Resensi Novel Lintang Kemukus Dini Hari “Ahmad Tohari”


Lintang Kemukus Dini Hari

Sinopsis:

Semenjak kepergian Rasus yang tiba-tiba tanpa pamit itu, Srintil merasa begitu kehilangan. Sejak itu dia sering mengalami pergolakan dan perang batin. Dia mulai memikirkan hakikat dirinya sebagai seorang perempuan serta konsep laki-laki. Dulu, dia berpikir bahwa lelaki itu ada dari golongan yang sama , seseorang yang rela memberikan apapun hanya demi tidur dengannya barang satu dua malam. Namun, lantas dia menemukan lelaki yang lain, yang berbeda, lelaki itu yaitu Rasus.

Kepergian Rasus, menjadi tekanan dan pukulan yang cukup telak. Srintil merasa sebagian dari hidupnya menghilang, dia menjadi pemurung tidak seperti layaknya Ronggeng. Dia juga sudah dua kali tidak naik pentas. Dari sinilah, maka timbul berbagai spekulasi di kalangan masyarakat, mereka mengira Rasus sudah membuat Srintil tergila-gila. Mereka menyalahkan Nyai Kartareja, sebagai seorang dukun Ronggeng, karena dinilai tak mampu mendidik Srintil dengan baik. Hal ini mendorong Nyai Kartareja untuk berusaha merenggangkan hubungan Srintil dengan Rasus secara gaib, namun dengan suatu peristiwa yang tidak sengaja, media itu tidak berfungsi.

Suatu ketika datang Marsusi, seorang mandor perkebunan. Dia ingin bertemu dengan Srintil. Bukannya menemui lelaki itu, Srintil justru kabur ke arah Pasar Dawuan. Penampilan Srintil dan raut mukanya yang kurang menyenangkan membuat orang-orang Pasar Dawuan berspekulasi macam-macam. Ada yang mengatakan kalau Srintil sebenernya sudah tidak mau lagi menjadi Ronggeng, ada yang menyatakan uang yang dia terima ketika ditiduri lelaki kurang, ada yang menyatakan bahwa Nyai Kartareja selaku orang yang mengurusi Srintil terlalu serakah.

Di sinilah, keserakahan Nyai Kartareja terbukti. Untuk mengelak bahwa Srintil telah melarikan diri, dia mengatakan kepada Marsusi bahwa Srintil adalah Ronggeng muda yang masih labil. Srintil merasa iri dengan istri lurah Pecikalan yang mempunyai kalung seberat 100 gram. Mendengar hal itu, hati Marsusi masygul, maka dia memutuskan untuk pulang dan berjanji akan kembali dengan membawa kalung emas 100 gr berbandul berlian.  Sesudah itu Nyai Kartareja menyusul Srintil ke Dawuhan. Namun sampai di Dawuhan, orang-orang tidak memberitahu kalau Srintil di sana, melainkan mereka berbohong dengan menunjukkan arah yang salah tentang kepergian Srintil. Setelah dirasa aman, barulah Srintil menuju markas tentara, tak dinyana sampai di sana Kopral Pujo mengatakan bahwa tadi Nyai Kartareja mencari Srintil di markas. Dia juga menyatakan bahwa Rasus tak ada di markas. Rasus berada di luar kota. Tak berhasil menemui Rasus, Srintil memilih untuk kembali ke Dawuhan. Di sanalah neneknya, Nyai Sukarya datang dan mengajak pulang.

Kepergian Rasus benar memberikan dampak yang besar, Srintl menjadi sakit-sakitan. Gambaran bahwa rahimnya telah dimatikan oleh Nyai Kartareja membuat dia merasa takut. Hal inilah yang kemudian membuat dia ingin menguasai Goder, anak Tampi. Hanya bocah kecil itulah yang bisa membuat hari-harinya ceria.

