Resensi Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh “Dewi Lestari”


Judul                          : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Nama Pengarang      : Dewi Lestari

Penerbit                      : PT. Bentang Pustaka

Tahun                         : 2012

Cetakan                      : pertama, Maret 2011

Jumlah halaman        : 322 halaman

Sinopsis:

Dimas dan Reuben pertama kali bertemu pada musim panas di Washington D.C. Mereka berdua adalah pasangan gay, yang kebetulan sama-sama kuliah di negeri Paman Sam. Hanya saja, latar belakang kedua orang tersebut berbeda. Dimas berasal dari keluarga kaya dan tergabung dalam geng orang kaya dari Indonesia. Sedangkan Reuben, dia adalah mahasiswa kedokteran yang dapat sekolah ke luar negeri berkat beasiswa.

Mereka berdua adalah orang dengan intelektualitas tinggi, banyak sekali teori-teori tentang kehidupan yang mereka ketahui. Di ulang tahun yang kesepuluh kebersamaan mereka, mereka mempunyai suatau gagasan untuk menghasilkan karya yang fenomenal. Maka mereka kemudian memutuskan untuk membuat sebuah fiksi, yang terinspirasi dari dongeng mengenai Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.

Dalam fiksi mereka, dihadirkan tiga orang tokoh yaitu Ferre, Rana, Arwin dan juga Diva. Ferre menjadi sentral dalam cerita ini, dia adalah seorang pekerja bisnis, seorang pimpinan yang sangat sukses di usia muda. Dia selalu tampak sibuk dan tak punya waktu bersenang-senang. Bahkan untuk urusan wanita dia sama sekali tak peduli. Hingga kemudian datang seorang wanita bernama Rana.

Awal pertemuan ini terjadi, ketika melalui sekretarisnya, Ferre mendapatkan informasi bahwa ada seseorang dari pihak majalah ingin mewawancarainya. Memang selama ini banyak sekali media massa yang ingin tahu kehidupannya, sebagai seorang yang sukses. Namun, selama ini pula dia tidak bersikap terbuka. Entah mengapa, kali ini dia tidak menolak. Maka, muncullah kemudian sosok Rana yang mengawali perkenalan dengan canggung-canggung. Bagi Ferre Rana adalah wanita yang berbeda, seorang wanita yang cukup menarik dalam sudut pandangnya.

Rana sendiri adalah soerang wanita yang sudah menikah, dengan seoang pria bernama Arwin. Lelaki yang masih golongan bangsawan dan orang terpandang itu sangat mencintai Rana. Namun, nyatanya cinta menjadi seolah usang, ketika pertemuan antara Rana dan Ferre pertama kali terjadi. Pertemuan itu menumbuhkan cinta di antara keduanya. Mereka kemudian terlibat cinta secara sembunyi-sembunyi.

Di mata Arwin, Rana berubah sikap. Istrinya itu tak sehangat dulu, lebih sering keluar rumah, mementingkan pekerjaan dibandingkan pertemuan keluarga. Rana pun selalu memiliki alasan ketika Arwin mengajaknya berhubungan badan. Perempuan itu selalu mencuri-curi waktu agar bisa bertemu atau sekedar ngobrol dengan Ferre di telepon.

Ferre pun menunjukkan perubahan. Hal ini disadari betul oleh Ale, sahabatnya. Ferre yang selalu cuek dengan hal di luar pekerjaan, belakangan sering memperhatikan detail yang sebelumnya tidak pernah dia perhatikan. Ferre berubah menjadi sosok yang melankolis dan romantis. Namun, salahnya dia mencintai perempuan yang sudah punya suami. Parahnya lagi, perempuan itu pun menerima cinta Ferre. Hal ini cukup menyiksa Ferre, di satu bagian dia menginginkan pergi, namun di bagian yang lain dia juga tak memiliki kuasa untuk meminta Rana bercerai.

Perselingkuhan ini semakin kentara saja, ketika salah seorang teman Arwin memberitahu Arwin. Namun, meskipun dia tahu soal gelagat tak baik istrinya itu, dia tetap bahagia memiliki istri seperti Rana. Dia bahkan tak marah kepada Ferre. Rana semakin kalut dia sama sekali tak tahu harus bersikap apa, hingga kemudian dia memutuskan untuk berkonsultasi dengan seseorang dalam internet yang bernama Supernova.

Puncaknya ketika Rana sakit, dia merasa sangat sedih, ketika menyadari bahwa Ferre lah yang dibutuhkan oleh Rana. Dia berjanji kalau Rana sembuh, dia akan membebaskan Rana. Di sisi lain, Ferre pun meminta kepastian, hingga terucap bahwa Rana sudah memutuskan akan menceraikan Arwin. Mendengar keputusan itu, Ferre merasa bahagia, sekaligus kasihan.

