Antologi Puisi “Pariksit” oleh Gunawan Muhamad


Gunawan Muhamad memiliki karakter yang kuat dalam pemaknaan, dia memiliki ciri khas dalam puisi-puisinya. Sajak-sajak cinta, kegelisahan akan fenomena sosial, atau sekedar ingin bercerita. Diterbitkan tahun 1971 oleh Litera, terdiri dari 32 halaman dengan 26 puisi.
Dalam Pariksit, Gunawan Muhamad membukanya dengan sebuah judul menarik Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi, sebuah kebimbangan akan ketiadaannya hari esok. Namun dalam sajak panjang dia juga menyoroti kaum-kaum sosial kelas bawah, yaitu buruh dalam puisinya berjudul Internasionale. Begitu juga degan apa yang ingin dia gambarkan tentang para pekerja malam, dalam puisi Lagu Pekerja Malam.
Dia juga menuliskan satu sajak sakit yang berisi kegalauan tentang malam, diberinya judul puisi itu Malam Susut Kelabu, demikian ini liriknya Malam jang susut kelabu/adakah kau dengar itu, kekasihku/seperti kau dnegar sauh/tenggelam dalam dasar yang djauh/adakah kau dnegar suara/antara langit jang gaib dan gerimis reda/jang dekat berbisik kepada kita/dan akan berbisik pada dunia/….
Sebenarnya satu puisi terkenal dalam antologi ini adalah Asmarandana, sebuah puisi naratif yang diambil dari cerita pewayangan. Akan tetapi inti dari antologi puisi ini adalah sebuah cerita yang dituturkan lewat beberapa Bab yang diberi judul Pariksit. Gunawan Muhamad juga tak menafikkan begitu saja sisi-sisi sufinisme, maka dia menuliskan Meditasi, sebuah puisi yang menggambarkan kisah, pertama kali nabi Muhammad mendapatkan wahyu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s