Menyesakkan Ketika Menlepon Ibu


Menelepon ibu melepas aku jauh dari kampung menjadi hal yang menyesakkan. bukan soal rindu yang kemudian terus bergelanyut di alam hati, bukan itu. Sebab rinduku sudah terlampau jinak untuk kuperingatkan.

Mengobrol dengan sedemikian hangat, menanyakan kaba adik dan keluarga, menceritakn kehidupan perkuliahanku, kemudian selalu sampai kepada ceritanya tentang seseorang, tentang kesuksesan mereka. Tak ada kata yang menyatakan bahwa aku harus sukses, aku harus seperti dia. Namun bahasa sealalu pragmatis. Aku yang harus menerka, aku yang harus memaknainya sendiri, aku harus bisa menerjemahkan.

Memang tak ada yang mengusik nuraniku, dengan megatakan aku harus seperti mereka. Namun cara ibu yang berapi-api dalam menceritakan si ini yang sudah bisa membelikn orang tuanya ini, si itu yang sudah mempunyai pekerjaan mapan, s anu yang sudah memiliki kebebasan, si inu yang sekarang sudah memiliki ini dan ini, si apa lagi sudah begini dan begitu. semua membuat nuraniku trsentak, ini semacam sindiran pdas yang diucapkan dengan riang. Ibu, aku nakmu memang blum bisa memberika keluargakita sesuatu yang berharga, aku blum bisa berja untuk bahkan memenuhi kebutuhanu sendiri, aku mandul prestasi, aku tak mampu menjamin ketika keluarga kita kekurangan uang, aku belum mampu untuk sealu bertadang kerumah kita yang sederhana setiap akhir pekan. Aku memang tak bia seperti dia, seperti merka, orang-orang yang selalu kau ceritakan.
Memang siapa orang tua yang tak ingn anaknya berhasil, orang tua mn yang tak ingin melihat anaknya hidup mpa. Namun cobalah ibu, sekali saja ketika aku menghubungimu, tak ada orang lain selain kita. kau tak tahu betapa seleraku yang tengah bik untuk mnceritakan segala kemajuanku dan berkeluh kesah, mendadak teobrak-abrik, lantran ceritamu tentang orang lain. Aku memilih menutp telepon dengan berbagai alih, dengan berbagai alasan. Baterai ponsel lowbat, aku harus memimpin rapat, aku harus mengerjakan tugas padahal selepas itu mataku akan terpejam dan merenung, aku akn terbaring dan menatap langi-langt kamar.
Ibu aku tk pernah iri, aku tak pernah denki, aku tak pernah ingin sama dengan mereka, meskipun jauh di dalam lubukmu, kau ingin aku seperti mereka, kau menginginkan aku meraih kesuksean yang sama bahkan lebih. Namun ibu, kadang tanpa kau sadari torehan luka telah kau gariskan, suaramu yang riang, ceritamu yang bersemangat, lmbat laun telah mengubah pandanganku tentang sikapmu yang lebih menikmati kesuksesan mereka dibandingka kesuksesanku sendiri.
Ibu aku tidak hilng kebanggaan meski kesukseanku sepintas kau anak tirikan, aku hny ingin menyatakan bahwakeberhasilan, ksuksesan dan pencapaian tiap seseorang memiliki standarnya sendiri-sediri. dia memiliki tolak ukur yang berbeda bagi tiap personal. apakah orang yng terlihat menderit berart dia tidak sukses? apakah orang yang memiliki pekejaan tidak tetap dan terkesan ecek-ecek lebih tidak ukses dibandinkanmereka yang duduk di kantor menikmati ruangan ber AC sambil membaca koran? Ibu itu kesuksesan umum yang absurd dan abstrak, nilai kesuksesan yang sangat tidak adil.

Ibu mungkin aku belumlah bisa mmberikan sesuatu yang berharga untk kelurga kita, namun meski demikian setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak merepotkan keluarga sederhana kita terkait dengan proses belajarku, hidupku, dan juga segala bentuk permasalahanku. Aku memang tdak bisa menyediakan apa yang ibu anggap sebagai kesuksesan. karena bagiku, kesuksesan bukan sebatas pencitraan tentang apa yang sudah kita dapatkan dan lakukan, kesukesan bukan sebatas barang pajangan di etalase yang bisa dpertontonkan kepada semua orang melalui panca indra mereka. Kesuksesan itu terdefinisi dalam hatiku ibu.

Ibu, maaf jika sekali ini aku mempunyai pendaa yang brbeda tentang makna keberhasilan, kesuksesan, dan pencapaian. Ini bukan soal arogansi dan idealisme, Ibu, namun aku percaya keluarga kita adalah keluarga sederhana yang demokratis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s