Suatu ketka Marsusi datang lagi. Dia ingin mengajak Srintil dua atau tiga hari keluar. Tak disangka tak dinyana Srintil menolak. Marsusi tak patah semangat dia keluarkan kalung sebagaimana yang diminta oleh Nyai Kartareja, lagi-lagi Srintil menolak, ini membuat Marsusi marah besar. Srintil bahkan tidak melayani dia berhubungan badan, karena Srintil memang memutuskan untuk berhenti berhubungan badan dengan siapapun. Kemarahan Marsusi berimbas pada kemarahan Kartareja kepada Srintil. Namun Srintil merasa tenang, setidaknya dia sudah berusaha untuk mengambil jalan yang terbaik. Ketidakmauan Srintil untuk manggung, membuat risau kakeknya si Sakarya. Dia belakangan menangkap sasmita alam, bahwa akan ada sesuatu yang buruk terjadi.

Musim Agustusan datang. Oleh pemerintah kecamatan Srintil diminta untuk manggung. Meski awalnya bimbang, dia memenuhi undangan itu dengan berbagai pertimbangan. Di lain pihak, Marsusi ingin membuat pehitungan atas penolakan Srintil dia mendatangi seorang dukun sehingga ingin mempermalukan Srintil di depan umum. Benar saja, ketika sedang menari dalam perayaan Agustusan Srintil merasa sesak nafas beberapa kali, hingga pertunjukkan dihentikan.

Ketenaran Srintil sampai keluar, salah satunya terdengar oleh Goder dari Alaswungkal. Goder sendiri adalah orang yang sangat kaya raya dan baik. Dia menemui Srintil bermaksud untuk meronggeng di rumahnya, selain itu dia juga meminta Srintil untuk menjadi gowok, semacam istri sementara untuk mengajari laki-laki. Dia bertugas menjelaskan bagaimana menjalin sebuah rumah tangga. Srintil menyanggupi, hanya saja untuk menjadi gowok dia memutuskan belakangan.

Sampai di Alaswungkal, nyatanya Srintil mau juga  menjadi Gowok. Bukan karena laki-laki yang akan dia jadikan suami adalah orang yang kaya serta tampan, melainkan karena panggilan nuraninya sebagai seorang perempuan. Seorang perempuan sebagai penyeimbang laki-laki. Ini hanya panggilan nurani, ketika menyadari orang yang akan dijadikan suami adalah sosok yang masih kekanak-kanakan. Lelaki dewasa kurus yang tidak bisa merawat dirinya sendiri, layaknya seorang anak kecil. Seorang lelaki berumur tujuh belas tahun yang bahkan tak mengenal apa itu birahi.

Dengan berusaha sekuat tenaga, Srintil menjadkan Waras lelaki dewasa. Namun dengan penuh penyesalan dia menyerah. Waras hanya sedikit perubahan. Srintil merasakan kegagalan yang amat sangat. Dia hanya mampu bertahan selama tiga hari. Srintil merasa kecewa, bukan karena kebutuhan birahinya tidak terpenuhi melainkan keperempuanannya sama sekali tidak berarti.

Tahun 1964 merupakan kejayaan Ronggeng Dukuh Paruk, sekalipun Srintil tidak lagi mau untuk melayani para lelaki, tapi dia mau untuk sekedar manggung. Dia bahkan seringkali diundang untuk manggung dalam rapat-rapat. Ini berawal ketika Pak Bakar orang dari Dawuan yang selalu berpidato dengan berapi-api, memberikan seperangkat pengeras suara dan properti untuk keperluan Ronggeng. Sejak saat itu pula, satu-satunya akses menuju Dukuh Paruk berhiaskaan lambang partai.

Perubahan yang begitu cepat di daerah Dukuh Paruk memuat Sakarya dan Kartareja gamang, namun dia tidak bisa berbuat banyak karena Pak Bakar telah banyak membantu kehidupan masyarakat. Dalam pidatonya Pak Bakar selalu menyisipkan hal-hal berbau propaganda, seringkali pentas ronggeng juga berakhir dengan rusuh. Hal inilah yang kemudian membuat Srintil dan grup ronggengnya memilih untuk tidak mengiktui lagi acara-acara yang dilakukan oleh Pak Bakar.

Hingga suatu ketika, Sakarya mendapati cungkup makan Ki Secamenggala telah dirusak orang. Hal ini semakin meruncing ketika ditemukan caping hijau. Caping hijau bukanlah sesuatu yang digunakan oleh orang-orang Bakar, orang yang selama ini diduga merusak cungkup makam. Demi menjaga kehormatan dan pelampiasan balas dendam, maka Srintil masuk kembali ke rombongan Bakar.

