Penerapan Teknik K-W-L pada Novel The Lost Prince Karya Sinta Yudisia W.


Teknik K-W-L terdiri dari tiga langkah, yaitu
Langkah I, K-What we know
Langkah ini dimaksudkan untuk menggali latar belakang pengetahuan kita untuk memahami isi bacaan lewat berbagi pendapat tentang konsep khusus yang ada dalam bacaan, langkah ini dilakukan sebelum membaca novel The Lost Prince. Konsep-konsep yang dapat diutarakan seperti tentang:
1. Kekaisaran
• Sebuah bentuk pemerintahan dengan kaisar sebagai pimpinannya, dia dibantu oleh penasehat, panglima, dll
• Kekaisaran hampir sama dengan kerajaan, dimana soerang kaisar biasanya tinggal di sebuah istana
• Seorang kaisar nyaris sama dengan raja, seorang kaisar biasanya mempunyai anak dari permaisauri dan selir-selirnya
2. Kepasrahan
• Suatu perbuatan berserah yang dilakukan karena merasa sudah tidak memiliki kekuatan apapun selain bergantung pada Tuhan
• Hanya mengingat Tuhan dengan menafikkan hal-hal lain,
3. Imperialisme
• Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.
• Dalam imperialisme sering terdapat pemaksaan dan kekerasan
• Negara imperalis berhak memaksa dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan negara kekuasaannya
• Meskipun salah satu upaya yang dilakukan oleh negara Imperialis adalah pemeliharaan dan perkembangan namun dalam prakteknya negara imperalis hanya mengeruk kekayaan dari negara kekuasaan.
Langkah II, W-What we want to find out
Langkah ini, memacu kita untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang berfungsi untuk mengembangkan minat dan keingintahuan kita yang menjadi alasan dalam membaca.
1. Imperialisme lebih merujuk pada perluasan wilayah, latas bagaimana seorang pemimpin negara imperialis mampu untuk mempertahankan wilayah mereka?
2. Bagaimana bentuk-bentuk pemaksaan dalam negara imperialis mempengaruhi sikap-sikap di dalam negara kekuasaan?
3. Bagaimana kepasrahan mampu memberikan efek positif terhadap seseorang?
4. Bagaimana struktur yang ada dalam negara dengan bentuk pemerintahan kekaisaran?
5. Seperti apa intrik berkembang dalam kekaisaran, karena kita melihat adanya selir dan permaisuri?
6. Sejauh mana kekuasaan kaisar dalam menentukan kebijakan pemerintahan?

Langkah III, L-What we learned
Langkah ini dilakukan setelah membaca novel The Lost Prince, berfungsi untuk mengetahui apa saja yang kita dapatkan dari sebuah bacaan, kemudian mengambil point-point penting dan melihat sejauh mana pertanyaan kita mampu terjawab. Lantas dari langkah-langkah ini kita juga mampu mengetahui pertanyaan apa yang belum terjawab.
Novel The Lost Prince merupakan novel sejarah yang mengisahkan tentang Imperium Mongolia. Diawali dengan intrik istana Ulaan Batdar, yang berkembang menjad pemberontakan bawah tanah.
Imperium Mongolia didirikan oleh Jengiz Khan, yang memiliki ambisi untuk menyatukan dunia di bawah kekuasaan Mongolia. Namun, para penerus justru menghancurkannya karena perang saudara dan perebutan kekuasaan, batas wilayah.
Kejayaan Mongolia kembali hadir setelah Mongolia dipmpin oleh Kaisar Tuqluq Timur Khan. Berbeda dengan Jengiz Khan yang lebih mementingkan kekerasan dan peperangan dalam melebarkan kekuasaan, Kaisar Tuqluq Timur Khan lebih mementingkan perdamaian dan pendekatan persuasif. Dia juga menggunakan orang muslim yang cakap untuk mengepalai satu wilayah. Hal inilah yang menimbulkan ketidaksukaan Albuqa Khan, sang panglima perang yang ambisius. Untuk itulah Albuqa Khan menyusun strategi dengan mengadakan pemberontokan, yang menewaskan seluruh anggota istana dan orang-orang kepercayaan Kaisar. Hanya saja anak-anak Kaisar tidak mengetahui hal ini dan tetap hidup.
