Resensi NovelAkar “Dewi Lestari”


Judul                          : Akar

Nama Pengarang      : Dewi Lestari

Penerbit                      : PT. Bentang Pustaka

Tahun                         : 2012

Cetakan                      : pertama, Maret 2011

Jumlah halaman        : 262 halaman

Sinopsis:

Gio berada di Bolivia, kemudian dia menemui Chaska, wanita yang dipanggilnya Mamá. Chaska sendiri adalah ibu dari sahabatnya yang bernama Paulo. Di Bolivia inilah dia seringkali menekuri sungai, hingga kemudian datang lelaki yang tak dikenal menawarkan dia minum. Lelaki itu seakan bisa membaca pikirannya. Terakhir bertemu, dia diberikan semacam jimat. Lama berbincang, kemudian dia mendengar Chaska memanggil dengan buru-buru, wanita itu bilang Paulo menelepon karena ada sesuatu yang sangat penting. Gio lantas kembali ke rumah, dan telepon itu benar datang lagi, mengabarkan kalau Diva hilang dalam sebuah ekspedisi di Tambopata. Akhirnya Gio memutuskan untuk segera menyusul, meskipun Chaska merasa keberatan karena dia seperti mendapatkan firasat buruk.

-o-

Bodhi bisa dikatakan sebagai orang yang tak tahu identitas dirinya. Dia hidup berpindah-pindah, tak tahu kapan dan dimana dia lahir. Dia bekerja sampingan sebagai salah satu penyiar radio untuk komunitas punk. Dia berteman dengan Bong, pimpinan salah satu komunitas punk. Pertemuan mereka terjadi di Bandung, dalam sebuah pertunjukkan musik punk.  Bong kemudian meminta Bodhi untuk mengisi program orientasi. Semacam pengenalan, dan di situlah Bodhi kemudian menceritakan riwayat hidupnya.

Bodhi kecil belajar di Wihara Pit Yong Kiong di daerah Lawang dengan gurunya bernama Guru Liong. Dia sendiri ditemukan oleh Guru Liong dibuang dan diletakkan di bawah pohon asam. Sejak itulah dia diasuh oleh Guru Liong. Selama bersama Guru Liong dia merasakan keanehan, umur enam tahun dia melihat dunia dengan perspektif yang sangat berbeda, dia seperti di dunia lain. Umur sebelas tahun, dia bisa melihat apapun yang menyelimuti sekelilingnya, seperti bakteri dll. Beranjak remaja dia mendapatkan pengalaman meraga sukma. Lantas dia juga kemudian bisa berubah identitas menjadi hewan atau manusia lain.

Hal ini disadari oleh Guru Liong. Guru Liong menyatakan bahwa dia harus pergi jauh dan tidak boleh kembali. Dia mengatakan Budha Amitabha akan membimbing, Bodhi akan pergi bersama dengan rombongan para pandit. Dia kemudian menyeberang ke Belawan, dari Belwan dia langsung ke Pasir Putih. Di Pasir Putih dia bekerja sebagai cleaning service. Selama itu pula fenomena aneh semakin berkurang.

Suatu ketika ada tamu long stay asal Malaysia. Dari orang tersebut Bodhi diberi tiket ke Malaysia. Karena dia butuh paspor, sementara dia tak tahu asal usulnya, maka melalui jalan gelap dia membuat paspor palsu atas bantuan Ompung Berlin. Setelah mendepatkan paspor dia langsung menyeberang.

Di jalan, dia bertemu dengan Tristan, salah seorang backpacker yang mengajaknya ikut rombongan menuju Thailand. Kemudian dia berpisah, namun Tristan menyerahkan nomor kontak, daftar nama, alamat surel, kafe, hotel, dan juga sebuah buku mengenai tips berpetualang di Thailand. Dia kemudian ke Bangkok dan bekerja sebagai tukang cuci di sebuah restoran China, lantas selama setahun dipecat karena tak punya paspor kerja. Selanjutnya dia memutuskan untuk membeli sleeping bag dan menginap di penginapaan Srinthip. Hari terakhir di sana, dia bertemu dengan Kell. Seorang backpacker yang sudah melanglang dunia.

