Resensi Jala “Titis Basino”


Judul                          : Jala

Nama Pengarang      : Titis Basino P. I.

Penerbit                      : Yayasan Bentang Budaya

Tahun                         : 2002

Cetakan                      : pertama, Juli 2007

Jumlah halaman        : 247 halaman

Sinopsis:

Mariati merupakan sosok perempuan yang bisa menerima suaminya, Pamuji dengan apa adanya. Kesederhanaan ini tercermin dari sikapnya yang tidak pernah mengeluh, ketika harus tinggal di lingkungan kumuh dan padat penduduk di daerah Jakarta. Sebuah lingkungan miskin, di bantaran kali, yang bercampur dengan tempat tinggal para pelacur.

Pamuji, adalah sosok duda tanpa anak. Dia dulu menikah dengan seorang keturunan Cina. Seorang perempuan yang sangat cantik, namun siap hidup dalam  kesengsaraan bersama Pamuji. Mereka berdua tinggal di bedeng, sehari-hari Pamuji bekerja sebagai penarik becak. Sedangkan istrinya sendiri, tinggal di kios rokok, sehingga bedeng jarang dihuni. Itulah sebabnya, ketika ada seorang pemuda yang ingin menyewanya, Pamuji tak berkeberatan. Namun suatu ketika, dia mengetahui bahwa antara istrinya dan pemuda itu main serong, diceraikanlah wanita itu.

Awal perkenalan Pamuji dengan Mariati sebenarnya sudah terjadi sejak mereka sama-sama di kampung, di daerahnya Brebes. Pamuji sebenarnya berasal dari keluarga terpandnag, namun dia lebih memilih menjadi tukang becak. Sedang Mariati sendiri, dia bekerja di tempat Pak Haji, seorang yang memiliki perkebunan bawang merah.

Kemudian Pamuji merantau ke Jakarta. Beberapa tahun setelah itu pula, Mariati merantau ke ibu kota. Dia bertemu dengan seorang yang kaya dan menjadi pengasuh, namun insiden dia hendak diperkosa oleh anak majikannya, membuat dia akhirnya dipecat dan menggelandang. Saat menggelandang itulah dia bertemu dengan Pamuji. Mereka kemudian tinggal dalam satu bedeng. Pamuji sendiri masih menjadi tukang becak.

Tak ingin terus tinggal bersama tanapa ada sebuah ikatan, maka mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah. Kehidupan mereka diwarnai dengan kesederhanaan. Mariati merasa bahagia, meskipun kemudian dia harus pintar-pintar mengatur keuangan. Hubungan dengan para tetangga pun berjalan dengan baik. Antara Pamuji dan Mariati tak pernah ada perselisihan, mereka sangat harmonis. Di sela-sela kesibukannya menjadi tukang becak, Pam sering menjala ikan sebagai lauk sehari-hari.

Karena desakan ekonomi juga, maka Mariati pun kemudian bekerja di sebuah dokter praktek. Dia bekerja sebagai resepsionis. Di sana juga dia mulai belajar banyak pengetahuan, mulai dari bahasa Inggris maupun ketrampilan yang lain, seperti mengetik. Hingga suatu ketika, datang seorang lelaki setengah baya yang kemudian menawari dia melanjutkan kuliah dengan bantuan dari yayasan tempat Mariati bekerja. Mariati menimbang-nimbang, menurutnya yang lebih membutuhkan sekolah lebih lanjut adalah suaminya, si Pam. Maka niat itu pun diutarakannya.

Di sisi lain Pam, ketika sedang bekerja juga bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu memberi masukan, apabila dia ingin bekerja yang enak namun mendapat uang banyak, maka dia diminta untuk menulis bagi surat kabar. Maka, mulai saat itu Pamuji membeli sebuah mesin tik dan mulai aktif menulis. Dia juga kemudian memenuhi tawaran istrinya untuk kuliah lagi.