Waktu berjalan , hingga tiba waktunya ketika Arwin menyatakan membebaskan Rana untuk tetap bertahan atau bercerai. Rana yang tadinya sudah dalam keputusannya, akhirnya justru luluh mendengar kata Arwin, suaminya. Dia benar-benar tercengang sekaligus merasakan bahagia yang datang secara tiba-tiba. Setelah itulah dia membatalkan aoa yang sudah dia putuskan dengan Ferre.

Ferre terkejut, keputusan Rana berlangsung begitu cepat, dia merasa sangat syok. Hingga kemudian, dia memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara menembak diri sendiri. Dia juga tidak masuk kantor beberapa hari, dia menjadi seorang yang cukup tertekan, sedih dan kalut. Namun, kemudian sebuah suara dalam dirinya mengatakan agar dia bangkit. Ferre tidak jadi bunuh diri.

Berbeda dengan Rana, Diva adalah seorang model yang profesional, dia bisa saja berkencan asalkan orang yang mengajaknya berkencan memiliki banyak uang untuk membayar dengan dolar. Dia juga orang yang sangat terbuka dan blak-blakan. Dia tidak pernah benar-benar dekat dengan orang. Lelaki yang paling dekat dengan dia saat itu adalah Gio. Namun belakangan dia merasa resah, pertemuan tatapan dengan tetangga depan rumahnya, membuat dia sedikit berubah. Dia mulai menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatannya. Dia pula yang belakang diketahui sebagai Farre orang yang mengajak dia berkomunikasi dalam hati ketika dia hendak bunuh diri.

Pertemuan pertama yang dilakukan Farre dengan Diva adalah ketika Ale, datang berkunjung ke rumah Farre, memastikan apakah Farre baik-baik saja setelah beberapa hari tak muncul di kantor. Sejak pertemuan itulah keduanya menjadi dekat. Ferre sudah menjadi Ksatria yang sesunggunya. Hingga kemudian Diva menyatakan bahwa dia membentuk jaringan pendidikan bawah tanah. Saat itulah Ferre menyebut Diva dengan sebutan supernova.

Hal ini mengejutkan Dimas dan Reuben ternyata cyber avatar yang mereka kira hanya ada dalam fiksi ternyata nyata, pengelola Supernova itu tak lain dan tak bukan adalah Diva. Diva pun ternyata tahu keberadaan Dimas dan Reuben, bahkan kemudian dia merekrut mereka untuk membantu mengembangkan jaringan.

Selepas itu ternyata Diva memiliki rencana untuk pergi menjelajah dunia. Dia akan meninggalkan Ferre. Sementara Dimas yang masih terkejut dengan kejadian ini terus melakukan diskusi dengan Reuben. Akhirnya dicapailah satu kesimpulan,bahwa terhubungnya kenyataan dengan fiksi yang mereka bangun dinamakan sinkronisitas.

Fakta Cerita

Alur

Campuran. Hal ini terbukti ketika sebagai awalan dihadirkan kejadian sepuluh tahun silam, kemudian kembali lagi ke kejadian masa sekarang. Lantas kejadian mengingat masa lalu pun dilakukan oleh Rana, yang mengingat masa-masa pertemuan awal dengan Arwin.

Tokoh dan Penokohan

Dimas

  • Romantis. Hal ini terlihat dari kesukaannya pada puisi
  • Jujur. Ini dapat kita buktikan ketika dia mengaku sebagai seorang gay kepada Reuben
  • Skeptis. Hal ini diungkapkan oleh tokoh Rauben, dalam petikan berikut “Omonganmu sudah sama betul dengan para reduksionis skeptis itu” ia tertawa-tawa sendiri “Baiklah, Tuan Skeptis, ada satu eksperimen yang dikenal…..”
  • Keras hati. Hal ini terlihat dalam petikan “Reuben terkesiap. Tak pernah ia melihat Dimas begitu keras hati”

Reuben

  • Cerdas. Hal ini terlihat dari pandangan-pandangannya mengenai segala sesuatu.
  • Semangat tinggi. Hal ini tercermin dalam petikan “Si Indo Yahudi yang bersemangat tinggi yang selalu sibuk menggabung-gabungkan ilmu psikologi dengan teori-teori kosmologi yang hanya dia mengerti sendiri”
  • Sinis. Hal ini terlihat ketika dia mengomentari sosok Ale, ekspatriat yang kemudian jadi DM di perusahaan asing.

