Ibuku Masih Sama


Aku tak terlalu ingat ini tanggal berapa, yang aku ingat ini hari Minggu. Mengapa aku mengingatnya? karena hari ini aku harus balik ke Jogja, kota dengan segudang rutinitas, membosankan.
Aku bermalas-malasan sampai pukul 12, ya ampun, padahal aku belum packing segala sesatunya, seperti makanan yang akan aku bawa, barang-barang, buku-buku, dan belum lagi harus membereskan semua gadget yang bikin repot. kontan saja ibuku berkali2 mengingatkan aku untuk segera beres-beres.
setelah banyak makan ini itu, bahkan sampai kedatangan seorang keponakanku, aku masih belum beranjak, dari nonton film di kamar yang sengaja aku tutup kordennya dan aku kunci filmnya. eits bukan karena aku nonton fil porno, namun memang kalau nonton film aku lebihsenang untuk seperti itu privacy terjaga dan serasa seperti di dalam gedung bioskop. apa2an OOT.
Aku suda hampir 2 tahun menjadi penghuni Jogja, kota budaya, namun setiap kali aku ingin balik karena kuliah, ibu selalu merepotkan diri. Sekali lagi bukan merepotkan aku, tapi merepotkan diri. Aku juga tidak bermaksud merepotkan, namun tetep saa aku yang menjadi subyek kerepotan itu sendiri.
Bolak balik Jogja Purworejo bukan sekali dua kali ini saja. Mungkin sudah ratusan. Namun entah mengapa kerepotan yang sama selalu terjadi. Ibu selalu menanyakan kepadaku, apakah aku akan membawa sambal pecel atau membawa kering tempe, atau rese (ikan asin)? apakah aku butuh sesuatu atau tidak.
itulah kerepotan-kerepotan yang biasaya terjadi sebelum aku pulang, bahkan ketika aku masih di Jogja ibu sudah akan menanyai, besok kalau pulang mau dibuatkan apa. maka benar da hari sebelumnya ibu akan pergi ke pasar membeli kavcang, menggorengnya kemudian menghaluskan menggunakan lumpang yang dipinjam dari Mb Marni. Kalau aku sedang tidak capek atau sekedar ingin olahraga tangan, maka sesekali aku menggantikannya.
kesibukan belum usai sampai di sini, beliau akan membawakan aku apa saja yang ada di rumah, mulai cabai, bawang, garam, jeruk nipis, tomat, maklum saja aku sangat-sangat doyadengan sambal (buatan sendiri). Begitupun yang terjadi siang ini, selain hal tersebut aku juga sempat bilang kalau aku ingin membawa wortel, astaga benar saja, ibu memasukkan beberapa wortel ke dala kardusku, padahal beliau tahu kardusku sudah penuh sesak dengan beras, buku-buku, serta kering dan sambal kacang. Namun beliau tetap memaksa memasukkan eberapa wortel dan juga beberapa mentimunm, alhasil kardusku penuh sesak.
Aku sering menggerutu karena harus membawa barang yang lumayan berat, seperti sore ini aku sudah membawa tas besar berisi laptop, dan sekarang harus ditambah dengan membawa kards yang sarat akan barang. ah… namun itulah ibu, disela-sela menyiapkan bekalnya untukku, beliau selalu meminta maaf karena tak bisa memberikan banyak uang, aku masih ingat aku diberinya uang lima puluh ribu untuk perjalanan. Seali lagi beliau minta maaf, karena bapak belum lama kembali ke Jakarta, mungkin akan transfer kalau beliau sudah punya uang. Aku hanya tersenyum, kukatakan kepadanya kalau aku tak terlalu memikirkan uang.
Itula bu, beliau selalu melepasku pergi sebagaimana [pertama kali beliau melepasku ke Jogja seorang diri, beliau selalu direpotkan apakah aku sudah membawa charger, apakah dompetku tidak ketinggalan, simcard, hp, atau sebagainya. Beliau selalu menatapku speerti aku akan pergi jauh saja dalam watu yang lama. Dalam dekat selalu ada pertengkaran, namun selalu ada pula kerinduan di antara jarak yang memisahkan.

Okta Adetya/catatan malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s