Resensi Putri Cina “Sindhunata”


Judul                          : Putri Cina

Nama Pengarang      : Sindhunata

Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun                         : 2007

Cetakan                      : kedua, November 2007

Jumlah halaman        : 304 halaman

Sinopsis:

Putri Cina merasa risau dengan keadaan dirinya sendiri. Dia hidup di tanah Jawa namun secara fisik dia berbeda. Dia memang keturunan Cina, namun di kalangan orang Cina sendiri, dia tidaklah termasuk Cina karena tidak besar dan lahir di Cina. Dia bahkan tidak bisa berbahasa Cina. Namun, dia kemudian mengingat kisah, tentang keberadaan dirinya.

Menurut dongeng Jawa, dia adalah istri Prabu Brawijaya kelima. Ketika Prabu Brawijaya jalan di kampung, dia melihat ada janda, kemudian menidurinya. Janda itu melahirkan seorang anak bernama Jaka Prabangkara. Dia pandai melukis, maka disuruhlah untuk melukis Putri Cempa. Setelah lukisan jadi, ternyata ada noda hitam di sekitar kemaluan Putri Cempa. Brawijaya menuduh, kalau anaknya itu sudah pernah bersetubuh dengan permasurinya sehingga tahu benar letak noda tersebut. Akhirnya, Jaka Prabangkara diusir, dengan menerbangkan layang-layang raksasa, lantas dia terdampar di Cina dan ditemukan oleh pasangan yang tak punya anak. Maka, Jaka Prabangkara diangkatnya menjadi anak, dia menjadi terkenal, karena pandai melukis. Kemasyuran Jaka Prabangkara sampai ke Kaisar Cina, dia diangkat menjadi cucu kemudian dinikahkan dengan cucu Kaisar Cina sekaligus putri orang tua angkatnya.

Putri Cina yang merupakan putri Kaisar Cina kemudian dinikahkan dengan Raja Majapahit, namun kemudian bercerai. Oleh Raja Majapahit, Putri Cina diberikan kepada putranya, Arya Damar yang memerintah di Palembang. Saat diceraikan usia dalam kandungan Putri Cina berumur 7 bulan. Tak berapa lama di Palembang Putri Cina melahirkan putra yang dinamakan Raden Patah. Dia juga melahirkan satu orang putra lagi bernama Raden Kusen. Arya Damar ingin Raden Patah menggantikannya menjadi raja, namun Raden Patah menolak. Dia kemudian pergi diam-diam. Hal ini diikuti oleh adiknya Raden Kusen.

Sesampainya di Jawa, mereka berdua bertemu dengan Sunan Ngampel dan berguru kepadanya. Setelah lama di sana, Raden Kusen mengingatkan pada Raden Patah, bahwa tujuan mereka ke Jawa adalah untuk menemui Prabu Brawijaya. Namun Raden Patah berniat untuk menetap, sedangkan Raden Kusen melanjutkan perjalanan dan oleh Brawijaya diangkat menjadi Adipati Terung.

Suatu ketika, Raden Patah berniat mendirikan sebuah padepokan, maka oleh Sunan Ngampel dia ditunjukkan sebuah tempat bernama Bintara. Makin lama Bintara makin masyhur, kemasyhuran ini smapai ke Majapahit. Dia diminta untuk menemui Brawijaya. Raja Brawijaya sangat senang. Dia bahkan menghadiahi pasukan dan mengakui kekuasaan Bintara. Tak lama setelah itu, karena keinginan menyebarkan agama, maka Raden Patah berhasil menaklukan Majapahit, yang merupakan kerajaan milik ayahnya sendiri.

Keruntuhan Majapahit disambut senang hati oleh Putri Cina, karena dia pernah terluka oleh sikap Prabu Brawijaya. Namun, dia juga merasa seidh karena anaknya sendirilah yang melakukan kudeta. Mengetahui anaknya menjadi  raja di Puau Jawa, maka dia bertekad untuk menyusul. Namun, begitu sampai di Majapahit, dia mendapati bahwa kerajaan itu sudah tak berpenghuni lagi, tinggal sejarah. Di situlah dia bertemu dengan Loro Cemplon, pelayannya dulu. Dari Cemplon dia mendengar kabar bahwa Sabdopalon Nayagenggong, abdinya yang paling setia sudah tidak berada di Majapahit. Dia sudah ke Banyuwangi untuk murca.