Kell adalah seorang pembuat tato, ditubuhnya sendiri ada 617 simbol. Dia membutuhkan simbol ke 618 untuk menyelesaikan tugasnya. Untuk itu dia berkeras hati agar Bodhi tetap tinggal di penginapan itu. Kell juga yang kemudian mengajari Bodhi membuat tato. Hingga kemudian suatu ketika datang seorang perempuan bernama Star. Dia adalah perempuan yang sangat cantik. Star kemudian hari pun minta ditato oleh Bodhi. Kecantikan perempuan itu membuat Bodhi jatuh cinta, namun suatu peristiwa selepas Bodhi menato membuat Star akhirnya keluar dari penginapan.

Beberapa lama kemudian, Bodhi pergi menuju Laos. Samapi di sana dia langsung menukarkan uang dan berinisiatif untuk pergi ke Vang Vieng daerah pegunungan yang kata backpackers adalah tempat yang indah. Hingga di tepi sungai, dia kemudian mendapati Guru Liong dalam bentuk mudanya tengah berjalan di atas air. Hal ini membuat dia berteriak-teriak. Pemandu wisata yang tak melihat apapun merasa khawatir dengan keadaan Bodhi. Untuk itulah, kemudian dia memutuskan pergi ke Huay Xai. Di kapal, seorang anak aneh melihatnya bahkan sampai dia masuk ke penginapan, ketika anak itu hendak menarik bandananya Bodhi menghardik, anak itu menarik keras. Hingga kemudian ibunya datang meminta maaf dan mengatakan bahwa anak itu adalah anak pembawa sial.

Setelah mengalami hal ini, maka dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Huay Xai dan lantas terdampar di Chiang Khong. Dia merasa sangat panik, ketika ada sesoerang yang menawari tumpanagan maka dia pun ikut serta, tak tahu kemudian dia diturunkan di tengah jalan dan diminta paksa untuk membayar. Bodhi benar-benar tak punya uang lagi, hingga kemudian dia lomba diam deg an kaleng kue. Untunglah ada seorang traveler Jamaica yang merupakan mantan pembantu Bob Marley membantunya.

Dari orang tersebut yang bernama Georgy, dia kemudian disarankan untuk menuju suatu tempat. Maka menujulah dia ke tempat tersebut, yang ternyata Laos. Ketika hendak masuk dia melewati portal yang dijaga tentara. Di sanalah dia bertemu lagi dengan Tristan. Maka bersama dengan Tristan dia kemudian bekerja di tempat itu menjadi seorang pemetik daun mariyuana serta opium. Gaji di sana sangat lumayan

Setalah merasa uangnya cukup, maka dia kemudian kembali ke Bangkok untuk menemui Kell, namun ternyata Kell disinyalir sudah pergi ke Kamboja maka, pergilah dia ke Kamboja. Dia menumpang mobil Dieth dengan membayar 100 bath. Di tengah jalan dan semak belukar dia bahkan disuruh loncat karena sesuatu terjadi. Itulah daerah perbatasan, hingga kemudian seorang tentara menginterogasi, membawanya ke rumah, dan kemudian menyatakan akan mengawalnya menuju Pailin. Sampai di Pailin tentara yang mengantarkannya dikejar-kejar banyak orang karena hutang,.

Sebagai balas budi, maka Bodhi pun bersedia membayar hutang tentara tersebut. Namun, dia tidak menyangka kalau cara membayarnya adalah dengan bertarung. Benar saja, dia harus bertarung melawan sosok yang sama sekali tidak seimbang. Akan tetapi di akhir pertarungan dia menang. Orang-orang merasa tidak terima jagoan mereka kalah. Hal inilah yang kemudian membuat dia kembali dikejar-kejar oleh orang-orang. Bodhi akhirnya terdampar di suatu kawasa penuh dengan ranjau, dia bertemu dengan Epona, salah satu wanita penjinak ranjau.

