Judul                          : Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Novel                          : Ronggeng Dukuh Paruk

Nama Pengarang    : Ahmad Tohari

Penerbit                     : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun                         : 2011

Cetakan                      : kedelapan, Desember 2011

Jumlah halaman    : 408 halaman

Sinopsis:

Cerita ini dimulai dari penggambaran padukuhan Dukuh Paruk yang sedang mengalami kemarau panjang. Di sana hiduplah seorang anak perempuan bernama Srintil, dia mempunyai teman bernama Rasus. Dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan miskin dan masih terbelakang, sehingga cara berpikir masyarakat pun  masih primitif. Mereka sangat mengagungkan sesepuh mereka yang sudah meninggal dan mereka beri nama Ki Secamenggala.

Rasus dan Srintil sering bermain bersama. Dalam permainan itulah Srintil sering sekali menari Ronggeng diiringi dengan musik mulut oleh Rasus. Hal ini diketahui kakek Srintil yang bernama Kartareja. Kartareja sebagai sesepuh dukuh tahu benar bahwa hanya keturunan yang mendapatkan inang saja yang mampu menari Ronggeng dengan bagus. Untuk itulah, keesokan harinya dia menemui Sukarya, seorang dukun Ronggeng.

Baik Rasus maupun Srintil sebenarnya merupakan anak yatim piatu. Orang tua mereka meninggal dalam sebuah peristiwa yaitu keracunan tempe bongkrek. Berbeda dengan Srintil yang tak mempertanyakan kedua orang tuanya, Rasus mencoba bersikap kritis. Sebagai bocah berumur 14 tahun dia mencoba bersikap kritis tentang keberadaan ibunya. Hal ini terjadi, tak lain karena adanya kesimpangsiuran informasi yang dia dapatkan. Tak ada makam ibunya, nenek Rasus menyatakan bahwa ibunya dibawa oleh seorang mantri dan tidak kembali. Orang menyebut bahwa jasad ibunya dibedah untuk keperluan penelitian dan kuburnya tak diketahui, sementara anggapan lain menyatakan bahwa ibunya pergi bersama si mantri dan hidup bersama serta tak kembali. Hal inilah yang kemudian membuat dia terus mencari gambaran sosok ibu, yang dia pikir ada dalam diri Srintil.

Kembali kepada Srintil, dia memang senang dalam menari Ronggeng. Sukarya sebagai dukun Ronggeng tahu kemudian mengakui bahwa Srintil memang mendapat inang dari Ki Secamenggala. Dia menyambutnya dengan bersuka cita, karena sudah lama di Dukuh Paruk tidak terdengar irama calung dan juga Ronggeng.

Untuk menasbihkan Srintil sebagai Ronggeng yang sebenarnya, maka Sukarya mengadakan rangkaian upacara mulai dari memandikan Srintil di dekat makam ki Sacamenggala sampai upacara bukak klambu. Srintil menjadi sangat terkenal, semua orang ingin memanjakannya. Hal ini membuat perasaan Rasus menjadi lain. Dia merasa Srintil sudah menjadi milik umum. Perlahan-lahan gambaran emaknya pada diri Srintil semakin menghilang. Meski demikian Rasus masih selalu berusaha untuk tetap dekat dengan Srintil.

Suatu ketika dengan berbohong kepada neneknya, Rasus berhasil memberikan keris kepada Srintil, keris itu dinamakan Keris Kyai Jaran Guyang, salah satu keris yang mampu membuat pemakainya menjadi terkenal.  Dengan semakin tenarnya Srintil Rasus semakin resah, terlebih ketika acara bukak Klambu dilakukan.

Acara bukak klambu adalah acara yang mana keperawanan Srintil boleh direnggut oleh orang yang mampu memenuhi persyaratan yang dilontarkan oleh Sukarya. Ada dua orang yang berhasil memenuhi uang setara satu keping uang emas. Mereka berdua adalah Dower dan Sulam. Mereka berdua merasa sama-sama berhak untuk memerawani Srintil, namun dengan taktik licik Nyai Sukarya mereka berdua merasa telah merenggut keperawanan Srintil yang pertama. Padahal yang terjadi adalah Nyai Sukarya membuat mabok Sulam. Orang pertama yang menjalani bukak klambu adalah Dower, sementara Sulam teler. Begitu terbangun, dia diminta untuk memerawani Srintil sementara Dower tertidur selepas memerawani Srintil. Meski taktik ini berhasil namun ketika menjalani upacara bukak klambu sebenarnya Srintil sudah tidak perawan, karena dia sudah bersetubuh dengan Rasus. Rasus sendiri sebetulnya menolak, namun dia tidak kuasa.

Srintil sudah benar menjadi Ronggeng sekarang, sudah banyak lelaki yang menjamahnya. Terlebih setiap kali ke Pasar Dawuhan dia selalu menjadi bahan perbincangan. Rasus yang tak tahan, akhirnya memutuskan untuk keluar pedukuhan. Dia menetap di Pasar Dawuhan sebagai seorang pengupas ketela. Dia menumpang di lapak salah satu pedagang. Berada di Pasar Dawuhan, membuat dia mampu membuka mata, mampu melihat dunia secara lebih luas.

