah berubah, pedukuhan itu seperti tanpa ruh.

Sementara itu, Sakarya tidak lagi dapat berpikir. Dia yang tak tahu apa-apa, ikut menjadi korban kekejaman kekuasaan. Dukuh Paruk yang miskin, terbelakang, dan jauh dari masyarakat lain semakin terpencil. Semacam disalahkan, semacam terintimidasi. Terlebih, kepergian Srintil, bagi Sakarya adalah pukulan yang sangat telak.

Rasus yang dikawal Sersan Pujo akhirnya sampai juga di Dukuh Paruk. Kedatangan tentara menjadikan trauma tersendiri bagi masyarakat Dukuh Paruk. Namun hal itu tak terjadi, ketika mereka tahu yang datang adalah Rasus. Rasus yang masih sama dengan yang dulu. Beberapa saat kemudian, Rasus harus mendapati kenyataan bahwa neneknya meninggal. Ini benar-benar kesedihan yang tidak dapat dibendung lagi olehnya. Hatinya semakin bergolak, ketika menyadari harapan masyarakat Dukuh Paruk tertumpu kepadanya, bahkan Sakum maupun Sakarya meminta dia untuk memebebaskan Srintil dan mengambilnya menjadi istri.

Mendengar amanah ini, sepulang dari Dukuh Paruk, dia menuju Eling-eling, sebuah tempat yang ditunjukan Sersan Pujo sebagai tempat ditahannya Srintil.  Dia bisa masuk setelah sebelumnya sedikit menipu dengan alasaan, dia adalah mantan pembantu komandan. Pertemuan dengan Srintil di penjara itu, hanya berupa pertemuan bisu. Waktu memisahkan mereka, namun memberikan kesan yang mendalam.

Suatu ketika, Dukuh Paruk digegerkan dengan kehadiran Srintil. Dia nyaris pingsan di pematang sawah, beruntung orang-orang segera menolongnya. Saat itu Dukuh Paruk sudah mulai bangkit dan menata hidup. Yang paling bahagia tentang kedatangan Srintil, tentu saja Nyi Sakarya. Namun, kedatangan Srintil sekaligus mengingatkan mereka pada nestapa tahun 1965, bagaimana perasaan mereka tercabik, setiap kali orang memandang dengan pandangan yang menghakimi. Pukulan keras bagi Srintil, ketika Goder bocah lelaki itu bahkan tak lagi mengenalinya. Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa hari. Goder kembali mengenali Srintil, hal inilah yang membersitkan sedikit kebahagiaan di hati Srintil. Banyak yang ingin tahu pengalamannya selama meniggalkan Dukuh Paruk, namun Srintil memilih diam.

Nestapa yang dialami Srintil semakin menjadi. Ketika di Dawuan dia tak lagi di daulat menjadi idola. Tatapan mereka yang di pasar terasa tajam dan menusuk, tak ada yang ingin berdekatan dengannya., di jaman seperti ini, orang-orang takut berdekatan dengan bekas tahanan.

Tahun 1969, Dukuh Paruk masih miskin, bahkan semakin miskin. Sakarya merasa, perannya sebagai tetua telah luruh. Dia tak lagi dapat mempertahankan adat dan budaya Dukuh Paruk. Dia lebih sering termenung di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Srintil sendiri kini sudah mulai hidup bersama Goder. Dia ingin meninggalkan masa lalunya yang kelam dan traumatik. Bahkan ketika Nyai Kertareja mengabarkan bahwa Marsusi ingin bertemu dengannya, ada kemarahan dalam diri Srintil.

Namun, diam-diam Marsusi sudah merencanakan hal yang licik. Dia bersekongkol dengan Darman petugas yang mengurusi pelaporan Srintil. Dengan dalih diminta Darman, Srintil dijemput dan diantar melaporkan diri. Pulangnya dia dipaksa ikut membonceng mau diantarkan ke rumah, tak tahunya dia akan dibawa ke daerah Perkebunan Wanakeling. Namun, di tengah jalan Marsusi tidak menyadari, kalau Srintil terjatuh, sehingga ronggeng itu mampu melarikan diri ke dalam hutan. Marsusi yang menyadari bahwa Srintil sudah tidak ada dalam boncengannya menyusul mencari.

Kemudian, dia menemukan Srintil tengah tergolek. Srintil sudah pasrah kalau nanti Marsusi akan menyetubuhinya. Melihat kepasahan Srintil, mendadak Marsusi merasa tak tega. Hingga, datang seorang pengendara motor yang mengantarkan dia pulang.

Hari berganti, Dukuh Paruk kemudian ramai dengan para pekerja proyek yang membangun irigasi. Suatu saat, Srintil datang pada acara ganti rugi tanah. Dia bertemu dengan Bajus, pimpinan proyek. Kedekatan mereka hari demi hari semakin terasa. Hal ini pula yang menyebabkan pandangan masyarakat kepada Srintil menjadi lebih baik.

