Malam Rapuh


Di keheningan malam yang rapuh

Seperti malam-malam ketika bulan tak menyepuh

Tak tampakkan pualam

Atau durja beberapa awan yang tersingkap

 

Ada kelabu di pelupuk mataku

Yang meluncur kemudian

Tapi aku terdiam

Enggan menyapunya,

 

Mataku berotasi, di antara batas-batas cakrawala malam

Menelanjangi bulan-bulan yang mengerucut

Di balik angkasa sana

Di balik senggama penuh lenguh

 

Bibirku mengatup,

Diam,

Ketika ribuan pasang mata malam ini

Terpaku memaksa menyerbu masuk

 

Lihat saja pohon yang mulai bergoyang itu

Tak ada angin

Namun dia bergerak, cepat dan cepat

Hingga ketika batas pagi turun

Dahan-dahan itu terkoyak

 

Tak terbersit kataku

Di alang-alang yang mulai menyuara

Bunyiku tertelan angin

Terkulum malam yang rapuh

 

Malam ini,

Ketika hari telah patah,

ketika malam telah retak

Malam rapuh itu berkeping

 

Persinggahan Rembulan,  Friday, 24 April 2009      23:25 pm

Posted by: Preteers



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s