Di Banyuwangilah, kemudian dia bertemu dengan abdinya tersebut. Sabdopalon Nayagenggong, kemudian menceritakan, bahwa pertumpaahan di tanah Jawa sebenarnya tumbal sejak lama, bahkan sejak para dewa belum diturunkan. Hal ini diawali ketika Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya berebut kekuasaan. Sang Hyang Tunggal marah kemudian menegur mereka. Ismaya menjadi Semar dan Antaga menjadi Togog. Sabdopalon Nyaagenggong sendiri merasa bersalah atas pertikaian yang terjadi antara Brawijaya dengan Patah, maka dari itu dia ingin murca. Dia juga mengaku sebagai Semar. Untuk itulah, dia mengatakan, dia perlu bertanggungjawab atas semua ini.

Setelah Sabdopalon Nayagenggong murca, Putri Cina melanjutkan perjalanan ke Tuban. Di sanalah dia berpisah dengan Cemplon. Dalam perjalanannya Putri Cina merasa senang bahwasannya dia melihat kaumnya serba berkecukupan. Namun, kemudian dia khawatir, karena sekarang kaumnya sangat mementingkan harta yang notabene akan menjadi bumerang untuk diri mereka sendiri.

Dalam babak baru, Putri Cina melihat adanya kerajaan baru dinamakan Medangkamulan. Dulu kerajaan ini tercipta karena Ajisaka dapat mengalahkan Dewatacengkar yang lalim. Awalnya Negeri Medangkamulan Baru, yang dipimpin oleh Prabu Murhardo sangat aman tentram, dan sejahtera. Rakyat sangat mencintai raja mereka. Namun, lambat laun, raja menunjukkan gelagat yang buruk. Dia mulai dikuasai oleh nafsu mempertahankan kekuasaan. Dia juga mulai memerintah dengan penuh kekerasan, bahkan terhadap rakyatnya sendiri.

Tersiar kabar bahwa dalam menjalankan kepemimpinan, dia dibantu oleh kekuatan gaib. Dia memiliki keris bernama Kyai Pesat Nyawa, sebuah pusaka yang haus akan pertumpahan darah. Dia mempercayakan keris itu pada senapatinya bernama Gurdo Paksi. Dalam menjalankan pemerintahan dia dikelilingi anak buah yang penjilat dan licik, sebut saja patihnya sendiri bernama Patih Wrehonegoro dan juga Lurah Prajurit Tumenggung Joyo Sumengah. Prabu Amurco Sabdo (semenjak lalim Prabu Murhardo diganti namanya oleh rakyat) sebenarnya tahu kalau ada persaingan antar bawahannya, namun dia memilih membiarkan.

Mengetahui hal ini, Putri Cina merasa khawatir, karena setiap kali terjadi kerusuhan maka bangsanya selalu menjadi korban. Memang benar, di awal para penguasa nampak mendukung golongan Cina, karena orang Cina dinilai menguntungkan secara materi. Namun, ketika situasi tidak terkendali, maka penguasa akan mengorbankan orang Cina, dan melakukan provokasi, bahwa Cina adalah orang-orang yang rakus, serta pelit tidak peduli dengan masyarakat pribumi.

Taktik ini pula yang kemudian dijalankan oleh Prabu Amurco Sabdo, ketika patihnya Gurdo Paksi tak mau menjalankan perintah untuk mengkambinghitamkan orang Cina. Karena istri Gurdo Paksi sendiri orang China, bernama Giok Tien. Giok Tien jaman mudanya dikenal sebagai seorang pemain kethoprak yang termasyhur. Banyak orang berusaha untuk mendekati dia, tak terkecuali Tumenggung Joyo Sumengah. Namun ternyata, Giok Tien lebih memilih Gurdo Paksi sebagai pendamping hidupnya. Kisah persaingan inilah yang kemudian menyulut dendam Joyo Sumengah hingga ajal.