Betapa bangganya para warga bedeng, mengetahui ada saah satu dari mereka yang kemudian bisa kuliah. Mereka lantas menjadikan Pamuji sebagai orang yang cukup dihormati di kawasan bantaran tersebut. Meskipun menjadi anak kuliahan, dia tidak lantas meninggalkan pekerjaan. Dia masih tetap menjadi tukang becak, selalu menjala, dan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Hanya bedanya, ketika kuliah, Pamuji menjadi manusia yang memiliki wawasan cukup luas. Banyak teman-temannya yang sering main ke bedeng.

Seiring dengan lulusnya Pamuji dari bangku perkuliahan dan semakin banyaknya karya yang dimuat di media cetak, kehidupan ekonomi mereka pun terangkat. Mereka kemudian pindah ke tempat tinggal yang lebih baik di seberang sungai. Kepergian mereka diiringi oleh para tetangga. Kehidupan mereka pun bertambah bahagia. Namun, sekarang Pamuji menjadi orang sibuk sering menghadiri pertemua-pertemuan. Sedikit banyak ini pun mempengaruhi sikap Mariati, baginya Pamuji berubah. Tidak lagi menjadi orang yang suka bercanda, serta berpikiran sangat rumit. Kadang Mariati sendiri merasa aneh dengan kesederhanaan suaminya.

Kehidupan rumah tangga yang baik-baik saja itu terusik, ketika muncul rumor dari para tetangga soal keadaan Mariati yang belum juga punya anak. Rumor ini sedikit banyak menggelisahkan hati Mariati, takut kalau suaminya akan berpaling ke pelukan wanita lain. Sikap was-was itu semakin memuncak, ketika ada kabar beredar bahwa Pamuji akan mengambil anak Juwita, yang bekerja menjadi seorang pelacur. Mariati sendiri tahu kalau Juwita saat ini tengah mengandung tua.

Untuk meminta kejelasan, maka Mariati pun mendesak suaminya menceritakan hubungan lelaki itu dengan Juwita. Pamuji menanggapinya dengan santai, dia mengatakan bahwa selama ini Juwita selalu menggugurkan kandungnnya setiap kali hamil. Dia tidak ingin ada yang menjadi korban lagi, maka dia memutuskan meminta Juwita untuk tetap mempertahankan kandungannya. Mendengar niat baik suaminya ini, Mariati yang tadinya was-was justru sekarang mendukung. Dia pun mulai memperhatikan kandungan yang ada di dalam perut Juwita. Dia selalu memberi makanan yang bergizi.

Hingga hari itu tiba, Juwita melahirkan di sungai, nyaris saja bayinya hanyut, namun seorang Bapak menolong dan membawanya ke rumah sakit. Semua biaya perawatan ditanggung oleh keluarga Mariati. Begitu anak itu lahir, akta pengangkatan anak pun dibuat. Mariati sangat berterima kasih kepada Juwita, bahkan Juwita sendiri sudah menyerahkan sepenuhnya anaknya itu kepada keluarga Pamuji. Dia rela jika kemudian anaknya tak mengenal dia, bahkan dia memberikan usulan agar Mariati dan keluarga pindah, supaya anak itu nanti ketika sudah besar tidak perlu tahu asal usul ibunya yang kelam.

Fakta Cerita

Alur

Merupakan alur campuran, karena dalam cerita ini seringkali digunakan penggambaran masa lalu, khususnya ketika mengenang kebersamaan Pamuji dengan mantan istrinya, atau ketika mengenang awal perkenalan Mariati dengan Pamuji.