Melalui Epona, dia dibawa ke base camp. Di sanalah dia bertemu dengan Kell. Banyak yang mereka bicarakan. Hingga suatu ketika, mereka pergi menuju Battambang. Di tengah jalan, mereka bertemu salah satu penjinak ranjau juga yang menyatakan bahwa di salah satu kawasan, semua pendeteksi ranjau rusak. Di tempat itulah kemudian mereka menjalankan mobil. Benar saja, menurut anggota yang bertugas di sana, kawasan tersebut memiliki keanehan, keanehan itu benar-benar terjadi ketika insiden kecelakaan menimpa Kell. Dia terkena ranjau, padahal kawasan yang diinjak oleh kell termasuk kawasan aman, bebas ranjau.

Bodhi yang mengetahui hal ini langsung bertindak cepat, dengan intuisinya maka dia menghampiri Kell hendak melakukan pertolongan. Namun Kell, yang beberapa tubuhnya sudah koyak itu menolak untuk ditolong, bahkan kemudian dia meminta Bodhi untuk menato dirinya, tato ke 618. Selesai Bodhi menato, Kell berpesan bahwa jasadnya ingin dibakar. Hal ini benar-benar Bodhi laksanakan, bahkan kemudian kemampuannya yang cukup unik bisa mendeteksi keberadaan ranjau tanpa alat membuatnya terkenal di forum internasional. Dia memilih untuk keluar dan kembali ke Indonesia. Tahun 1998 dia kembali ke Indonesia berlayar melalui laut, di sanalah dia kemudian melarung abu jenasah Kell.

Itulah semua sejarah yang terjadi hingga kemudian Bodhi terdampar di Jakarta. Di akhir cerita inilah, kemudian Bodhi memiliki banyak firasat buruk. Hingga kemudian ketika dia menanti surel yang penting, tak kunjung datang juga, di sebuah warnet kecil di Jakarta, dia menemukan catatan berjudul Akar. Entah mengapa catatan itu seperti ditujukan untuk dirinya, namun nama-nama yang ada di dalam catatan tersebut sama sekali tak dikenalinya. Itu terus menjadi teka-teki….

 Fakta Cerita

Alur Cerita

Flash back atau campuran. Hal ini terlihat dengan diawalinya pengembaraan Gio di Bolivia, kemudian menceritakan tokoh lain yaitu Bodhi. Di sanalah pengenalan siapa sebenarnya Bodhi dilakukan. Lantas melalui Bodhi, yang menceritakan latar belakang, gaya penceritaan berubah menjadi pengenagan masa lalu (memang dalam novel ini, hampir semua cerita adalah masa lalu), kemudian novel diakhiri dengan keberadaan tokoh Bodhi yang mengalami kegamangan, lantas menemukan sebuah catatan berjudul akar.

Tokoh dan Penokohan

Gio

  • Suka berpetualang. Hal ini terlihat dari kegiatannya yang pernah menjelajahi berbagai tempat di dunia.
  • Menyenangkan. Hal ini terbukti ketika Chaska bahkan lebih menganggapnya sebagai anak dibandingkan Paulo
  • Setia. Ini terlihat dalam petikan berikut “Dengan sederhana dan tak banyak tanya, bertahun-tahun Gio mencintai satu orang yang sama”.