Karena Gurdo Paksi tak ingin lagi ada kekerasan, maka dia menyerahkan pusaka Pesat Nyawa kepada Prabu Amurca Sabda. Dia memilih untuk mengendalikan suasana dengan damai. Namun, pihak Joyo Sumengah secara diam-diam memperkeruh masyarakat dan terus membuat provokasi, agar seluruh orang Cina disingkirkan. Joyo Sumengah juga secara diam-diam membunuh kedua kakak Giok Tien menggunakan keris Pesat Nyawa. Dia kemudian berhasil membujuk Giok Tien untuk ikut ke istana, dengan alasan Gurdo Paksi sudah tidak bisa mengendalikan suasana. Ternyata, sampai di istana, Joyo Sumengah hanya ingin memperkosa Giok Tien. Untunglah, Prabu Amurca Sabdo mengetahui hal ini, sehingga dia dapat menyelamatkan Giok Tien.

Namun sesampainya di kamar, Prabu Amurco Sabdo merasa terangsang, sehingga dia pun memaksa Giok Tien untuk bersetubuh. Giok Tien tidak dapat melawan. Persetubuhan ini secara diam-diam disaksikan oleh Tumenggung Joyo Sumengah, bahkan kemudian karena diancam oleh Joyo Sumengah, Prabu Amurco Sabdo mempersilahkan Joyo Sumengah untuk menyetubuhi Giok Tien.

Sementara itu, di tempat lain Gurdo Paksi yang mati-matian meredam susana tak berhasil, banyak sekali orang China yang menjadi korban. Dia menjadi orang yang pertama kali disalahkan atas segala kerusuhan ini, terutama oleh masyarakat. Masyarakat meminta dia untuk turun, dan tak lagi memegang jabatan sebagai orang yang menjaga keamanan. Bahkan dia baru tahu kalau kakak iparnya telah dibunuh orang, dengan keris Pesat Nyawa menancap di tubuhnya. Maka, masyarakat langsung menuduh Gurdo Paksi sebagai seorang pembunuh, karena masyarakat tahu bahwa satu-satunya orang yang memegang pusaka itu hanyalah Gurdo Paksi.

Gurdo Paksi yang tak merasa bersalah, kemudian ingin meminta keadilan kepada Prabu Amurco Sabdo. Dengan kemarahan, dia mendatangi istana. Di sanalah, dia kemudian menyaksikan Tumenggung Jaya Sumengah hendak menyetubuhi istrinya, maka marahlah dia. Setelah tahu suaminya tak bersalah, maka Giok Tien, mengancam raja dan tumenggungnya itu, dengan cara mengumumkan apa yang telah diperbuat oleh dua orang pembesar tersebut. Hal ini menyiutkan nyali keduanya.

Maka, sebagai gantinya, Gurdo Paksi meminta, Prabu Amurco Sabdo untuk turun tahta, begitu pun dirinya, akan turun tahta sebagai Senapati Perang. Hal ini mendapatkan persetujuan, maka Amurco Sabdo pun mencari penggantinya. Orang tersebut adalah Prabu Aryo Sabrang, yang notabene masih kerabat dekatnya. Berbeda dengan Amurco Sabdo, Aryo Sabrang memerintah dengan arif dan bijaksana. Dia juga meninggalkan cara-cara kekerasan.

Sementara itu, Tumenggung Jaya Sumengah masih terus menyimpan dendam terhadap Gurdo Paksi. Maka ketika Gurdo Paksi dan Giok Tien sedang berziarah ke makan dua orang kakanya, Jaya Sumengah menyerang dengan menggunakan anak paah. Tewaslah kedua orang tersebut dan terbang menjadi kupu-kupu. Jaya Sumengah sendiri, kemudian menyesal dan bunuh diri.

Fakta Cerita

Alur

Menggunakan alur campuran hal ini dibuktikan dengan seringnya Putri Cina mengingat masa lalu, begitupun ketika pengarang melakukan penceritaan terhadap Giok Tien.