Saat itulah Rasus datang. Kedatangan Rasus membuat Srintil bimbang, begitu pun Rasus, ada yang mengaduk-aduk perasaannya. Terlebih ketika dia tahu Srintil ada hubungan dengan Bajus. Namun, Rasus bersikap tegas. Dia meminta Srintil menunggu, hanya saja ketika ada laki-laki yang bersungguh-sungguh terhadap Srintil dia akan ikhlas.

Tahun 1970, pengerjakan proyek semakin gencar semakin ramai. Srintil dengan Bajus pun semakin dekat, lama kelamaan dia bisa melupakan Rasus. Dia mulai mau diajak Bajus pergi. Pandangan orang pun benar-benar sudah berubah terhadap Srintil. Mereka menaruh hormat. Suatu ketika, Srintil diajak Bajus untuk menghadiri sebuah pertemuan. Srinti di tempatkan dalam sebuah villa. Ternyata dalam pertemuan itu Bajus hendak meminta proyek kepada Pak Blegur, orang yang selama ini sudah sangat membantunya. Sebagai imbalan dia harus menyediakan wanita penghibur, ternyata Srintillah yang dia jadikan wanita penghibur bagi Pak Blegur. Mendapati kenyataan ini Srintil merasa tergoncang. Dia yang menganggap Bajus ingin menikahinya ternyata berniat busuk. Bajus sendiri tidak mungkin menikahi Srintil karena dia impoten disebabkan oleh kecelakaan.

Sementara itu, Pak Blegur yang melihat sosok wanita yang berbeda merasa tak tega untuk bersetubuh dengan Srintil. Namun ternyata, Srintil sudah terlanjur terguncang. Dia menjadi gila. Hal ini baru diketahui oleh Rasus ketika dia pulang ke Dukuh Paruk. Rasus merasa tertekan, dia merasa sangat bersalah, hingga akhir cerita dialah yang kemudian merawat dan membawa Srintil ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Dia pula yang kemudian bersedia untuk menikahi Srintil kelak.

Fakta Cerita

Alur

Maju. Hal ini dimulai dengan pengembaraan Rasus dan pergolakan hatinya. Kemudian diceritakan Srintil yang ditahan, dan baru keluar setelah beberapa tahun, dengan membawa trauma yang mendalam. Trauma ini kemudian sedikit terobati dengan kedatangan sosok lelaki bernama Bajus. Namun ternyata Bajus pun memiliki niat yang buruk, dia menyerahkan Srintil kepada Pak Blegur. Hal ini membuat Srintil mengalami tekanan jiwa yang hebat. Dia menjadi gila.

Tokoh dan Penokohan

Srintil

  • Rapuh. Hal ini ditunjukkan dalam petikan berikut “Dan rasa trenyuh tak terhindarkan karena Nyai Kartareja menyadari betapa ringkih keadaan jiwa Srintil, dia menjadi demikian gugup hanya karena akan disampaikan kepadanya sesuatu yang penting”.
  • Teguh. Hal ini terlihat ketika dengan emosi dia menolak mentah-mentah tawaran Nyai Kartareja untuk bersama dengan Marsusi”
  • Penuh kasih sayang. Hal ini terlihat dari sikap Srintil kepada Goder, anak yang sudah lama dia tinggalkan karena menjadi tahanan.
  • Penuh pertimbangan. Ini dapat kita lihat ketika dia hendak memutuskan apakah akan dengan Bajus atau tidak
  • Dapat menempatkan diri. Ini dapat kita cermati, meskipun dia mampu membeli rumah dan hidup mewah, namun Srintil memilih untuk bersikap sederhana, dia juga berpakaian sopan, karena dia tahu situasi sedang tidak menentu, sehingga dia tidak mau terlihat mencolok dibandingkan warga masyarakat yang lain, apalagi dia bekas tahanan.

Rasus

  • Teguh pendirian. Hal ini terlihat ketika Rasus berkeras hati ingin kembali ke Dukuh Paruk menengok neneknya.
  • Cerdas. Ketika Rasus mengatakan bahwa dirinya bekas kacung Kapten Mortir, supaya dia dapat menemui Srintil di penjara.
  • Berani. Ini dibuktikan ketika dia keluar dari penjara, dia berteriak memepertahankan harga dirinya ketika para penjaga pos mengejek dirinya sebagai kacung.
  • Kasih sayang. Ini terbukti ketika dia serta merta menengok neneknya dan menungguinya sampai ajal menjemput.
  • Menjalankan amanah. Ini terlihat ketika dia diminta agar menjaga Srintil, hal ini dibuktikan ketika Srintil gila, dia tetap setia mendampingi Sintil.
  • Ikhlas dan rela berkorban. Hal ini terlihat, meskipun Rasus mencintai Srintil, nanmun dia berpesan apabila ada orang yang benar-benar tulus mencintai Srintil, maka dia ikhlas merelakan perempuan itu.