Dari ketiga anak, yaitu Pangeran Takudar, Pangeran Arghun, dan Pangeran Buzun, Pangeran Takudar lah yang memiliki sifat mirip dengan ayahnya. Namun dia memilih untuk menghilang, sehingga yang naik tahta adalah Pangeran Arghun. Pangeran Arghun dala pemerintahannya pun dbayang-bayangi oleh Albuqa Khan yang keras, tamak, dan rakus. Bahkan sang adik, Pangeran Buzun pun tidak bisa menyadarkan kakaknya, bahwa perluasan wilayah dengan mengobarkan perang tanpa memperhatikan rakyat adalah hal yang salah.
Sedangkan Pangeran Takudar pun dalam pengembaraannya berganti nama menjadi Baruji. Dia tinggal di sebuah pondok pesantren bernama Baabussalam yang dipimpin oleh Khoja Amir, ayah dari Salim. Di sana dia ditemani oleh pelayannya yang setia bernama Alamuchi, namun mereka berdua selalu mendapat gangguan Karadiza anak seorang pemimpin wilayah.
Setelah sejenak lama, maka ada perubahan dimana akhirnya Khoja Amir membuka rahasia bahwa antara dia dan Kaisar Tuqluq Timur Khan pernah mengadakan perjanjian, bahwa suatu saat mereka akan bersatu membangun kembali kejayaan Islam, namun apabila umur mereka tidak sampai, maka perjanjian itu berlaku untuk anak mereka berdua yang tak lain adalah Salim dan Baruji.
Di situlah mereka kemudian mengangkat Baruji yag sebenarnya pewaris sah kerajaan untuk dijadikan pemimpin. Mereka mulai menyuun strategi, sampai suatu ketika Alamuchi merasa bahwa dirinya tidak dibutuhkan lagi ole Baruji maka dia berniat untuk kabur. Hal ini diketahui oleh Karadiza, yang oleh Salim ditugaskan untuk menjaga Baruji dan Alamuchi.
Hubungan mereka yang tadinya buruk akhirnya bisa membaik setelah melewati berbagai rintangan bersama. Sejak itulah mereka menjalin hubungan yang baik dan saling membantu. Lain cerita soal Baruji, dia yang tadinya enggan untuk dijadikan pemimpin akhirnya dipaksa untuk menjadi pemimpin, melawan adiknya sendiri, meskipun dia sendiri sebenarnya tidak ingin melakukan pertumpahan darah dengan saudaranya.
Dalam novel ini, saya menemukan tokoh yang menarik yaitu pasangan tokoh Alamuchi dan Karadiza. Ketertarikan ini lebih berkaitan dengan kisah akhir mereka. Yang mana mereka mengalami masa-masa sulit bersama. Keterbukaan dan perasaan saling mengenal itulah yang kemudian mengubah persepsi mereka. Dari sini kita harus menarik kesimpulan, kalau kita ingin mengetahui kepribadian seseorang maka kita harus bisa mengenalnya dengan mendalam, sehingga tidak ada penghakiman.
Selain itu tokoh lain yang menarik adalah Khoja Amir, karena diumur yang sudah sangat tua, dia memiliki tekad yang kuat untuk menempuh perjalanan ghurun sleama lebih dari dua bulan. Kunjungan itu berkaitan dengan rencananya untuk menegakkan kejayaan Islam. Selain itu dia adaah orng yang pasrah, hal ini terlihat ketika dia diperlakukan dnegan tidak baik, maka yang dia pikirkan adalah Ya Rabb semoga akhir hidup ini tidak terkotori oleh prasangka buruk. Wahai Rabb, jika haus mati di sini aku hanya pasrah pada-Mu, aku mohon segala niat baikku diteruskan oleh siapapun ang sanggup mengembannya.
Membaca novel The Lost Prince, secara tidak langsung kita membaca permasalahan kini bangsa Indonesia.
Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam novel ini, antara lain:
1. Nilai kedisiplinan, terlihat bagaimana Salim memberlakukan orang-orang yang ada di Baabussalam. Dia selalu membangunkan murid-murid untuk shalat, dan mengatur jadwal kerja para murid.
2. Nilai kesetiaan, terlihat dari tokoh Bibi Tula Mae, dia selalu berada di dalam pondok dan membantu khoja Amir, dari sejak dia ditemukan sampai sekarang. Ketika dia mendapatkan pilihan lain, maka dia lebih memilih untuk tetap tinggal, karena merasa memiliki hutang budi degan Khoa Amir. Namun di sini juga disinggung tentang ketidasetiaan, yaitu terdapat pada peetikan novel, yang menyatakan bahwa pembantu-pembantu Pangeran Arghun, bukanlah orang yang setia. Selama ini mereka mengabdi karena menginginkan uang dan emas, mereka tidak benar-benar tulus. Ini sangat tepat dengan kondisi bangsa Indonesia yang terlalu banyak penjilat, hanya untuk kepentingan pribadi mereka. Mereka bukanlah orang-orang yang loyal.
3. Bersikap pasrah, hal ini terlihat dari sikap Khoja Amir. Ketika dia mengalami tindak kekerasan dari para prajurit istana. Dia sudah ikhlas kalau nanti harus mati dalam mengemban tugas. Wahai Rabb, jika haus mati di sini aku hanya pasrah pada-Mu, aku mohon segala niat baikku diteruskan oleh siapapun ang sanggup mengembannya.
4. Nilai kejujuran, terlihat dari sikap Khoja Amir dan Salim, yang meskipun awalnya dengan berat hati, namun mereka tetap menjalankan amanat dengan membuka sebuah perjanjian yang pernah dia lakukan dengan Kaisar Tuqluq Timur Khan. Sikap jujur ini juga diiringi dengan optimisme, bahwa suatu saat nanti Islam akan kembali berjaya.
5. Nilai kebijaksanaan, terlihat dari cara Salim yang melakukan berbeda antara Alamuchi serta Baruzi dengan murid-murid lain di Baabussalam. Pembedaan ini bukan karena mereka tak adil, namun hal ini lebih didasarkan pada aspek kepentingan. Yang mana Alamuchi dan Baruji berasal dari wilayah yang beda budaya dan butuh adaptasi.
6. Kepekaan Sosial, ini terlhat dari sikap Pangeran Buzun yang snagat memperhtikan rakyat. Dia sangat tidak setuju kalau rakyat hanya dijadikan sapi perah oleh kerajaan untuk menumpuk kekayaan. Hal ini bertolak belakang dengan sikap Pangeran Arghun, dia tidak peduli dengan nasik rakyatnya. Yang dia inginkan hanya kekayaan dan perluasan wilayah.
7. Rela Berkorban, tercermin dalam adegan antara Salim dan Baruji, yang mana Salim memiliki sekerat roti, namun karena tahu Baruji kelaparan, maka dia memberikan roti tersebut kepada Baruji selain itu hal ini juga terbingkai dalam adegan antara Alamuchi dan Karadiza..
8. Taat beribadah. Hal ini terlihat dari pribadi Salim dan Baruji. Salim dan Baruji berjamaah di atas lempengan batu. Di antara aliran anak sungai yang melaju pelan membawa pesan kehidupan dari hulu sampai ke hilir.
Novel ini mengaarkan kita untuk memiliki optimisme dalam meraih sesuatu, selain itu ita juga ditunjukkan bagaimana cinta kasih itu seharusnya berjalan. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita dapatkan dari novel ini, terutama mengenai kepasrahan dan hubungan sosial. Dari novel ini hampir pertanyaan-pertanyaan yang merangsang rasa ingin tahu terjawab, antara lain cara pemimpin negara imperialis tetap mempertahankan wilayah yaitu dengan kekerasan, kita mampu melihat bahwa pergolakan di daerah dapat diredam dengan adanya angkatan perang yang cukup kuat, kita dapat mengetahui berbagai intrik, dari intrik sosial, agama, politik, bahkan asmara. Kita juga akan tahu kalau kaisar pun sebenarnya berada di bawah pengaruh bawahannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s