Selamat Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional), semoga curhatan hari ini cukup mendidik. Namun jujur, sikapku hari ini sangat tidak mendidik. Hehe..

Semua terawali dengan bangun yang kesiangan, kebimbangan di hati yang penuh dilemma antara upacara atau kuliah. Maka kuputuskan untuk tenang-tenang saja sampai hamper jam delapan. Aku tak berangkat upacara, aku lebih memilih kuliah, meskipun kuliah pun ada kecamuk dalam dada. Benarkah pagi ini kuliah dilaksanakan, tidak adakah sedikit semangat untuk memperingati seremonial setahun sekali? Entahlah, setiap pagi aku selalu merasa bahwa absurd menyerang. Berbahaya…

Kampus masih lengang, sepi, seperti rumahku dulu yang penuh dengan sarang laba-laba dan angker. Namun hamper semua temanku sudah dlam posisi menyimak kelas dengan wajah-wajah polos dan lugu. Merekalah calon robot-robot baru negeri ini. Dosen belum juga dating, pragmatic adalah salah satu mata kuliah favorit saja (bukan karena saya pernah bangun kesiangan dan harus mengikuti  UTS susulan), melainkan dengan pragmatis saya bisa menyindir orang tanpa perasaan bersalah dan tanpa dosa. Bukan… tentu saja karena pragmatic adaah hal terdekat dalam hidupku, sekaligus mata kuliah paling realistis yang pernah aku dapatkan. Tak teralu banyak teori, namun aplikatif.

Pukul kira-kira delapan lebih, dosen baru masuk. Aku mahfum, toh yang lebih mneyedihkan, masih saja ada mahasiswa yang lebih terlambat dari itu. Kado terindah hardiknas (kumaknai sebagai upaya menghardik naas di dunia pendidikan). Kami banyak membincang tentang pra anggapan hari ini, sedang celetukkanku soal praanggapan tentang dosen yang tumben masuk, membuat kelas riuh. Jelas, celetukkanku mengarah pada salah satu dosen kami, yang justru terasa aneh kalau ada pengumuman mata kuliah bersangkutan masuk :D

Well, kelas juga dipenuhi tentang para mantan di kelas kami, tentang pasangan yang hanya beberapa bulan jadian langsung putus, tentang pasangan lainnya yang kini hanya sebatas teman. Ah entahlah,,, aku curiga beberapa di antara mereka masih sangat menyimpan dengan rapat setiap rasa cinta. Bahkan guyonan tentang cinta mampu membuat wajah memerah bak kepiting rebus.. konyol.

Sebelum Duhur menjelang, aku melanjutkan tiga tesisku yang masih tercecer di lantai tiga perpustakaan pusat. Hari ini waktu edikit senggang, aku bisa bergurau dan menghack akun-akun facebook teman. Sekali lagi bahagia itu sederhana teman J

Tak ada yang menarik sepulang itu, kecuali semangkok kecil soto sapi dekat peternakan UGM. Harga soto empat ribu rupiah kupikir pertama kali melihat, adalah hal yang cukup fantastis. Bagaimana tidak itu sangat murah. Namun kekecewaan tertelan, ketika penjual hanya menghidangkan semangkuk cukup kecil (yang lebih mirip gelas), serta satu mangkok berisi dua irisan jeruk nipis. Betapa bedebahnya, tahu seperti itu, aku lebih memilih untuk membeli gado-gado atau semacamnya, aku benar-benar tak puas makan.

Sudah tinggalkan saja tentang makanan menyedihkan itu. Aku hanya rehat di kost tercinta selama sekian menit, itupun kuisi dengan online. Pukul satu aku sudah seperti dikejar-kejar petugas keamanan, aku harus gegas, kaena mata kuliah pelitian pendidikan menanti di kelas. Inilah dagelan tentang hardiknas sebenarnya terjadi. Kami diminta untuk membuat salah satu judul penelitian yang nantinya berorientasi pada pembuatan skripsi. Fakta mencengangkan terungkap, mereka memasukkan kata kendala dalam judul mereka. Kendala implementasi pembelajaran, kendala penerapan RPP, kendala evaluasi, kendala instrument, kendala penerapan kurikulum 2013. Semua serba kendala. Sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak lagi dan khusus tentang Hardiknas ini. Namun, kupikir nanti-nanti sajalh, sebab dalam hal kecil semacam proposal penelitian saja kita sudah bisa melihat potret suram pendidikan negeri ini. Maka, hari itu, kusimpulkan satu pernyataan bahwa “Pendidikan Penuh Kedala”.

Selamat menghardik naas pendidikan kawan.. J

About these ads