Waktu dan Filosofi Burjo


Udara malam merasuk menggigit tulang, dingin. Aku termenung menyusuri jalanan tempat aku menata hidup. kota ini, masih seperti dulu. Penuh keramahan, kota budaya penuh cinta. Di persimpangan jalan langkahku terhenti, deru motor dan bising mewarnai tiap sudut dan ruas kota, tempat aku sekitar empat tahun ke depan meraih ijasah. Ah kota memang seperti ini. namun ada yang tak peduli dengan bising dan suara-suara, musisi jalanan itu terus saja beraksi melantunkan lagu-lagu pop, tentang kawula muda sering mendendangkannya.
Aku selalu rindu keramahan kota ini. tempat aku menikmati suap demi suap nasi panas yang mengepulkan asap beraroma, gurami bakar, tempe bakar. Ah semua terlalu menggugah selera. Kota ini menawarkanku beberapa cangkir kedamaian, meski di kala waktu kurindu akan rumah, kurindu akan tempat aku dibesarkan. Namun tidak, aku telah menjelma menjadi manusia dewasa, yang cukup kuat untuk bertahan menghadapi hidup. Hidup itu butuh siasat, aku mengetahuinya.
Malam semakin melarut, seperti butiran gula yang menghilang di dalam dekapan secangkir kopi yang masih mengepul. Senja sudah menguap sedari tadi, sorot lampu, gedung-gedung tinggi, semua menjadi sahabat. Malam ini mungkin tak begitu cerah, mendung bergelanyut, dan hujan entah meluncur turun atau tetap bersemayam di ruangan atas sana. Bayu masih juga berhembus, sedari tadi dan tak pernah berhenti. Ya bayu akan terus berhembus, dia tak dingin bagiku. Hanya sejuk.
Aku ragu, bagaimana aku akan terus melangkah, sementara setapak tak lagi kulihat bayangnya. Beberapa di antara malamku menjadi senyap. Detik semakin bergulir, mengubah waktu menjadi bagai bola, menggelinding menjadi menit, menit berputar menjadi jam. Dan astaga..!!! aku melawatkan sudah sekian jam menyusuri kota ini, aku bahkan hanya berjalan dan terus berjalan seperti orang linglung.
Sekarang aku benar-benar dingin, udara malam mendekap mencengkeram raga. Namun untunglah segelas sekoteng menemani malamku, dan bergerak meluncur ke seluruh aliran darahku. Jam yang berdenting di tangan, sudah berlari menjauhi tengah malam. Tempat ini masih ramai, penuh dengan orang-orang malam. Aku tak tahu apa yang mereka kerjakan hingga sedemikian larut ini. namun satu yang bisa kutebak, bahwa mereka di sini karena lapar, mereka di sini karena haus, atau mereka di sini karena ingin bertukar pikiran dan berbicara khas obrolan warung kopi.
Aku berharap, aku di sini bukanlah seperti mereka, yang menghabiskan waktu dengan berdiskusi tanpa tema. Aku tak ingin menjadi sejenis mereka, yang menjadi reporter infotainment jalanan. Aku ingin tertawa, namun deraiku tak mungkin kusemburkan di sini, di tengah orang-orang dewasa yang berbicara tak penting.
Ups….keningku mengernyit, dakwaanku menjadi pagar makan tanaman. Bukankah aku di sini juga hanya menghabiskan waktu, lantaran suntuk dengan bertumpuk tugas kuliah? apalagi? Kepergianku tak terkonsep, aku tak memiliki rancangan untuk apa dan bagaimana hingga kemudian aku memilih menyesap udara malam kota ini, sambil meluangkan sedikit waktu mendengarkan keluhan-keluhan rakyat kecil. Soal lapangan pekerjaan yang tak banyak, kebutuhan hidup yang makin menghimpit, wakil-wakil rakyat yang bejat, dan ah…korupsi. Itu lagi, itu lagi, desahku.
.-oo-.