Tokoh dan Penokohan

Pamuji

  • Baik hati. Hal ini tergambar lewat perkataan Mariati “Kau baik sekali Pamuji, Pamuji”
  • Tegar. Hal ini dapat dilihat setidaknya melalui opini Mariati, sebagaimana dalam petikan berikut “Kalau mendengar semua cerita Pamuji, aku heran sekali, bagaimana dia bisa menjalani kehidupan yang serba sulit dan pelit akan kesenangan dan jauh dari kecukupan”
  • Bijak. Hal ini terlihat tiap kali dia menasehati Mariati untuk tidak ikut menggunjing, memiliki kepedulian, dll.
  • Sederhana. Hal ini ditunjukkan meskipun dia sudah memiliki banyak uang namun dia tidak lantas menjadi foya-foya.
  • Pantang menyerah. Hal ini terlihat, meskipun dia hanya sebagai tukang becak, namun dia tetap mampu menamatkan kuliahnya dan mengatakan bahwa dia akan merawat anak itu meskipun anak itu bukan anaknya.
  • Peduli. Hal ini terlihat ketika dia memutuskan untuk melarang Juwita menggugurkan kandungannya.

Mariati

  • Peduli, setidaknya peduli akan kaumnya. Hal ini tercermin dalam perkataannya “Aku pernah sekali melihatnya, tapi tak ingin melihat lagi karena aku melihat kaumku dperlakukan semau lelaki yang membawanya ke tempat gelap”
  • Menjaga norma. Ini terlihat dari petikan berikut “Karena itu, tiap kali aku berbiara dengan laki-laki, apkah dia menaruh hati padaku atau tidak, aku akan mengambil jarak. Agar semua yang tak pantas dilihat dan dikerjakan di pergaulan laki-laki dan perempuan tak terjadi.
  • Penurut. Mariati selalu menuruti dan percaya apa yang dikatakan suaminya.

Juwita

  • Tulus. Hal ini dibuktikan ketika dia bersungguh-sungguh tak menggugurkan anaknya dan menyerahkan kepada Mariati. Dia sebenarnya juga sangat sayang pada kandungannya, namun dia tak cukup mampu untuk merawatnya.
  • Teguh. Ini dibuktikan ketika dia tak ingin melacur di Bulan Ramadhan, mesipun dibayar sangat tinggi.
  • Berperikemanusiaan. Hal ini diungkapkan oleh Mariati sebagaimana petikan berikut “Ternyata Juwita yang seganas harimau, masih ada perikemanusiaannya orang ini, pkirku.
  • Ceroboh. Hal ini terlihat dari petikan “Perawat mengomeli Juwita yang dianggapnya ceroboh, tak hati-hati menjaga kandungan”.
  • Komitmen. Hal ini terlihat dari cara Juwita meyakinkan Mariati bahwa dia tidak akan mengusik anak yang sudah diserahkan kepada Mariati.

Latar

Latar Tempat

  • Jakarta. Hal ini dibuktikan pada petikan “Ketika Jakarta masih memberi tempat pada pengendara becak, suamiku masih mengayuh becak di kota metropolitan itu”.
  • Bekasi. Hal ini dibuktikan dengan petikan berikut “Aku tidak merasa terikat kerja di situ, pada hari Sabtu saja mula-mula. Tapi kemudian aku ingin tetap tinggal di Bekasi membantu tukang nasi itu”
  • Kawasan miskin bantaran sungai. Hal ini terlihat dalam petikan “Tak sulit untuk seorang tukang pekerja kuli bangunan mendirikan rumah  liliput, karena itu hampir para pendatang yang tak mempunyai tempat tinggal membuat saja bedeng hingga penuh kawasan yang semula tak berpenghuni di dekat sungai yang disebut pasetren.

Latar Waktu

  • Saat reformasi, antara tahun 1998-1999, hal ini dibuktikan dengan petikan “Teater itu kini laku keras, karena semua sesuai dengan situasi politik zaman ini…….. tetapi ketika yang jatuh Presiden Soeharto, aku melihat para seniman teman Pam sangat aktif mengejar semua peristiwa untuk obyek lelucon atau ejekan dan sekedar jalur cerita yang semua mengkritik sesuai kelakuan orang di saat itu”

Latar Sosial

Latar sosial yang menyelimuti novel ini adalah masyarakat urban yang miskin, dengan perkampungan kumuh sepanjang bantaran sungai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s