Tahun 1965 keadaan menjadi tak terkendali, ekspansi tentara ke desa semakin sering, rumah orang-orang Bakar dibakar. Kasak kusuk dan kerusuhan ini sampai juga di Dukuh Paruk. Ternyata Bakar adalah orang PKI. Untuk menyelesaikan masalah, maka Srintil dan Kartareja memutuskan untuk datang ke kantor polisi. Mereka menjelaskan bahwa mereka hanya berkesenian dan sama sekali tidak terlibat kegiatan PKI. Bukannya diperbolehkan kembali, mereka berdua ditahan. Hal ini membuat semangat Dukuh Paruk mati, perempuan yang dibanggakan dan seorang tetua tidak lagi berada di tempat mereka.

Yang terpukul dengan hal ini tentu Sakarya, namun semua itu hanyalah awal, karena beberapa hari kemudian serombongan orang membakar Dukuh Paruk hingga yang tersisa hanyalah puing-puing. Banyak orang yang menganggap Dukuh Paruk sudah diambang kematian, apalagi Srintil saat ini tidak diketahui lagi dimana rimbanya. Sakarya, Nyai Kartareja, Sakum, dan dua orang lainnya ikut ditahan.

Fakta Cerita

Alur

Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur maju yaitu menceritakan dari Srintil merasa kehilangan Rasus kemudian cerita berkembang ke arah dia tidak mau lagi melayani para lelaki, namun dia kemudian menjadi gowok, dan ikut Pak Bakar meronggeng dalam rapat-rapat. Tidak tahunya, Pak Bakar merupakan kader PKI, sehingga dalam penumpasan gerakan PKI, Srintil pun ikut ditahan.

Tokoh dan Penokohan

Srintil

  • Teguh pendirian dan berani mengambil sikap. Hal ini dibuktikan ketika dia menolak Marsusi untuk bersetubuh dengannya bahkan ketika lelaki itu memberinya kalung yang mahal. Bahkan dia tidak mengubah sikap, ketika tahu kalau Marsusi mulai marah
  • Penuh kasih sayang. Hal ini terlihat bagaimana dia merawat Goder.
  • Peduli. Hal ini dibuktikan ketika dia harus memutuskan apakah akan menerima tawaran untuk manggung di kecamatan atau tidak, namun begitu melihat Sakum yang penghasilannya bergantung pada Srintil hidup serba kekurangan, Srintil akhirnya mengiyakan diminta manggung.

Nyai Sakarya

  • Penyayang dan pengertian. Hal ini terlihat ketika dia menjemput Srintil di Pasar Dawuan, dia berkata dengan lembut, dan paham bahwa cucunya sedang terlibat masalah. Namun, karena dia tahu Srintil tak ingin diganggu, maka dia mendiamkan.

Tampi

  • Suka menolong dan kasih sayang. Hal ini terlihat ketika dia membiarkan Goder bersama dengan Srintil, karena dia tahu bahwa Srintil sangat menginginkan anak itu. Dia juga pengertian, ketika beberapa hari Srintil terbaring sakit, dia membawakan beberapa sisir pisang kepada Srintil.

Sakarya

  • Memegang teguh adat. Hal ini terlihat dari petikan “Sasmita buruk lagi, pikir Sakarya. Apabila sudah yakin demikian maka hanya satu hal yang harus dilakukan oleh kamitua Dukuh Paruk itu: mengetuk pintu makam Eyang Secamenggala di puncak bukit, kemudian memasang sesaji dan membakar kemenyan”.
  • Bersikap pasrah. Hal ini dibuktikan dengan petikan berikut “Tiba-tiba Sakarya tersenyum. Di tengah keheningan hatinya mendadak muncul kesadaran yang dalam bahwa usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Di Dukuh Paruk dialah laki-laki yang paling lanjut. Apabila pertanda buruk yang dirasakannya adalah peringatan akan datangnya ajal, maka pantaslah adanya. Perihal kematian diri, bukan hanya sekali dua Sakarya merenungkannya. Kadang malah merindukannya. …..”
  • Taat penguasa. Hal ini dibuktikan dalam petikan berikut “… Kita ini kawula. Kita wajib tunduk kepada perintah bahkan keinginan para punggawa itu. Menampiknya, sama saja dengan mengundang hukum”