Tokoh dan Penokohan

Putri Cina (sosok imajiner yang melampaui berbagai masa):

  • Perasa. Hal ini dibuktikan lewat pemikirannya yang rumit hanya untuk menentukan apakah dia itu masuk golongan Cina atau Jawa. Hal ini dipikirkannya berlarut-larut.
  • Pendendam. Ini dibuktikan ketika Majapahit runtuh dia merasa senang, karena masih terluka atas sikap Brawijaya.
  • Bersikap pasrah. Hal ini dibuktikan dalam petikan “Putri Cina tiba-tiba merasa, suatu saat kematian itu akan mendekatinya juga. Maka berkatalah ia di depan Makco dengan penuh pasrah”
  • Penuh kasih sayang. Ini jelas telihat dalam petikan “Ia begitu khawatir malapetaka itu akan benar-benar terjadi. Sebab betapapun ia amat mencintai Raden Patah, karena ia adalah anak yang lahir dari dalam rahimnya”.
  • Bersahaja dan bijaksana. Hal ini tercermin, ketika dia selalu mengingat ajaran dan juga petuah dari orang-orang terdahulu, mengenai kesederhanaan dan hakekat hidup. Hal ini menyebabkan dia hati-hati.
  • Rela berkorban. Ini terlihat dalam petikan berikut “Tapi mengapa ia mesti takut akan kematian, jika kematiannya bisa memberikan kehidupan?”

Raden Patah

  • Teguh pendirian. Hal terbukti dalam petikan “Raden Patah menolak. Ia tak mau lagi ke sana, karena tak ingin mengabdi pada raja yang lain agamanya dari dia”
  • Taat. Ini tercermin dalam petikan “Raden Patah berjalan, sesuai dengan pesan gurunya”
  • Barani dan tegas. Dibuktikan ketika dia melakukan penyerangan kepada Majapahit, meskipun raja Majapahit adalah ayahnya sendiri.

Sabdopalon Nayagenggong

  • Jenaka. Ini terlihat dari kutipan “Sabdopalon Nayagenggong masih seperti dulu, tetap jenaka dan tak bertambah tua”
  • Setia. Hal ini tertulis dalam petikan “Dari Loro Cemplon, Putri Cina tahu, Sabdopalon Nayagenggong sudah tidak ada di Majapahit. Begitu Majapahit kalah bubrah, kedua abdi setia itu pergi ke Banyuwangi”
  • Bertanggung jawab. Hal ini terlihat dalam cuplikan “Karena hambalah yang memulai pertikaian dan persaingan yang kemudian terjadi terus menerus di Tanah Jawa. Itulah sebabnya dari tadi hamba berkata, hamba ikut bertanggung jawab dalam segala pertikaian putra Paduka dan ayahnya”
  • Jujur. Hal ini tercermin dalam petikan berikut “Janganlah Tuan Putri terkejut, jika hamba membuka siapa diri hamba. Hamba adalah Semar”

Giok Tien

  • Berani. Ini terlihat ketika dia memutuskan untuk ikut bergabung dlaa kelompok ketoprak.
  • Berpendirian teguh. Terlihat dalam kutipan “Aku main ketoprak bukan untuk cari uang. Bila aku ingin hidup enak dan senang, lebih baik aku berdagang….”
  • Taat pada suami. Dia percaya ketika semua orang menganggap suaminya bersalah, namun dia lebih percaya pada Gurdo Paksi
  • Rela Berkorban. Ketika ada anak panah hendak menyasar Gurdo Paksi, dia mencoba melindungi, meskipun akhirnya dia sendiri yang terkena.