Ferre

  • Suka bebohong. Hal ini terbukti pada petikan “Ia bohong pada Ale. Ia tak menyentuh pekerjaannya sama sekali”
  • Romantis. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lirik lirik puisi romantis yang dia buat untuk Rana.
  • Tegar dan gigih. Hal ini ditunjukkan dengan latar belakang keluarganya yang cukup rumit. Namun kemudian dia bisa melewaati semua itu dengan cuup sukses.
  • Kritis. Hal ini terbukti ketika dia menemukan sebuah dongeng yang sedih, hingga dia memikirkan berlarut-larut, dan meminta kakek neneknya untuk menjelaskan semua itu, hingga neneknya itu menceritakan berpuuh-puluh dongeng yang lain
  • Rapuh. Hal ini terlihat setiap kali dia melihat orang yang berkasih-kasihan hatinya selalu tertohok.
  • Gegabah. Hal ini terlihat ketika Ferre mencoba untuk bunuh diri dengan menarik pelatuk pistol

Rana

  • Jujur. Hal ini tercermin dalam kutipan “Jujur saja, akibat pemberitahuan Anda yang mendadak, saya nggak sempat mempersiapkan apa-apa”, namun sekaligus dia juga suka berbohong hal ini terjadi ketika dia diajak untuk melakukan hubungan seksual oleh Arwin
  • Humoris. Hal ini dibuktikan dengan reaksinya ketika menjawab, mengapa logo majalah adalah kupu-kupu”
  • Aktif dan ceria. Hal ini terlihat dari petikan “Gadis belasan tahun yang aktif dan ceria. Jarang membuat masalah”

Arwin

  • Santun. Hal ini terbukti dalam petikan “Ia bertemu Arwin. Pria santun dari keluarga ningrat berusia tujuh tahun lebih tua”.
  • Perhatian. Hal ini dibuktikan ketika Rana diam. Dia menanyainya apakah Rana sehat atau tidak.
  • Baik sangka. Hal ini terlihat dari percakapan berikut “Tapi, Rana pasti hanya berteman baik dnegna orang itu. Aku yakin. Kamu uga kenal Rana. Mana, mungkin sih?”
  • Pasrah. Hal ini dibuktikan ketika dia melihat Rana dan Farre begitu mesra. Dia tidak mampu marah kecuali pada dirinya sendiri.
  • Cinta yang dalam. Hal ini dilukiskan oleh Reuben, sebagaimana petikan berikut “Dia teramat mencintai istrinya. Cinta yang sampai di titik tertentu akan mengaburkan ego. Kebahagian istrinya berarti kebahagiaannya juga”
  • Rela berkorban. Ini dibuktikan ketika kemudian dia mengambil keputusan dia rela melepaskan Rana untuk Arwin, asal istrinya itu merasakan kebahagiaan.

Diva

Dingin. Hal ini dibuktikan dengan petikan “gadis itu dijuluki “Si Pahit”. Tidak terlalau ramah, tidak juga selalu judes, tapi ia dingin. Dingin yang mengerikan”

Terbuka. Ini terlihat dalam petikan “Belum lagi lidahnya yang sadis, tanpa tadeng aling-aling

Profesional. Hal ini terlihat dalam petikan “Tapi, ia memang snagat profesional. Tak pernah mengeluh dan selalu tepat waktu”

Pintar. Hal ini terlihat dalam petikan “Kalau saya pikir-pikir kamu lebih pintar dari CEO saya”

Latar

Latar Tempat

  • Washington D. C. Hal ini dibuktikan dalam petikan “Sepuluh tahun yang lalu, mereka bertemu di Georgetown, tepat di bawah plang Wisconsin Avenue, bermandi teriknya atahari musim panas Washington, D.C”.
  • Jakarta. Hal ini terlihat dalam petikan “Semilir angin ibu kota yang hangat menyusup masuk lewat celah jendela ruang tengah Rueben. Sebuah rumah simple di daerah selatan Jakarta”.

Latar Waktu

  • Musim panas. Hal ini terlihat dalam petikan berikut “Namun, hari ini memang berbeda. Semangat musim panas sanggup membuat seseorang berbuat di luar kebiasaan”
  • 1991. Hal ini terdapat pada bagian sebelum judul episode
  • 2001. Hal ini terdapat pada bagian sebelum judul episode.

Latar Sosial

Kehidupan masyarakat modern, berpendidikan, yang menuntut adanya kebebasan dalam berpikir dan juga melihat dunia serta khidupan. Novel ini juga dilatari para pandangan tokoh-tokohnya yang menuntut adanya kelogisan dalam setiap fragmennya.

2 responses to “Resensi Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh “Dewi Lestari”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s