Pola pikirnya mengenai Srintil sebagai gambaran emaknya pun perlahan mengabur dan lenyap. Terlebih ketika datang kepadanya Sersan Slamet. Pertemuan tak sengaja itu kelak merubah jalan hidupnya. Diawali dengan bekerja sebagai pembantu dia kemudian diangkat menjadi orang kepercayaan Slamet. Terlebih setelah insiden dia menembak batu, dengan alasan batu itu sebagai simbol mantri yang membawa lari emaknya. Sersan Slamet mulai membolehkannya memanggul senjata, begitu pun setelah peristiwa itu berlalu kebencianya kepada emak mendadak surut.

Hingga suatu ketika terdengar kasak kusuk ada perampokan di Dukuh Paruk. Rasus ikut ambil bagian, bahkan kemudian dia dengan keberanian melumpuhkan dua orang perampok. Operasi in berhasil menyelamatkan Srintil, betapa bangganya dia. Hingga di suatu pagi, dia memilih diam-diam meninggalkan Srintil dan berjalan ke luar Pedukuhan.

Fakta Cerita:

Alur

Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur maju, namun untuk beberapa bagian terselip alur campuran. Hal ini bisa dibuktikan pada bagian ketika Rasus mengingat masa lalunya.

Tokoh dan Penokohan

Srintil:

  • Kenes atau kemayu. Hal ini dibuktikan pada petikan berikut “jari tangannya melentik kenes”, “mimik penagih birahi yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga diperbuat oleh Srintil pada saat itu”
  • Cerdik. Ini terlihat ketika dia tak mau diperawani oleh Dower dan Sulam, kemudian diam-diam menemui Rasus
  • Tulus. Hal ini terdapat dalam petikan “Srintil hanya ingin disebut sebagai perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya”

Sakarya:

  • Memegang teguh adat. Hal ini terlihat dari bagaimana Sakarya sangat percaya kepada Ki Secamenggala

Rasus:

  • Pendendam. Hal ini tercermin pada pendapatnya mengenai ibunya yang pergi dan ketika pelatuknya menembakkan peluru ke arah tiruan mantri kesehatan.
  • Kritis. Ini ditunjukkan ketika dia menyatakan pendapat dan menentang asal-usul kejadian tempe bongkrek, dia lebih mempercayai bahwa musibah itu terjadi karena sejenis bakteri, lantas berkaitan dengan emaknya dia juga selalu menanyakan kebenaran
  • Cerdas. Ketika dia memberikan pepaya kepada Srintil, namun Srintil lebih menginginkan jeruk keprok, namun dijawabnya bahwa jeruk keprok tidak baik untuk gigi Srintil yang baru saja dipangur.
  • Penuh kasih sayang. Ini terlihat dalam petikan “Kasihan, nenek tidak bisa banyak bertanya padaku. Linglung dia, tapi aku merangkulnya sambil berseru berulang-ulang menyebut namaku sendiri”
  • Idealis. Ini ditunjukkan dalam penggalan cerita ketika Srintil meminta Rasus berbuat mesum, namun demi mengingat emaknya Rasus menolak dan mengatakan alasan bahwa akan kualat bersetubuh di makam Secamenggala

Kartareja:

  • Matre. Ini dibuktikan setiap kali ada orang yang mendekati Srintil pasti dia meawarkan pembayaran yang cukup tinggi
  • Licik. Hal ini dibuktikan ketika malam bukak klambu, dia memperdaya Sulam agar dia dapat memperoleh pembayaran dari dua orang yang mengikuti upacara bukak klambu

Latar

Latar Tempat

  • Dukuh Paruk. Hal ini dibuktikan dengan petikan berikut “Dua puluh tiga rumah berada di pedukuhan itu, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Konon, moyang semua orang Dukuh Paruk adalah ki Secamenggala, ……”
  • Pasar Dawuan terlihat dari petikan berikut “Dawuan, tempatku menyingkir dari Dukuh Paruk, terletak di sebelah kota kecamatan. Akan terbukti nanti, pasar Dawuan merupakan tempat melarikan diri yang tepat.

Latar Waktu

  • musim kemarau dibuktikan dengan petikan berikut “Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang
  • Tahun 1946 terlihat pada petikan berikut “Seandainya ada seorang Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946. Di sini menggunakan teknik membayangkan kejadian yang terjadi 11 tahun yang lalu artinya ketika cerita itu diceritakan maka berlatar tahun 1957,
  • Tahun 1960 terlihat dari petikan “Tahun 1960 wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman. Perampokan dengan kekerasan senjata sering terjadi.

Latar Sosial

Terlihat dari petikan “Entah sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk. Kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit, serta sumpah serapah cabul menjadi bagiannya yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak bukit kecil di tengah Dukuh Paruk seakan menjadi pengawal abadi atas segala kekurangan di sana”

About these ads