Bodhi

  • Responsif/ bisa menjaga perasaan. Terbukti ketika dia memutuskan memakai spike berpaku runcing pemberian Bong, hanya agar Bong tidak tersinggung.
  • Pesimistis. Hal ini terlihat dari keinginan Bodhi yang selalu ingin mati cepat.
  • Pasrah. Hal ini terlihat dari petikan “Dan, seperti menungguku, Star bergerak lamban, sampai aku kehabisan bahan pura-pura dan cuma bisa pasrah menyaksikannya menuntaskan kancing-kancing itu.
  • Setia kawan. Hal ini terlihat dengan semangatnya yang tinggi untuk bolak-balik berbagai negara hanya untuk menemui Kell
  • Rela Berkorban. Ini terlihat ketika dia menyanggupi akan membayar hutang tentara yang telah menolongnya, meskipun kemudian harus bertarung dengan orang yang tak seimbang.
  • Berkemauan keras. Hal ini dibuktikan bagaimana rintangan dan juga halangan di berabagai negara tak menyurutkan niatnya untuk mencari jati diri. Dia juga tak peduli ketika banyak temannya mengatakan bahwa apa yang akan dia lakukan sejujurnya sangat berbahaya.
  • Taat. Ini dapat dilihat dari ketaatan Bodhi dalam menjalankan perintah dan juga amanah gurunya.

Bong

  • Berwibawa. Hal ini terlihat dari petikan “Meski paling benci disebut ketua geng dan menganut prinsip rhizoma dalam membina jaringan, dia tetap dituakan dan dihormati seluruh scene di negeri ini karena dialah yang paling cerdas dan berwawasan.
  • Sabar. Hal ini terlihat dalam petikan “Dengan pelan dan sabar, Bong menerangkan konsep anarki yang sesungguhnya”
  • Idealis. Ini terlihat ketika dia mengatakan bahwa dia tidak akan ngutil di tempat temannya, karena dia hanya ngutil di toko-toko kapitalis.
  • Cerdas. Dapat kita lihat, ketika dia menjelaskan berbagai macam konsep baik itu berasal dari dalam maupun dari luar negeri klepada Bodhi

Kell

  • Bebas. Hal ini terlihat dari gaya hidupnya yang memiliki banyak perempuan agar dia memiliki banyak uang.
  • Keras kepala. Hal ini terlihat ketika dia memaksa Bodhi untuk tinggal di penginapan
  • Baik hati. Terbukti ketika dia membelikan paw pia dan menjamin biaya hidup Bodhi di penginapan.
  • Sabar. Hal ini terlihat dari caranya menjelaskan proses pembuatan tato, tiap tahapnya dengan detail.

Latar

Latar Tempat

  • Bolivia. Hal ini terlihat dalam petikan “Satu kota ini tengah merayakan Fiesta de La Cruz demi mengenang salib Kristus di Golgota. Dan lerpas dari tema sucinya, orang-orang Bolivia ini benar-benar tahu cara berpesta”.
  • Jakarta. Hal ini terlihat dari sub judul yang menyatakan tempat pada halaman 17
  • Belawan. Hal ini ditunjukkan dalam petikan “Pergi dengan kapan laut, aku berpisah dengan rombongan begitu menginjakkan kaki di Belawan,”
  • Bangkok. Hal ini terlihat dari kutipan “Pergi ke Yaowaraj, pecinannya Bangkok, dan berhasil jadi tukang cuci piring selama satu bulan di restoran China, sampai akhirnya dipecat karena tak punya izin kerja”.
  • Laos. Hal ini terdapat dalam petikan “….Tiba di bagian imigrasi Laos. Kesaktian Ompung Berlin masih terus mengiringi…..”
  • Golden Triangle. Hal ini terlihat dari petikan “Dan, sekarang kamu ada di Golden Triangle, so, firget about the rest of the globe”.

Latar Waktu

  • 2003. Hal ini terdapat dalam petunjuk waktu di sub judul “Bolivia”
  • 2002. Hal ini terdapat dalam petunjuk waktu sub judul “Jakarta” halaman 17.
  • 1978-1998. Hal ini terdapat dalam petunjuk waktu sub judul “Lawang” halaman 38
  • 1998. Hal ini terlihat dalam petikan berikut “Bertandang ke Samudera Hindia ternyata memicu ide lain. Pada malam tahun baru 1998, ada abu halus bertaburan searah laju angin dari atas dek feri menuju Sumatera”

Latar Sosial

Latar sosial yang mendasari novel ini adalah kehidupan punk, backpackers yang bebas dan penuh tantangan serta mendobrak kemapanan, juga kehidupan mistis seorang penganut agama Budha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s