Lelaki itu masih juga ramah melayani kami. Berkali-kali disuruhnya kami menyesap minuman yang terhidang hangat. Menawarkan gorengan dan berbagai macam makanan. Ah basa-basi khas penjual. Pikiranku melayang. Masih orang ini juga yang kutemui. Oh tidak, bukan dia..! melainkan istrinya tadi siang. Yang kutemui sepanjang hari selama 24 jam perhari, dan tujuh hari dalam seminggu. Selalu terbuka, dan dengan niat luhur, membantu siapa saja mendapatkan makanan, camilan, atau minuman di tiap kesempatan.
Tidak…!! Kurasa bukan itu alasannya. Motivasi seorang penjual adalah mampu menjual barang sebanyak-banyaknya dengan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dan soal waktu panjang yang dibutuhkan untuk berjuang, bukankah setiap perjuangan memang begitu? Membutuhkan waktu panjang dan tak mudah. Tentu dia mengharap kesuksesan setelah itu, dengan tidak membuang-buang waktu. Orang sukses akan menganggap setiap waktu itu adalah peluang, kesempatan, dan sangat berarti. Maka dia pun berusaha untuk memanfaatkannya.
Wow…aku terlonjak, seorang menanyakan kepadaku apa yang terjadi, aku hanya menggeleng. Bukankah konsep seperti itu, berlaku di seluruh perjalanan hidup manusia? Sebuah konsep untuk tak mengabaikan waktu. Sedangkan aku? Kaca yang jauh di depan sana, memantulkan bayangan seorang pemuda dengan rambut acak-acakan dan kening mengernyit. Itu aku…? Tanyaku dalam hati masih bingung.
Untuk apa di sini? Ya menghabiskan waktu, dan membiarkan waktu berjalan dengan sia-sia saja. Seandainya konsep lelaki itu kupakai dalam hidup, berapa banyak hal bisa kulakukan? Mungkin aku bisa mendapatkan IPK 4, sukses dalam setiap organisasi sekaligus professional di dalamnya, serta aku mampu bekerja dan menghasilkan uang tanpa harus menengadahkan tangan meminta uang kepada orang tua seperti pengemis.
Dan aku? Bukankah aku agent of change? Astaga mengapa hatiku menjadi tersulut seperti sekam terbakar api? Kalau pemuda sepertiku saja tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik, mau kubawa kemana negeri ini? Apakah akan kubawa ke angkringan untuk sekedar ngobrol-ngobrol percakapan warung kopi? Toh bukankah obrolan petinggi-petinggi negeri ini sekarang juga obrolan warung kopi? Haha….hatiku tergelitik juga mengingat hal itu.
Udara berdesir, suasana dingin, paling menyenangkan bila kita bisa lelap di balik selimut tebal yang hangat. Namun tidak, bukankah mulai sekarang aku akan menerapkan konsep 24 jam? Kususuri gang-gang ini, sepi, hanya sesekali sepeda motor masih lewat. Inilah dampak dari terciptanya masyarakat urban, kepadatan penduduk yang semakin menjadi, membuatku tak bisa bernapas di himpit kost-kost an. Menjengkelkan .Jam sudah menunjukan pukul 3. Itulah yang dilakukan mahasiswa frustasi yang sudah tak memiliki akal untuk menyelesaikan tugas kampus, pulang pagi hari. Tidak akan kulakukan lagi.
Namun alangkah malangnya nasib ini. Jam yang tergeletak di dinding, yang tiap waktu kudengar detaknya, yang tiap kali kulihat pergerakannya kini diam tak bergerak, tak bernafas, dan menunjukan tanda-tanda kehidupan. Jantung itu tidak lagi berdenyut. Benarkah waktu berhenti? Dan aku kehilangan 24 jam ku kah? Satu pergerakan besar, memang akan selalu dihadang oleh hambatan yang besar pula.
Hufh…aku mulai terduduk, membuka buku dan mempelajarinya sambil terkantuk-kantuk. Ah konsep 24 jam ku…. Sementara detik sudah akan sedemikian cepatnya berlari di depan, disambut dengan kumandang adzan Subhuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s