Marsusi

  • Suka memaksa. Hal ini dibuktikan ketika dia mengajak Srintil untuk bersenang-senang, namun ketika Srintil menolaknya maka dia marah.
  • Pendendam dan percaya klenik. Hal ini ditunjukkan ketika Marsusi menemui Tarim, salah satu dukun yang bisa mengirimkan pelet, teluh, dan juga jampi-jampi. Marsusi datang untuk membalas dendam karena sudah dipermalukan oleh  Srintil. Maka dia meminta Tarim untuk ganti mempermalukan  Srintil.

Nyai Kartareja

  • Pembohong, licik, dan mata duitan. Ini dibuktikan ketika Srintil kabur, dia mengelak pada Marsusi bahwa Srintil sebenarnya sedang menginginkan kalung emas. Dia juga bilang kalau Srintil masih kekanak-kanakan, padahal Sarintil sendiri pergi untuk menghindari Marsusi (hal. 122).
  • Egois. Ini terbukti ketika dia tahu Srintil tidak mau menerima kalung dan bandul yang diberikan oleh Marsusi, sehingga lelaki itu marah. Maka, dia merasa kecewa karena tidak berhasil mendapatkan kalung yang dia idam-idamkan. Dia bahkan kemudian marah dan mengatakan bahwa Srintil adalah wanita yang tak tahu diuntung.

Sentika

  • Demokratis. Hal ini dibuktikan ketika dia menawari Srintil menjadi gowok, dia tidak memaksa, kalau nantinya Srintil tidak mau.
  • Baik hati. Buktinya dia menyuruh orang untuk menjemput rombongan Srintil ketika akan ke Alaswungkal. Dia juga menyediakan segala keperluan Srintil dengan baik. Dia juga orangtua yang bertanggung jawab meskipun dia tahu bahwa Waras, anak semata wayangnya kekanak-kanakan, dia tetap menerima.

Waras:

  • Kekanak-kanakan. Hal ini terlihat dari kutipan berikut “Di Dukuh Paruk, Srintil biasa melihat anak burung dipelihara oleh manusia. Tetapi manusia kecil sepuluh tahunan, bukan perjaka jangkung seperti Waras”. Kekanak-kanakan Waras juga terlihat menjelang dia tidur, masih selalu dengan emaknya. Dia juga tak pernah bekerja, hanya bermain seperti anak kecil. Dia bahkan tidak memiliki nafsu kepada wanita, dalam hal ini Srintil yang notabene menjadi rebutan para perjaka.

Latar

Latar Tempat

  • Dukuh Paruk. Ini ditunjukkan dengan petikan berikut “Dukuh Paruk masih terdiam meskipun beberapa jenis satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi”
  • Pasar Dawuan. Ini terlihat dari petikan berikut “Matahari masih terik ketika Srintil turun dari andong di depan Pasar Dawuan” (hal. 81),
  • Segara Anakan. Ini terlihat dari petikan berikut “Ketika laut surut di Segara Anakan. Sebuah perahu motor dengan mesin disel tua meraap terbata-bata menempuh jalur Cilacap-Kalipucang. Pada saat laut seperti ini Segara Anakan mirip sungai di tengah endapan lumpur yang luas”.
  • Alaswungkal. Ini terlihat dalam kutipan berikut “Hampir tengah hari ketika rombongan dari Dukuh Paruk memasuki kampung Alaswungkal”

Latar Waktu

  • 1964. Ini terlihat dari kutipan “Tidak seorang pun di Dukuh Paruk yang mempunyai kalender. Bila pun ada tak seorang pun di sana bisa membaca bahwa waktu telah berjalan sampai pada tahun 1964”

Latar Sosial

Latar sosial yang melingkupi novel ini adalah masyarakat pedesaan yang sangat percaya akan klenik, mereka masih jauh dari ilmu pengetahuan. Di sini masalah rumah tangga tidak pernah dipermasalahkan, bahkan seorang istri sangat bangga ketika suami mereka bisa tidur dengan seorang ronggeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s