Catatan untuk Sang MahaDosen


Hari ini adalah hari yang benar-benar fuck, bagaimana tidak didahului dengan bangun terlambat dan mengantri kamar mandi (biasalah anak kost), dilanjut dengan dosen yang terlambat. Bagiku dari tiga mata kuliah hari ini cukup sempurna, didahului dengan mata kuliah yang kusuka dosennya dan diakhiri dengan mata kuliah yang kusuka materinya. Namun tidak bagi mata kuliah tengah, bukan aku tidak suka dengan mata kuliahnya, namun aku sangat tidak suka dengan cara mengajar dosen (alasan klasik mahasiswa banget ya?).
Baiklah akan kututurkan dengan detail dosen satu ini, piss anggap saja namanya Mr. X. Banyak kakak angkatan menuturkan bahwa dosen satu ini resek baik dalam mengajar maupun memberikan nilai (haiah sebegitunya). Padahal aku merasakan biasa saja meskipun kupikir beliau orang yang unik dan ANEH (underline bold times new roman 70). Beliau orang yang bagus dan memiliki posisi penting di dunia permahasiswaan, (kalau kak bagus mana mungkin dia jadi dosen). Namun dosen tetap saja manusia, dan manusia seperti yang kita ketahui bersama selain sebagai makhluk sosial juga makhluk yang memiliki karakteristik dan kepribadian sangat personal.
Pertama kuliah beberapa minggu yang lain aku langsung dikejutkan oleh cara mengajar beliau yang senang sekali menggebrak meja sambil senyum-senyum tanpa alasan sama sekali. Aku melihatnya seperti seorang remaja ababil, kalau saja ada pemilihan dosen ter ababil maka aku akan menominasikan beliau sebagai The Labil Lecturer of The Year. Pertemuan berikutnya semakin membuatku geli melihat tingkah kocak beliau yang tidak mencerminkan manusia dewasa (jangan dikira kocak di sini adalah suka humor, jauh dari kesan itu. Kau tahu yang namanya sindiran kawan? Ya itulah).
Eliau adalah sosok yang tidak menghargai mahasiswanya, sudah tahu kalau mencari buku yang diwajibkan beliau itu susah setengah mampus, eh jawabnya ada-ada saja “Saya gak mau tahu…” padahal nih ya, temen ane sudah muter2 seluruh Jogja, usut punya usut tuh buku uda gak diterbitkan, gilak aja mana dia gak mau tahu gak mau ada alasan pula. Astaga nasib nasib harus menghadap yang mahadosen kayak gini. Tapi rumornya kakak-kakak angkatan memang begitu, beliau termasuk dosen yang GJ abiss.
Tak hanya itu yang bikin aku menilai kalau beliau itu GJ, tadi sewaktu sedang mengajar di tengah-tengah beliau menyinggung sal psikologi pendidikan. Beliau bilang apakah kami tida pernah diajar psikologi pendidikan, yang beliau katakan kalau mau melakukan apa-apa itu harus riil jangan cuman bisa ngomong doang. Ngakak sumpah tapi intinya kek gitu. Lha bagaimana mungkin beliau mengatakan yang sedemikian hingga, ingin sekali aku bertanya “Pak dulu jaman kuliah dapat psikologi pendidikan tidak? Ngajar kok bikin mood mahasiswanya langsung jelek sejek-jeleknya”
Sebagai penutup tulisan ini, aku besok ingin menjad dosen yang baik hati dan dekat dengan mahasswa, tidak arogan dan berego tinggi, selain daripada itu aku juga tak ingin menjad dosen yang jadi omongan mahasiswanya d belakang. Titik. Selamat malam yak

4 responses to “Catatan untuk Sang MahaDosen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s