Gurdo Paksi

  • Dapat dipercaya. Hal ini dibuktikan dengan petikan “Jelas, Gurdo Paksi adalah bawahan yang dekat dengan Prabu Amurco Sabdo dan dipercaya benar”
  • Bijaksana. Hal ini terlihat ketika dia diminta untuk mengorbankan masyarakat Cin, namun dia menolak. Baginya, dia mau saja perang melawan musuh, namun bukan berarti dia mau juga perang melawan rakyat.
  • Berani. Dia berani menentang keputusan raja, sekaligus berani mengambil keputusan untuk mengembalikan pusaka.
  • Setia. Hal ini terbukti, sampai akhir hayat dia masih terus mencintai Giok Tien

Amurca Sabdo

  • Keras. Ini dibuktikan dengan petikan “Demikianlah negara Pedang Kemulan itu dijalankan dengan kekerasan. Jumlah serdadu di perbanyak”
  • Tidak adil. Ini tercermin dalam “Tak ada lagi keadilan. Selalu raja, keluarga, dan pembantu-pembantunya yang dimenangkan, dan kepentingan rakyat ditelantarkan”
  • Pengkhianat. Hal ini ada dalam kutipan “Prabu Amurco Sabdo artinya raja yang mengkhianati kata-katanya sendiri”
  • Ambisius. Hal ini sesuai dengan kutipan “… Yang ada dalam hasratnya, hanyalah bagaimana memperbesar dan mempertahankan kekuasaanya”
  • Bebal. Hal ini terlihat ketika semua rakyat menyuruhnya untuk turun tahta, namun dia tak bergeming.
  • Pemarah. Hal ini terlihat dalam petikan “…… Prabu Amurco Sabdo pun marah mencak-mencak”

Jaya Sumengah

  • Iri hati. Ini terlihat dalam kalimat “Prabu Amurco Sabdo tahu, di antara kedua prajurit tertingginya ini terdapat persaingan dan rasa saling iri hati, lebih-lebih dari pihak Tumenggung Joyo Sumengah”.
  • Suka cari muka. Hal ini terdapat dalam petikan “……. Tutur kata dan pandangannya kelihatan mencari muka”
  • Licik. Terbukti ketika dia mengusulkan kepada Amurca Sabdo untuk mengalihkan perhatian pribumi kepada para masyarakat Cina.
  • Suka menghasut. Hal ini terlihat ketika dia menghasut Giok Tien mengenai Gurdo Paksi.
  • Percaya mistis. Ini terlihat ketika dia mendatangi dukun untuk memelet Giok Tien.
  • Pantang menyerah dan pendendam. Terbukti bahwa sampai akhir hayatnya dia tetap mengejar cinta Giok Tien, bahkan kemudian sampai membunuh karena dia merasa dendam dengan Gurdo Paksi.

Latar

Latar Tempat

  • Jawa. Hal ini tercermin dalam petikan “Menurut dongeng Jawa, ia adalah istri Raja Majapahit yang terakhir, Prabu Brawijaya Kelima”
  • Cina. Ini terdapat dalam petikan “Karena itu dari seanteroi Negeri Cina, banyak orang yang memesan lukisannya”
  • Palembang. Hal ini terdapat dalam petikan “Sesampainya di Palembang, tak berapa lama kemudian, {Putri Cina melahirkan seorang putra, yang diberi nama Raden Patah”
  • Medang Kemulan Baru. Hal ini tercermin dari petikan “Karena mau meniru dan melanjutkan kejayaan Medang Kemulan, maka kerajaan itu diberi nama Medang Kemulan Baru”.

Latar Waktu

  • Jaman kerajaan majapahit. Hal ini tercermin dalam petikan “Waktu itu Prabu Brawijaya berjalan-jalan ke desa. Ia merasa lelah, lalu beristirahat di ruamah seorang mantri lurah jagal, punggawa rendahan Istana Majapahitjayaan, kesejahteraan, dan kemuliaan Kerajaan Medang Kamulan, maka kerajaana baru yng muncul di Tanah Jawa itu menamai dirinya Medang Kamulan Baru”
  • Akhir kejayaan Majapahit dan masuknya Islam. Ini terbukti dengan petikan berikut “Berakhir sudahlah kemegahan zaman Majapahit. Tanah Jawa menapaki zaman baru. Di Demak, para wali menetapkan Raden Patah, Pangeran Bintara itu, menjadi sultan”.

Latar Sosial

Di lingkungn masyarakat yang kacau penuh dengan primodialisme, yang mana kaum China digunakan sebagai alasan kecemburuan sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s