Antologi Puisi Perempuan dalam Makna Oleh: Suryati A. Manan dan Martha Sinaga


Buku antologi uisi Perempuan dalam Makna karya Suryati A. Manan dan Martha Sinaga ini merupakan kumpulan puisi dua orang yang berbeda latar belakang. Buku setebal 72 halaman ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Indonesia serta Yayasan Kemuning pada tahun 2009. Suryati A. Manan menulis 5 pantun dan 18 puisi, sedangkan Martha Sinaga menulis 5 pantun dan 33 puisi.
Latar belakang penulis yang berbeda agaknya mempengaruhi produk tulisan. Sebagai seorang birokrat maka Suryati A. Manan banyak menulis soal birokrasi dan politik. Hal ini terlihat dalam puisi Masa Transisi, Semoga, Tamu-Tamu, Silahkan Pilih, dll. Dia juga menghadirkan ironi sosial lewat puisi Dulu dan Sekarang, Gali Lubang Tutup Lubang. Puisi tersebut sarat akan sindiran. Selain itu feminisme juga tak luputdiusung dalam puisi: Perempuan, Nasib Kaumku, dan Mak Encik Sudah Pergi.
Berbeda dengan tulisan Suryati yang lugas, puisi Martha Sinaga terkesan lebih ekspresif, bereksperimen dengan gaya bahsa. Contohnya pada puisi Dalih Sikap, Katanya?, Jiwa yang Takut, dan Beda Nilai. Dari segi tema dan substansi, tulisa Martha pun lebih universal. Akan tetapi keberpihakannya terhadap Suryati tercermin dalam puisi Perempuan Walikota dalam Warna dan Kartini yang Tidak “Melayu”. Untuk menetralisir hal ini dia mencoba mendekati tema universal sebagaimana dalam puisi Bahasa Kotor, Toga yang Ompong, Diam Itu Komunikasi, dan Bangku Lapak.
Dunia jurnalistik pun tampaknya ikut memberi warna. Hal ini terlihat dalam puisi Penulis Itu, Dalih Sikap, dan Bukan Best Seller tapi Best Book. Nilai feminisme pun tak luput dari jangkauannya, ini terlihat pada puisi Mencintai Nol, Ibu Bukan Bunda, dan Akar Pahit Perempuan. Martha mampu melihat permasalahan melalui acamata yang lebih luas.
Membaca Perempuan Dalam Makna membuka sisi-sisi feminitas sekaligus realitas yang terjadi di masyarakat. Hal ini menjadi menarik karena penulisa adalah birokrat yang notabene tak punya cukup waktu untuk menuangkan ide. Hanya saja kalimat denotasi lebih mendominasi, sedangkan penggunaan gaya bahasa pun cukup minim/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s