Sakarya

  • Cerdas. Terlihat dalam kutipan “Sakarya menganjurkan orang-orang Dukuh Paruk melapisi atap-atap gubuk mereka dengan ilalang buat mengedap air hujan”.
  • Mudah putus asa dan menyerah/pasrah. Hal ini terlihat dalam kutipan “Tetapi Sakarya telah merasakan kekalahan hidup yang pasti. Dia merasa peran hidupnya sudah mandul, tanpa arti”
  • Bijak. Hal ini terlihat dari nasehatnya tentang hidup kepada Srintil. Dia mengatakan bahwa manusia itu tidak boleh terlena akan keadaan. Sebab hal baik bisa jadi merupakan awal dari sesuatu yang buruk.

Marsusi

  • Keras kepala. Hal ini terlihat ketika dia merasa sudah tahu bahwa mendekati bekas tahanan akan menimbulkan cibiran dari masyarakat namun dia serasa tak peduli dengan hal itu, dia masih memiliki keinginan untuk mendekati Srintil bagaimana pun caranya.
  • Tidak tahu malu. Ini terlihat, meskipun sudah ditolak oleh Srintil, namun Marsusi masih juga merayu Srintil.
  • Suka memaksa. Terlihat dalam petikan “Sementara itu Marsusi sudah berubah sepenuhnya menjadi seorang pemburu, makin bergelora karena Srintil tidak mengacuhkan panggilannya. Harga dirinya tersinggung dan segala hasratnya menjadi demikian sederhana, menguasai Srintil dengan kesunyian hutan jati, kemudian persoalannya menjadi sederhana pula”
  • Mudah berubah sikap. Hal ini terlihat setelah sebelumnya dia mengejar-ngejar Srintil, namun begitu dia tahu Srintil jatuh dan terluka, dia berubah menjadi baik.

Nyai Kartareja

  • Bebal. Hal ini diungkapkan oleh Srintil, seperti dalam kutipan “Oh Nyai Kartareja. Rupanya kamu tidak terusik sedikitpun oleh sekian banyak pertanyaan itu. Kamu bebal. ….” (289)
  • Suka bergunjing. Hal ini nampak dalam kutipan “Berita kepulangan Srintil sudah sampai ke Pasar Dawuan melalui celoteh Nyai Kartareja”

Bajus

  • Perhatian dan pengertian. Ketika dia datang dan Srintil mengatakan kalau dia sakit, maka Bajus menawarkan untuk membawa ke dokter. Dia juga tak merasa keberatan ketika Srintil menolak untuk diajaknya pergi jalan-jalan.
  • Suka berbohong. Selama ini Bajus dikenal Srintil sebagai lelaki yang baik, namun ternyata, kebaikan tersebut digunakan Bajus hanya demi kepentingan pribadinya.

Latar

Latar Tempat

  • Dukuh Paruk. Hal ini terlihat dalam kutipan “Pekuburan Dukuh Paruk bertambah luas dengan satu makam. Selesai menguburkan jasad neneknya Rasus tidak segera turun dari bukit pekuburan itu”
  • Dawuan. Ini terlihat dalam kutipan berikut “Sejak di Dawuan Rasus sudah diberitahu apa yang terjadi di tanah kelahirannya”
  • Kota Eling-eling. Ini seperti pada kutipan “Selama perjalanan satu jam itu Rasus termangu dan termangu. Dia termangu juga sesudah semua penumpang turun di terminal bus kota Eling-eling”

Latar Waktu

  • 1966. Hal ini terlihat dari kutipan berikut “…Tengah malam Februari 1966 di sebuah kota kecil di sudut tenggara Jawa Tengah….”
  • 1969. Hal ini dibuktikan melalui kutipan “Dukuh Paruk pada tahun 1969 adalah Dukuh Paruk yang tetap miskin dan bodoh”
  • I970. Hal ini sesuai dengan kutipan “Memasuki tahun 1970 kehidupan di wilayah Kecamatan Dawuan berubah gemuruh oleh deru truk-truk besar berwarna kuning serta buldoser dari berbagai jenis dan ukuran”.
  • 1971. Hal ini seperti terlihat dalam petikan “Februari 1971 adalah mangsa kasanga dalam pranata mangsa yang dianut oleh orang Dukuh Paruk”

Latar Sosial

Sebuah masyarakat terbelakang yang selama tiga tahun sudah kehilangan ciri utamanya. Dari makam ki Secamenggala sampai dengan ronggeng Dukuh Paruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s